Bidadariku, Izinkan Aku Menjadi Suaramu

Posted by Unknown on Tuesday, August 25, 2015 with No comments


Sejak dari awal, keluarga sang gadis sangat berkeberatan akan hubungannya dengan pemuda ini. Keluarga sang gadis mengatakan seputar latar belakang keluarga dan juga kasta dan jika gadis itu tetap bersama sang pemuda, maka seumur hidupnya ia akan menderita.

Karena tekanan keluarganya, sepasang muda-mudi ini sering sekali bertengkar. Meskipun sang gadis sangat mencintai pemuda itu, ia selalu bertanya pada sang pemuda, “Seberapa dalam cintamu padaku?”

Karena pemuda itu tidak pandai berkata-kata, masalah ini seringkali menyebabkan sang gadis jengkel. Dengan kejengkelan itu dan juga tekanan keluarganya, si gadis sering meluapkan kemarahannya pada kekasihnya. Baginya, kekasihnya itu hanyalah mengulur-ulur waktu dalam diamnya.

Selang beberapa tahun kemudian, pemuda itu akhirnya lulus dari studinya dan memutuskan untuk melanjutkan belajarnya ke luar negeri. Sebelum berangkat, pemuda itu berkata pada sang kekasih, “Aku memang tidak pandai berkata-kata. Tetapi yang aku tahu ialah aku mencintaimu. Jika kau mengizinkanku, aku akan menjagamu seumur hidupku. Dan untuk keluargamu, aku akan melakukan yang terbaik untuk membicarakannya bersama mereka. Maukah engkau menikah denganku?”

Si gadis setuju, dan dengan keputusan si pemuda, keluarga itu akhirnya menyerah dan menyetuui mereka untuk menikah. Jadi sebelum pemuda itu berangkat ke luar negeri, mereka bertunangan.

Si gadis bekerja, sementara sang pemuda di luar negeri, melanjutkan studinya. Mereka mengirimkan cinta mereka melalui email maupun telepon. Meskipun berat, mereka tidak pernah berpikir untuk menyerah.

Satu hari, ketika gadis itu sedang berangkat bekerja, ia tertabrak oleh sebuah mobil yang lepas kendali. Ketika ia tersadar, ia melihat orang tuanya berada di samping tempat tidurnya. Dia menyadari jika ia terluka parah. Karena melihat ibunya menangis, ia pun mencoba menenangkannya. Namun ia tahu bahwa yang bisa keluar dari mulutnya hanyalah desahan. Dia kehilangan suaranya.

Dokter bilang bahwa dampak pada otaknya telah menyebabkan gadis itu kehilangan suara. Mendengar orang tuanya, tetapi ia tidak bisa berkata apa-apa, ia pun patah semangat.

Selama di rumah sakit, di samping ia menangis tanpa suara, tetap saja hanya tangisan tanpa suara yang menemainya. Ketika pulang, semuanya nampak seperti biasa, kecuali dering telepon, yang selalu menusuk jantungnya setiap kali telepon berdering. Dia tidak ingin kekasihnya tahu hal itu. Ia tidak ingin membebani kekasihnya dan dia menulis surat padanya bahwa ia tidak ingin menunggu lebih lama lagi.

Dengan itu, sang gadis mengabaikan teleponnya. Sebaliknya, kekasihnya jutaan kali membalas dan melakukan panggilan telepon, tetapi yang bisa dilakukan oleh sang gadis hanyalah menangis dan menangis.

Orang tuanya memutuskan untuk pindah, berharap si gadis bisa melupakan semuanya dan berbahagia.

Dengan lingkungan yang baru, si gadis belajar bahasa isyarat dan memulai hidup baru, memberitahu dirinya sendiri bahwa ia harus melupakan kekasihnya.

Satu hari, salah satu sahabatnya datang dan memberitahu bahwa kekasihnya sudah pulang. Ia minta temannya itu untuk tidak memberitahu apa yang telah terjadi padanya. Semenjak itu, tidak ada lagi kabar tentang pemuda itu.

Setahun telah berlalu dan kawannya datang dengan sebuah amplop yang berisi undangan pernikahan sang pemuda. Hancurlah hati sang gadis.

Ketika dia membuka surat itu, dia melihat namanya tertuang di dalamnya.

Saat ia hendak bertanya pada temannya apa yang telah terjadi, ia melihat sang pemuda berdiri di depannya. Ia menggunakan bahasa isyarat memberitahu, “Aku telah menghabiskan waktu setahun untuk belajar bahasa isyarat. Aku ingin memberitahumu bahwa aku tidak lupa pada janjiku. Izinkan aku mendapatkan kesempatan menjadi suaramu. Aku mencintaimu.”
Categories: