Media Islam online untuk pemberitaan, syi'ar Islam, dakwah dan kajian.

Sunday, March 16, 2014

Terjemah Safinatunnaja Part 13

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-55, Jum'at 24 Januari 2014)

(Fasal Enam Puluh)
Syarat sah puasa ramadhan ada empat (4) perkara, yaitu:
1. Islam
2. Berakal
3. Suci dari haidh dan lainnya (seperti nifas dan wiladah)
4. Dalam waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa

فصل. شروط صحته أربعة أشياء : إسلام وعقل ونقاء من نحو حيض وعلم بكون الوقت قبلا للصوم .

(Fasal Enam Puluh Satu)
Syarat wajib puasa ramadhan ada lima perkara, yaitu:
1. Islam
2. Taklif (dibebankan untuk berpuasa)
3. Kuat berpuasa
4. Sehat
5. Iqamah (tidak bepergian)

فصل. شروط وجوبه خمسة اشياء : اسلام وتكليف وإطاقة وصحه وإقامة

Link : https://www.facebook.com/groups/fiqhmenjawab/permalink/449432255185950/

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-56, Ahad 26 Januari 2014)

(Fasal Enam Puluh Dua)
Rukun puasa ramadhan ada tiga perkara, yaitu:
1. Niat pada malamnya, yaitu setiap malam selama bulan Ramadhan.
2. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa ketika masih dalam keadaan orang yang sadar (dzkiran), bisa memilih atau tanpa paksaan (mukhtar), bukan orang yang bodoh, dan bukan termasuk orang yang terkena udzur (ma'dzur)
3. Orang yang berpuasa.

فصل. أركانه ثلاثة أشياء نية ليلا لكل يوم في الفرض وترك مفطر ذاكرا مختارا غير جاهل معذور وصائم

Link : https://www.facebook.com/groups/fiqhmenjawab/permalink/450431465086029/

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-57, Ahad 2 Februari 2014)

(Fasal Enam Puluh Tiga)
Diwajibkan mengqhadha puasa, kafarat yang besar dan hukuman agar jera (ta'zir) terhadap orang yang membatalkan puasanya di bulan Ramadhan satu hari penuh dengan sebab jimak (berhubungan badan) secara sempurna, dan juga akan menyebabkan dosa.
Selain wajib mengqadha puasa, juga wajib menahan makan dan minum (imsak) ketika batal puasanya pada enam tempat:
1. Dalam bulan Ramadhan bukan selainnya, terhadap orang yang sengaja membatalkannya.
2. Terhadap orang yang meninggalkan niat pada malam hari khusus untuk puasa fardlu.
3. Terhadap orang yang bersahur karena menyangka masih malam, ternyata diketahui bahwa fajar telah terbit.
4. Terhadap orang yang berbuka karena menduga Matahari sudah tenggelam, ternyata diketahui bahwa Matahari belum tenggelam.
5. Terhadap orang yang meyakini bahwa hari tersebut akhir Sya’ban tanggal tigapuluh, ternyata diketahui bahwa awal Ramadhan telah tiba.
6. Terhadap orang yang terlanjur meminum air dari kumur-kumur atau dari air yang dimasukkan ke hidung dengan sebab mubalaghah (banget-bangetake : jawa).

فصل. يجب مع القضاء للصوم الكفارة العظمى والتعزير على من أفسد صومه في رمضان يوما كاملا بجماع تام آثم به للصوم
ويجب مع القضاء الإمساك للصوم في ستة مواضع:الأول في رمضان لافي غيره على متعد بفطره، والثاني على تارك النية ليلا في الفرض، والثالث على من تسحر ظانا بقاء الليل فبان خلافة أيضا ، والرابع على من افطر ظانا الغروب فبان خلافه ايضا ، والخامس على من بان له يوم ثلاثين من شعبان أنه من رمضان ، والسادس على من سبقه ماء المبالغة من مضمضة واستنشاق

Link : https://www.facebook.com/groups/fiqhmenjawab/permalink/453789694750206/

File Dokumen Fiqh Menjawab

Terjemah Safinatunnaja Part 12

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-52, Senin 20 Januari 2014)

(Fasal Lima Puluh Tujuh)
Hukum isti’anah (meminta bantuan orang lain dalam bersuci) ada empat (4) perkara, yaitu:
1. Boleh
2. Khilaful Aula
3. Makruh
4. Wajib
Meminta bantuan yang diperbolehkan (mubah) yaitu meminta untuk mendekatkan air. Yang khilaf aula yaitu seperti meminta kepada orang lain untuk menuangkan air kepada orang yang berwudlu misalnya. Yang makruh yaitu ketika meminta kepada orang lain untuk membasuhkan anggota-anggotanya. Dan yang dihukumi wajib yaitu meminta menuangkan air bagi orang yang sakit ketika ia lemah (tidak mampu untuk melakukannya sendiri).

فصل. الإستعانات أربع خصال : مباحة وخلاف الأولى ومكروهه وواجبة فالمباحة هي تقريب الماء ، وخلاف الأولى هي صب الماء على نحو المتوضئ ،والمكروهه هي لمن يغسل أعضاءه ، والواجبة هي للمريض عند العجز

Link : https://www.facebook.com/groups/fiqhmenjawab/permalink/447726085356567/

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-53, Selasa 21 Januari 2014)


(Fasal Lima Puluh Delapan)
Harta yang wajib di keluarkan zakatnya ada enam macam, yaitu:
1. Binatang ternak.
2. Emas dan perak.
3. Biji-bijian (yang menjadi makanan pokok).
4. Harta perniagaan. Zakatnya yang wajib di keluarkan adalah 1/40 atau 2,5% dari harta tersebut.
5. Harta karun.
6. Hasil tambang.

فصل. الأموال التي تلزم فيها الزكاة ستة أنواع: النعم والنقدان والمعشرات وأموال التجارة ، وواجبها ربع عشر قيمة عروض التجارة والركاز والمعدن

Link : https://www.facebook.com/groups/fiqhmenjawab/permalink/448052811990561/

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-54, Rabu 22 Januari 2014)


(Fasal Lima Puluh Sembilan)
Puasa Ramadhan diwajibkan dengan salah satu ketentuan-ketentuan berikut ini:
1. Dengan sempurnanya bulan sya’ban 30 hari.
2. Dengan melihat bulan, bagi yang melihatnya sendiri walaupun seorang yang fasiq.
3. Dengan melihat bulan yang disaksikan oleh seorang yang adil di muka hakim.
4. Dengan mendengar kabar dari seseorang yang adil riwayatnya juga dipercaya kebenarannya, baik yang mendengar kabar tersebut membenarkan ataupun tidak, atau orang tersebut tidak dipercaya akan tetapi orang yang mendengar membenarkannya.
5. Dengan beijtihad meyakini masuknya bulan Ramadhan bagi orang yang meragukan dengan hal tersebut.

فصل. يجب صوم رمضان بأحد أمور خمسة : (أحدها ) بكمال شعبان ثلاثين يوما (وثانيها) برؤية الهلال في حق من رآه وان كان فاسقا (وثالثا) بثبوته في حق من لم يره بعدل شهادة (ورابعا) بإخبار عدل رواية موثوق به سواء وقع في القلب صدق أم لا أوغيره موثوق به إن وقع في القلب صدقه (وخامسها) بظن دخول رمضان بالإجتهاد فيمن اشتبه عليه ذلك

Link : https://www.facebook.com/groups/fiqhmenjawab/permalink/448540825275093/

File Dokumen Fiqh Menjawab

Terjemah Safinatunnaja Part 11

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-49, Jum'at 17 Januari 2014)

(Fasal Lima Puluh Satu)
Tempat saktah (disunnahkan berhenti sejenak sekira membaca subhanallah) pada saat shalat ada enam tempat, yaitu:
1. Antara takbiratul ihram dan do’a iftitah (doa pembuka sesudah takbiratul ihram)
2. Antara doa iftitah dan ta’awudz
3. Antara ta’awudz dan membaca fatihah
4. Antara akhir fatihah dan ta’min (mengucapkan amin)
5. Antara ta’min dan membaca surat (qur’an).
6. Antara membaca surat dan ruku’.

فصل. سكتات الصلاة ستة : بين تكبيرة الإحرام ودعاء الإفتتاح والتعوذ، وبين الفاتحة والتعوذ، وبين آخر الفاتحة وآمين ، وبين آمين والسوره ، وبين السورة والركوع

(Fasal Lima Puluh Dua)
Rukun-rukun yang diwajibkan di dalamnya tuma’ninah ada empat, yaitu:
1. Ketika ruku’
2. Ketika i’tidal
3. Ketika sujud
4. Ketika duduk antara dua sujud
Tuma’ninah adalah diam sesudah gerakan sebelumnya, sekira-kira semua anggota badan tetap (tidak bergerak) dengan kadar tasbih (membaca subhanallah).

فصل. الأركان التي تلزمه فيها الطمأنينة أربعة : الركوع والإعتدال والسجود والجلوس بين السجدتين .الطمأنينة هي : سكون بعد حركة بحيث يستقر كل عضو محله بقدر سبحان الله

Link : https://www.facebook.com/groups/fiqhmenjawab/permalink/446076278854881/

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-50, Sabtu 18 Januari 2014)

(Fasal Lima Puluh Tiga)
Sebab sujud sahwi ada empat, yaitu:
1. Meninggalkan sebagian dari ab’adhus shalat atau meninggalkan sebagian dari sebagian ab’adhus shalat.
2. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan (padahal ia lupa), jika dikerjakan dengan sengaja dan tidak membatalkan jika ia lupa.
3. Memindahkan rukun qauli (yang diucapkan) pada bukan tempatnya.
4. Mengerjakan rukun Fi’li (yang diperbuat) dengan menyerupai penambahan.

فصل. أسباب سجود السهو أربعة :الأول ترك بعض من أبعاض الصلاة أو بعض البعض ، الثاني فعل ما يبطل عمده ولايبطل سهوه إذا فعله ناسيا ، الثالث نقل ركن قولي إلى غير محله ، الرابع إيقاع ركن فعلي مع احتمال الزيادة .

(Fasal Lima Puluh Empat)
Ab’adusshalah (sunnah ab'ad) ada enam, yaitu:
1. Tasyahud awal
2. Duduk tasyahud awal.
3. Shalawat untuk nabi Muhammad saw ketika tasyahud awal.
4. Shalawat untuk keluarga nabi ketika tasyahud akhir.
5. Do’a qunut.
6. Berdiri untuk do’a qunut.
7. Shalawat dan Salam untuk nabi Muhammad saw, keluarga dan sahabat ketika do’a qunut.

فصل. أبعاض الصلاة سبعة : التشهد الأول وقعوده والصلاه على النبي صلى الله عليه وسلم فيه ، والصلاه على الآل التشهد الأخير، والقنوت ،والصلاة على النبي صلى الله علية وسلم وآله فيه

Link : https://www.facebook.com/groups/fiqhmenjawab/permalink/446543082141534/

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-51, Ahad 19 Januari 2014)

(Fasal Lima Puluh Lima)
Paling sedikitnya (sekurang-kurangnya) mengubur mayit adalah dalam lubang yang bisa menyembunyikan bau mayit dan bisa menjaganya dari binatang buas. Yang lebih sempurna adalah setinggi orang dan seluasnya, serta meletakkan pipi mayit di atas tanah. Dan wajib menghadapkannya ke arah qiblat.

فصل. أقل الدفن حفرة تكتم رائحته وتحرسه من السباع .وأكمله قامة وبسطة، ويوضع خده على التراب ويجب توجيهه إلى القبلة .

(Fasal Lima Puluh Enam)
Mayit boleh digali kembali, karena ada salah satu dari empat perkara, yaitu:
1. Untuk dimandikan apabila belum berubah bentuk.
2. Untuk menghadapkannya ke arah qiblat.
3. Untuk mengambil harta yang tertanam bersama mayit.
4. Wanita yang janinnya tertanam bersamanya dan ada kemungkinan janin tersebut masih hidup.

فصل. ينبش الميت لأربع خصال للغسل إذا لم يتغير ولتوجيهه إلى القبلة وللمال إذا دفن معه والمرأة إذا دفن جنينها وأمكنت حياته

Link : https://www.facebook.com/groups/fiqhmenjawab/permalink/447166305412545/

File Dokumen Fiqh Menjawab

Terjemah Safinatunnaja Part 10

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-46, Rabu 13 November 2013)

(Fasal Empat Puluh Enam)
Dalam kalimat tasyahud terdapat dua puluh satu tasydid, enam belas di antaranya terletak di kalimat tasyahud yang wajib di baca, dan lima yang tersisa dalam kalimat yang menyempurnakan tasyahud (yang sunah dibaca), yaitu:
1. Attahiyyat ; harakat tasydid terletak di huruf Ta.
2. Attahiyyat ; harakat tasydid terletak di huruf Ya.
3. Almubarakatusshalawat ; harakat tasydid di huruf Shad.
4. Atthayyibaat ; di huruf Tha.
5. Atthayyibaat ; di huruf Ya.
6. Lillaah ; di Lam jalalah.
7. Assalaam ; di huruf Sin.
8. A’laika ayyuhannabiyyu ; di huruf Ya.
9. A’laika ayyuhannabiyyu ; di huruf Nun.
10. A’laika ayyuhannabiyyu ; di huruf Ya.
11. Warohmatullaah ; di Lam jalalah.
12. Wabarakatuh, assalaam ; di huruf Sin.
13. Alainaa wa’alaa I’baadillah ; di Lam jalalah.
14. Asshalihiin ; di huruf Shad.
15. Asyhaduallaa ; di Lam alif.
16. Ilaha Illallaah ; di Lam alif.
17. Illallaah ; di Lam jalalah.
18. Waasyhaduanna ; di huruf Nun.
19. Muhammadarrasulullaah ; di huruf Mim.
20. Muhammadarrasulullaah ; di huruf Ra.
21. Muhammadarrasulullaah ; di huruf Lam jalalah.

(Fasal Empat Puluh Tujuh)
Sekurang-kurang kalimat shalawat nabi yang memenuhi standar kewajiban di tasyahud akhir adalah "Alloohumma sholliy ’alaa Muhammad".
(Adapun) Harakat tasydid yang ada di kalimat shalawat nabi tersebut ada di huruf “Lam” dan “Mim” di lafadz “Allahumma”. Dan di huruf “Lam”a di lafadz “Shalli”. Dan di huruf “Mim” di lafadz Muhammad.
(Fasal Empat Puluh Delapan)
Paling sedikitnya salam yang memenuhi standar kewajiban di tasyahud akhir adalah lafadz "Assalaamu’alaikum". Adapun Harakat tasydid yang ada di kalimat tersebut terletak di huruf “Sin”.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-47, Rabu 20 November 2013)

(Fasal Empat Puluh Sembilan)
Waktu-waktu shalat maktubah.
1. Waktu shalat Dzuhur.
Dimulai saat tergelincirnya matahari dari tengah-tengah langit ke arah barat dan berakhir ketika bayangan suatu benda menyamai ukuran panjangnya benda tersebut, kecuali bayangan di waktu istiwa'.
2. Waktu salat Ashar.
Dimulai ketika bayangan suatu benda melebihi sedikit dari ukuran panjang benda tersebut dan berakhir ketika matahari terbenam.
3. Waktu shalat Magrib.
Berawal ketika matahari terbenam dan berakhir dengan hilangnya awan (mego: jawa) atau sinar merah yang muncul setelah matahari terbenam.
4. Waktu shalat Isya
Diawali dengan hilangnya awan atau sinar merah yang muncul setelah matahari terbenam dan berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Yang di maksud dengan Fajar shadiq adalah sinar yang membentang dari arah timur membentuk garis horizontal dari selatan ke utara.
5. Waktu shalat Shubuh.
Di mulai dari munculnya fajar shadiq dan berakhir dengan terbitnya matahari.
Warna awan atau sinar matahari yang muncul setelah matahari terbenam ada tiga, yaitu: Awan merah, kuning dan putih.
Sinar merah muncul ketika mahgrib sedangkan sinar kuning dan putih muncul di waktu Isya.
Disunnahkan untuk menunda atau mangakhirkan shalat Isya sampai hilangnya sinar kuning dan putih.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-48, Rabu 27 November 2013)

(Fasal Lima Puluh)
Haram melakukan shalat yang tidak mempunyai sebab terdahulu atau sebab yang bersamaan (maksudnya tanpa ada sebab sama sekali, seperti shalat sunnat mutlaq) dalam beberapa waktu, yaitu:
1. Ketika matahari terbit sampai naik sekira-kira sama dengan ukuran tongkat atau tombak (waktu dluha).
2. Ketika matahari berada tepat ditengah tengah langit sampai bergeser kecuali hari Jum’at.
3. Ketika matahari kemerah-merahan sampai tenggelam.
4. Sesudah shalat Shubuh sampai matahari terbit.
5. Sesudah shalat Asar sampai matahari terbenam.

File Dokumen Fiqh Menjawab

Terjemah Safinatunnaja Part 9

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-41, Rabu 05 Juni 2013)

(Fasal Tiga Puluh Sembilan)
Syarat sah shalat Jum’at ada enam, yaitu:
1. Khutbah dan shalat Jum’at dilaksanakan pada waktu Dzuhur.
2. Sholat Jum’at tersebut dilakukan dalam batas desa.
3. Dilaksanakan secara berjamaah.
4. Jamaah Jum’at minimal berjumlah empat puluh (40) laki-laki merdeka, baligh dan penduduk asli daerah tersebut.
5. Dilaksanakan secara tertib, yaitu dengan khutbah terlebih dahulu, disusul dengan shalat Jum’at.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-42, Rabu 12 Juni 2013)

(Fasal Empat Puluh)
Rukun khutbah Jum’at ada lima, yaitu:
1. Memuji kepada Alloh atau membaca hamdalah pada dua khutbah (khutbah pertama dan khutbah kedua).
2. Bershalawat kepada Nabi Muhammad saw pada dua khutbah.
3. Wasiat taqwa kepada para jama’ah pada dua khutbah.
4. Membaca ayat al-Qur’an pada salah satu khutbah.
5. Mendo’akan seluruh umat muslim pada khutbah kedua.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-43, Rabu 19 Juni 2013)

(Fasal Empat Puluh Satu)
Syarat sah khutbah jum’at ada sepuluh, yaitu:
1. Bersih dari hadats kecil dan besar.
2. Pakaian, badan dan tempat bersih dari najis.
3. Menutup aurat.
4. Khutbah disampaikan dengan berdiri bagi yang mampu.
5. Kedua khutbah dipisahkan dengan duduk sebentar/ringan seperti tuma’ninah dalam shalat.
6. Kedua khutbah dilaksanakan dengan berurutan (nuli-nuli)
7. Khutbah dan sholat Jum’at dilaksanakan secara berurutan.
8. Kedua khutbah disampaikan dengan bahasa Arab.
9. Khutbah Jum’at didengarkan oleh 40 laki-laki merdeka, baligh serta penduduk asli daerah tersebut.
10. Khutbah Jum’at dilaksanakan dalam waktu Dzuhur.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-44, Rabu 26 Juni 2013)

(Fasal Empat Puluh Dua)
Kewajiban muslim terhadap saudaranya yang meninggal dunia ada empat perkara, yaitu:
1. Memandikan mayit.
2. Mengkafani mayit.
3. Menyolati mayit.
4. Mengubur mayit.

(Fasal Empat Puluh Tiga)
Cara memandikan seorang muslim yang meninggal dunia paling minimal (paling sedikit) adalah dengan membasahi seluruh badan mayit dengan air.
Adapun yang lebih sempurna adalah dengan membasuh qubul dan duburnya mayit, membersihkan hidung mayit dari kotoran, mewudhukan mayit, menggosoki badan mayiit dengan daun sidri (sabun) dan menyiram mayit tiga kali.

 (Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-45, Rabu 03 Juli 2013)

(Fasal Empat Puluh Empat)
Cara mengkafani mayit minimal yaitu dengan sehelai kain yang menutupi seluruh badan. Adapun cara yang sempurna bagi mayit laki-laki adalah menutup seluruh badannya dengan tiga helai kain, sedangkan untuk wanita yaitu dengan baju, khimar (penutup kepala), sarung dan 2 helai kain.

(Fasal Empat Puluh Lima)
Rukun shalat jenazah ada tujuh (7), yaitu:
1. Niat.
2. Empat kali takbir.
3. Berdiri bagi orang yang mampu.
4. Membaca Surat Al-Fatihah.
5. Membaca shalawat atas Nabi saw sesudah takbir yang kedua.
6. Membaca do’a untuk si mayit sesudah takbir yang ketiga.
7. Salam.

 File Dokumen Fiqh Menjawab

Terjemah Safinatunnaja Part 8

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-36, Rabu 01 Mei 2013)

(Fasal Tiga Puluh Empat)
Syarat menjadi ma'mum (syarat jama'ah) ada sebelas perkara, yaitu:
1. Ma'mum tidak mengetahui batalnya shalatnya imam dengan sebab hadats atau yang lainnya.
2. Ma'mum tidak meyakinkan bahwa imam adalah orang yang wajib mengqadha` shalat tersebut.
3. Imam tidak dalam keadaan menjadi ma'mum.
4. Imam tidak ummi (tidak fasih bacaanya).
5. Ma'mum tidak mendahului imam pada tempat berdirinya.
6. Ma'mum mengetahui gerak gerik perpindahan shalatnya imam.
7. Imam dan ma'mum berada dalam satu masjid (tempat) atau berada dalam jarak kurang lebih tiga ratus dzira'/hasta (144 m).
8. Ma'mum berniat mengikut imam atau niat jama`ah.
9. Shalatnya imam dan ma'mum harus sesuai.
10. Ma'mum tidak menyimpang dari imam dalam perbuata sunnah yang sangat berlainan atau berbeda sekali.
11. Ma'mum harus mengikuti perbuatan imam.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-37, Rabu 08 Mei 2013)

(Fasal Tiga Puluh Lima)
Gambaran berjamaah atau bermakmum itu ada sembilan, yang sah ada lima dan yang tidak sah ada empat. Berjamaah yang sah yaitu :
1. Laki-laki makmum pada laki-laki.
2. Perempuan makmum pada laki-laki.
3. Banci makmum pada laki-laki.
4. Perempuan makmum pada banci.
5. Perempuan makmum pada perempuan.

Berjamaah yang tidak sah yaitu :
1. Laki-laki makmum pada perempuan.
2. Laki-laki makmum pada banci.
3. Banci makmum pada perempuan.
4. Banci makmum pada banci.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-38, Rabu 15 Mei 2013)

(Fasal Tiga Puluh Enam)
Syarat jamak takdim (menggabung dua shalat diwaktu yang pertama) ada empat, yaitu:
1. Memulai dengan sholat yang pertama.
2. Niat jamak di sholat yang pertama.
3. Terus menerus (muwalah) antara sholat yang pertama dan sholat kedua.
4. Masih dalam kondisi udzur (dawamul 'udzur).

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-39, Rabu 22 Mei 2013)

(Fasal Tiga Puluh Tujuh)
Syarat jamak takhir (menggabung dua sholat dikerjakan di waktu sholat yang ke dua) ada 2, yaitu:
1. Niat jamak takhir pada waktu shalat yang pertama dalam waktu yang sekira masih mencukupi untuk mengerjakan shalat tersebut.
2. Udzurnya terus menerus sampai selesai waktu shalat kedua.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-40, Rabu 29 Mei 2013)

(Fasal Tiga Puluh Delapan)
Syarat Qashar (meringkas sholat dari 4 raka’at menjadi 2 raka’at) ada 7, yaitu:
1. Jarak perjalanan yang ditempuh sejauh dua marhalah atau lebih (80,640 km)
2. Perjalanan yang di lakukan adalah perjalanan yang mubah (bukan perjalanan ma’shiyat)
3. Mengetahui hukum kebolehan qashar.
4. Niat qashar ketika takbiratul `ihram.
5. Shalat yang di qasar adalah shalat ruba`iyah (sholat 4 roka’at).
6. Perjalanannya harus terus menerus sampai selesai shalat tersebut.
7. Tidak makmumkepada orang yang itmam (shalat yang tidak di qashar) dalam sebagian shalat nya.

File Dokumen Fiqh Menjawab

Terjemah Safinatunnaja Part 7

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-31, Rabu 30 Januari 2013)

(Fasal Dua Puluh Sembilan)
Disunatkan mengangkat kedua tangan ketika shalat pada empat tempat, yaitu:
1. Ketika takbiratul ihram.
2. Ketika akan ruku’.
3. Ketika akan i'tidal.
4. Ketika berdiri dari tasyahud awal.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-32, Rabu 03 Aprili 2013)

(Fasal Tiga Puluh)
Syarat sujud ketika sholat ada tujuh, yaitu:
1. Sujud dengan tujuh anggota.
2. Dahi terbuka (jangan terhalang oleh kopiah, jilbab dan sebagainya).
3. Menekankan dahi pada tempat sujud.
4. Tidak turun kecuali untuk sujud.
5. Tidak boleh sujud di atas sesuatu yang bergerak dengan gerakannya.
6. Meninggikan bagian punggung dan merendahkan bagian kepala.
7. Thuma’ninah pada saat sujud.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-33, Rabu 10 Aprili 2013)

(Fasal Tiga Puluh Satu)
Anggota sujud ada tujuh, yaitu :
1. Dahi atau jidat.
2. Bagian dalam dari telapak tangan kanan.
3. Bagian dalam dari telapak tangan kiri.
4. Lutut kaki kanan.
5. Lutut kaki kiri.
6. Bagian dalam jari-jari kanan.
7. Bagian dalam jari-jari kiri.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-34, Rabu 17 Aprili 2013)

(Fasal Tiga Puluh Dua)
Perkara yang membatalkan shalat ada empat belas, yaitu:
1. Berhadats, baik hadas kecil maupun besar.
2. Terkena najis, jika tidak dihilangkan seketika, tanpa dipegang tangan.
3. Terbuka aurat, jika tidak ditutup seketika.
4. Mengucapkan dua huruf atau satu huruf yang dapat difaham.
5. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa dengn sengaja.
6. Makan yang banyak sekalipun lupa.
7. Bergerak dengan tiga gerakan berturut-turut sekalipun lupa.
8. Melompat terlalu jauh.
9. Memukul dengan keras.
10. Menambah rukun fi’li (perbuatan) dengan sengaja.
11. Mendahului atau tertinggal dari imam dua rukun fi’li dengan sengaja.
12. Berniat akan membatalkan shalat.
13. Mensyaratkan atau menggantungkan berhenti shalat dengan sesuatu.
14. Ragu-ragu dalam membatalkan atau tidak membatalkan sholat.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-35, Rabu 24 Aprili 2013)

(Fasal Tiga Puluh Tiga)
Diwajibkan bagi seorang imam berniat menjadi imam terdapat dalam empat shalat, yaitu:
1. Shalat jum'at.
2. Shalat mu'adah (shalat yang diulang).
3. Shalat yang dinadzarkan berjama'ah.
4. Shalat jamak takdim sebab hujan.

 File Dokumen Fiqh Menjawab

Terjemah Safinatunnaja Part 6

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-26, Rabu 09 Januari 2013)

(Fasal Dua Puluh Empat)
Rukun sholat ada tujuh belas, yaitu:
1. Niat.
2. Takbirotul ihrom (mengucapkan Allahu Akbar).
3. Berdiri bagi yang mampu.
4. Membaca fatihah.
5. Ruku’.
6. Thuma’ninah (diam sebentar) ketika ruku’.
7. I’tidal.
8. Thuma’ninah ketika i’tidal.
9. Sujud dua kali.
10. Thuma’ninah ketika sujud.
11. Duduk diantara dua sujud.
12. Thuma’ninah ketika duduk.
13. Tasyahud akhir.
14. Duduk diwaktu tasyahud.
15. Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad saw.
16. Salam.
17. Tertib (berurutan sesuai urutannya).

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-27, Ahad 13 Januari 2013)

(Fasal Dua Puluh Lima)
Niat itu ada tiga derajat, yaitu:
1. Jika sholat yang dikerjakan adalah sholat fardhu, diwajibkan niat qasdul fi’li (mengerjakan shalat tersebut), ta’yin (nama sholat yang dikerjakan) dan fardhiyah (kefardhuannya).
2. Jika sholat yang dikerjakan adalah sholat sunnah yang mempunyai waktu atau mempunyai sebab, diwajibkan niat mengerjakan sholat tersebut dan nama sholat yang dikerjakan.
3. Jika sholat yang dikerjakan adalah sholat sunnah Mutlaq (tanpa sebab), diwajibkanlah niat mengerjakan sholat tersebut saja.
Yang dimaksud dengan qasdul fi’li adalah seperti ucapan "saya niat sholat", dan yang dimaksud ta’yin adalah seperti lafadz "dzuhur atau asar", adapun yang dimaksud fardhiyah adalah niat fardhu.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-28, Rabu 16 Januari 2013)

(Fasal Dua Puluh Enam)
Syarat takbirotul ihrom ada enam belas, yaitu:
1. Mengucapkan takbirotul ihrom tersebut ketika berdiri (jika sholat fardhu).
2. Mengucapkannya dengan bahasa Arab.
3. Menggunakan lafal “Allah”.
4. Menggunakan lafal “Akbar”.
5. Berurutan antara dua lafal tersebut.
6. Tidak memanjangkan huruf “Hamzah” dari lafal “Allah”.
7. Tidak memanjangkan huruf “Ba” dari lafal “Akbar”.
8. Tidak mentaysdidkan (mendobelkan/mengulang) huruf “Ba” tersebut.
9. Tidak menambah huruf “Wawu” berbaris atau tidak antara dua kalimat tersebut.
10. Tidak menambah huruf “Wawu” sebelum lafal “Allah”.
11. Tidak berhenti antara dua kalimat sekalipun sebentar.
12. Dua kalimat tersebut terdengar oleh diri sendiri.
13. Masuk waktu sholat tersebut jika mempuyai waktu.
14. Mengucapkan takbirotul ihrom tersebut ketika menghadap qiblat.
15. Tidak salah dalam mengucapkan salah satu dari huruf kalimat tersebut.
16. Takbirotul ihrom ma’mum harus dilakukan sesudah takbiratul ihrom dari imam.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-29, Rabu 23 Januari 2013)

(Fasal Dua Puluh Tujuh)
Syarat-syarat membaca surat al-Fatihah (di dalam sholat) ada sepuluh, yaitu:
1. Tertib (yaitu membaca surat al-Fatihah sesuai urutan ayatnya).
2. Muwalah (yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus).
3. Menjaga agar terbaca semua huruf dalam al Fatihah.
4. Menjaga agar terbaca semua tasydid dalam al Fatihah.
5. Tidak berhenti terlalu lama dan atau berhenti sebentar yang bertujuan memutuskan bacaan Fatihah.
6. Membaca semua ayat al-Fatihah. dan basmalah termasuk ayat dari al-Fatihah.
7. Tidak salah membacanya dengan kesalahan yang dapat merubah makna.
8. Memabaca surat al-Fatihah dalam keaadaan berdiri ketika sholat fardhu.
9. Bacaannya terdengar oleh dirinya (kecuali orang yang bisu dan tuli)
10. Tidak terselang oleh dzikir yang lain di tengah-tengah Fatihah.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-30, Ahad 27 Januari 2013)

(Fasal Dua Puluh Delapan)

Tasydid dalam al-fatihah ada empat belas, yaitu:
1. Bismillah, di atas huruf lam.
2. Arrahman, di atas huruf ra.
3. Arrahim, di atas huruf ra.
4. Alhamdu lillah, di atas huruf lam jalaalah.
5. Rabbil 'alamin, di atas huruf ba.
6. Arrahman, di atas huruf ra.
7. Arrahim, di atas huruf ra.
8. Maliki yaumiddin, di atas huruf dal.
9. Iyyaka na'budu, di atas huruf ya.
10. Wa iyyaka nasta'in, di atas huruf ya.
11. Ihdinash shirathal mustaqim, di atas huruf shad.
12. Shirathal ladzina, di atas huruf lam.
13 dan 14. An'amta 'alaihim ghairil maghdhubi 'alaihim waladhaallin, di atas huruf dhad dan lam.

 File Dokumen Fiqh Menjawab

Terjemah Safinatunnaja Part 5

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-21, Ahad 23 Desember 2012)

(Fasal Dua Puluh Satu)
Minimal waktu keluar darah haid itu sehari semalam atau 24 jam, dan pada umumnya selama 6 atau 7 hari, sedangkan paling lama adalah 15 hari 15 malam.
Minimal waktu suci antara dua haid adalah 15 hari, dan pada umumnya 24 atau 23 hari, sedangkan batas maksimalnya itu tidak ada.
Paling sedikit masa nifas adalah setetes atau sekejap mata, dan pada umumnya 40 hari, sedangkan paling lama adalah 60 hari.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-22, Rabu 26 Desember 2012)

(Fasal Dua Puluh Dua)
Udzurnya sholat itu hanya ada 2:
1. Tidur.
2. Lupa.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-23, Ahad 30 Desember 2012)

(Fasal Dua Puluh Tiga)
Syarat sahnya shalat ada delapan, yaitu:
1. Suci dari hadats besar dan kecil.
2. Sucinya pakaian, badan dan tempat dari najis.
3. Menutup aurat.
4. Menghadap kiblat.
5. Masuk waktu sholat.
6. Mengetahui rukun-rukan sholat.
7. Tidak meyakini bahwa diantara rukun-rukun sholat adalah sunnah.
8. Menjauhi semua yang membatalkan sholat.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-24, Rabu 02 Januari 2013)

Hadas ada dua macam yaitu: Hadas Kecil dan Hadas Besar.
Hadas kecil adalah hadas yang mewajibkan seseorang untuk berwudhu, sedangkan hadas besar adalah hadas yang mewajibkan seseorang untuk mandi.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-25, Ahad 06 Januari 2013)

Aurat ada empat macam, yaitu:
1. Aurat semua laki-laki (merdeka atau budak) dan budak perempuan ketika sholat yaitu antara pusar dan lutut.
2. Aurat perempuan merdeka ketika sholat, yaitu seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.
3. Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki lain (bukan muhrim), yaitu seluruh badan.
4. Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki muhrimya dan perempuan, yaitu antara pusar dan lutut.

 File Dokumen Fiqh Menjawab

Terjemah Safinatunnaja Part 4

(Ngaji ke-16, Ahad 02 Desember 2012)

(Fasal Lima Belas)
Syarat-syarat tayammum ada sepuluh, yaitu:
1. Dengan menggunakan tanah atau debu.
2. Debunya harus suci tidak terkena najis.
3. Bukan debu yang telah di pakai sebelumnya (musta'mal).
4. Debu yang digunakan tidak tercampur tepung atau sejenisnya.
5. Berniat menyengaja melakukan tayammum.
6. Mengusap wajah dan kedua tangannya dengan dua kali mengusap tanah.
7. Menghilangkan segala najis yang ada di badan terlebih dahulu.
8. Mencari arah kiblat terlebih dahulu dengan sungguh-sungguh sebelum memulai tayammum.
9. Sudah masuknya waktu shalat fardhu sebelum melakukan tayammum.
10. Tayamum sekali hanya mencukupi untuk melakukan sholat fardhu satu kali.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-17, Ahad 09 Desember 2012)

(Fasal Enam Belas)
Rukun-rukun tayamum ada lima, yaitu:
1. Memindah debu.
2. Niat.
3. Mengusap wajah.
4. Mengusap kedua tangan sampai siku.
5. Tertib antara dua usapan.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-18, Ahad 12 Desember 2012)

(Fasal Tujuh Belas)
Perkara yang membatalkan tayammum ada tiga, yaitu:
1. Semua perkara yang membatalkan wudhu’.
2. Murtad.
3. Melihat air atau manyangka adanya air, apabila bertayammum karena tidak ada air. Apabila tayamum dikarenakan sakita maka tidak batal.

(Fasal Delapan Belas)
Barang yang asalnya najis bisa menjadi suci itu ada tiga:
1. Khamer atau arak (air perasan anggur) apabila telah berubah menjadi cuka.
2. Kulit binatang yang disamak.
3. Sesuatu yang menjadi hewan walaupun asalnya dari najis, contohnya seperti belatung.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-19, Ahad 16 Desember 2012)

(Fasal Sembilan Belas)
Macam-macam najis ada tiga, yaitu:
1. Najis berat (Mughalladzoh), yaitu najisnya anjing dan babi atau hewan yang lahir dari salah satunya.
2. Najis ringan (Mukhafafah), yaitu najisnya air kencing bayi laki-laki yang belum makan selain air susu dan umurnya belum sampai dua tahun.
3. Najis sedang (Mutawasithoh), yaitu semua najis selain dari dua najis diatas.

(Ngaji Kitab Safinatunnaja ke-20, Rabu 19 Desember 2012)

(Fasal Dua Puluh)
Cara mensucikan najis:
- Najis berat (Mughaladzoh), mensucikannya dengan membasuh sebanyak tujuh kali setelah menghilangkan a'in atau bentuknya najis dan salah satu basuhannya dengan menggunakan debu.
- Najis ringan (Mukhafafah), mensucikannya dengan memercikkan air secara menyeluruh dan menghilangkan a'in atau bentuknya najis
- Najis sedang (Mutawasithoh) terbagi dua bagian, yaitu:
1. Najis 'Ainiyyah, yaitu najis yang masih nampak warna, bau, atau rasanya, maka cara mensucikan najis ini dengan menghilangkan warna, bau, atau rasanya najis tersebut.
2. Najis Hukmiyyah, yaitu najis yang tidak nampak warna, bau, atau rasanya, maka cara mensucikan najis ini cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis tersebut.

File Dokumen Fiqh Menjawab

Terjemah Safinatunnaja Part 3

(Ngaji ke-11, Rabu 14 November 2012)

(Fasal Sepuluh)
Fardunya mandi ada 2:
1. Niat.
2. Meratakan badan dengan air.

(Ngaji ke-12, Ahad 18 November 2012)

(Fasal Sebelas)
Syarat-syaratnya wudhu ada sepuluh, yaitu:
1. Islam.
2. Tamyiz (baligh dan berakal).
3. Suci dari haidh dan nifas.
4. Bersih dari segala sesuatu yang bisa menghalangi sampainya air ke kulit.
5. Tidak ada sesuatu pada satu anggota wudhu yang bisa merubah keaslian air.
6. Mengetahui hukum fardlunya wudhu.
7. Tidak berkeyakinan bahwa salah satu dari beberapa fardhunya wudhu dihukumnya sunnah.
8. Menggunakan air yg suci dan mensucikan.
9. Sudah masuk waktunya sholat
10. Terus-menerus (continue)
Dua syarat terakhir (no.9 dan 10) khusus bagi orang yang memiliki hadas langgeng (daimul hadas).

(Ngaji ke-13, Rabu 21 November 2012)

(Fasal Duabelas)
Yang membatalkan wudhu ada empat, yaitu:
1. Apabila keluar sesuatu dari jalan depan (qubul) ataupun jalan belakang (dubur), seperti angin dan lainnya, kecuali air mani.
2. Hilang akal seperti tidur dan sebagianya, kecuali tidur dalam keadaan duduk rapat bagian punggung dan pantatnya dengan tempat duduknya.
3. Bersentuhan antara kulit laki–laki dengan kulit perempuan yang sudah dewasa dan bukan muhrim serta tidak ada penghalang antara dua kulit tersebut seperti kain ataupun lainnya. (Mahrom yaitu orang yang haram dinikahi).
4. Menyentuh kemaluan orang lain maupun dirinya sendiri atau menyentuh tempat pelipis dubur dengan telapak tangan atau telapak jarinya.

(Ngaji ke-14, Ahad 25 November 2012)

(Fasal Tiga belas)
Larangan bagi orang yang berhadats kecil ada 4, yaitu:
1. Shalat, baik fardhu maupun sunnah.
2. Thowaaf
3. Menyentuh Al-Qur'an
4. Membawa Al Qur'an

Larangan bagi orang yang berhadats besar (junub) ada 6, yaitu:
1. Sholat.
2. Thowaaf.
3. Menyentuh Al-Qur'an.
4. Membawa Al Qur'an
5. Membaca Al-Qur`an.
6. Berdiam di masjid atau i'tikaf

Larangan bagi perempuan yang sedang haid atau nifas ada 10, yaitu:
1. Sholat.
2. Thowaaf.
3. Menyentuh Al-Qur'an.
4. Membawa Al Qur'an
5. Membaca Al-Qur`an.
6. Puasa, baik wajib maupun sunnah
7. Berdiam di masjid atau i'tikaf
8. Masuk ke dalam masjid sekalipun hanya untuk sekedar lewat takut akan mengotori masjid tersebut.
9- Thalaq atau cerai
10. Jimak atau bersenang-senang dengan isteri di antara pusar dan lutut.

(Ngaji ke-15, Rabu 28 November 2012)

(Fasal Empat Belas)
Sebab – Sebab yang membolehkan tayamum ada tiga, yaitu:
1. Tidak ada air untuk berwudhu`.
2. Sakit yang menyebabkan tidak boleh menggunakan air.
3. Ada air akan tetapi hanya mencukupi untuk minum manusia atau binatang yang dimuliakan (muhtaram).

Adapun orang atau hewan yang tidak dimuliakan (ghoir muhtaram atau halal dibunuh) itu ada enam macam, yaitu:
1. Orang yang meninggalkan sholat wajib.
2. Kafir Harbi (kafir yang memerangi orang Islam).
3. Murtad (keluar dari Islam).
4. Pezina dalam keadaan orang yang sudah menikah dengan sah (zina muhson)
5. Anjing yang buas (tidak mentaati pemiliknya atau tidak boleh dipelihara).
6. Babi.

File Dokumen Fiqh Menjawab

Terjemah Safinatunnaja Part 2

(Ngaji ke 6, Minggu 28 Oktober 2012)

(Fasal Lima)
Syarat-syarat bersuci dengan menggunakan batu (peper:jawa) ada delapan:
1. Dengan menggunakan 3 batu.
2. Bersihnya tempat yg akan disucikan
3. Najisnya tidak kering.
4. Najisnyaa tidak berpindah dari tempat awal.
5. Najisnya tidak terkena barang lain.
6. Najisnya tidak melewati shofhah (bagian luarnya dubur) dan hasafah (bagian depannya qubul laki-laki)
7. Najisnya tidak terkena air.
8. Batu yang digunakan harus batu yang suci.

(Ngaji ke 7, Rabu 31 Oktober 2012)

(Fasal Enam)
Rukunnya wudhu ada enam, yaitu:
1. Niat.
2. Membasuh muka
3. Membasuh kedua tangan sampai sikut.
4. Mengusap sebagian kepala.
5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.
6. Tertib atau sesuai urutan.

(Ngaji ke-8, Ahad 04 November 2012)

(Fasal Tujuh)
Niat adalah menyengaja melakukan suatu perbuatan dengan bersamaan melakukan perbuatan tersebut. Tempatnya niat ada di dalam hati. Adapun mengucapkan atau melafadzkan niat hukumnya adalah sunnah, dan waktunya niat (wudlu) adalah ketika pertama membasuh wajah.

Yang dimaksud tertib adalah tidak mendahulukan satu anggota terhadap anggota yag lain. (Mendahulukan yang harus didahulukan, mengakhirkan yang memang harus diakhirkan).

 (Ngaji ke-9, Rabu 07 November 2012)

(Fasal Delapan)
Air terbagi menjadi dua macam; Air yang sedikit. Dan air banyak.
Adapun air yang sedikit adalah air yang kurang dari dua kulah. Dan air yang banyak itu adalah air dua kulah atau lebih.

Air yang sedikit akan menjadi najis dengan sebab terkena najis air tersebut, sekalipun tidak berubah. Adapun air yang banyak maka tidak akan menjadi najis jika kejatuhan najis kecuali air tersebut berubah warna, rasa atau baunya.

(Ngaji ke-10, Ahad 11 November 2012)

(Fasal Sembilan)
Yang mewajibkan mandi ada enam perkara, yaitu:
1. Berhubungan atau memasukkan kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan perempuan.
2. Keluar air mani.
3. Mati.
4. Keluar darah haidh (datang bulan).
5. Keluar darah nifas (darah yang keluar setelah melahirkan).
6. Melahirkan (wiladah).

File Dokumen Fiqh Menjawab