Kapan Kita Qurban?

Posted by Nasyit Manaf on Saturday, August 29, 2015 with No comments
Seorang ibu datang memperhatikan hewan daganganku. Dari penampilannya sepertinya lbu tidak akan mampu membeli, saya mencoba untuk menghampiri dan menawarkan kepadanya,

“Silahkan Bu…”,

Lantas lbu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya, ”kalau yang itu berapa?”.

“Yang itu sejuta setengah Bu,” jawab saya.

“Harga pasnya berapa Mas?”, tanya kembali si Ibu.

“1,3 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah..."

“Tapi, uang saya hanya 1000, boleh...?”, pintanya.

Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya. Akhirnya saya berembug dengan teman, sampai akhirnya diputuskan diberikan saja dengan harga itu kepada lbu tersebut.

Saya pun mengantar hewan qurban tersebut sampai ke rumahnya, begitu tiba di rumahnya, saya merasa kaget melihat keadaan rumah lbu itu.

Rupanya lbu itu hanya tinggal bertiga, dengan lbunya dan anaknya di rumah gubug yang terlihat hampir roboh dan berlantai tanah.

Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.

Di atas dipan, tertidur seorang Nenek tua kurus.

“Mak…..bangun Mak, nih lihat saya bawa apa?”, kata lbu itu pada Nenek yang sedang rebahan sampai akhirnya terbangun.

“Mak, saya sudah belikan Emak kambing buat qurban, nanti kita antar ke Masjid ya Mak….”, kata lbu itu dengan penuh kegembiraan.

Sang Nenek sangat terkaget dan nampak bahagia, sambil mengelus-elus kambing, Nenek itu berucap.

“Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau Emak mau berqurban”.

“Nih Mas, uangnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya buruh serabutan di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama lbu saya.”, kata lbu itu.

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa ...

“Ya Allah…, Ampunilah dosa hambaMu, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan iman-nya begitu luar biasa”.

“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu.

”Gak usah bu, terima kasih. Ongkosnya biar buat ibu saja.", kata saya, sambil pamit.

Saya cepat pergi sebelum lbu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena bahagia, tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukanku dengan hambaNya yang begitu mulia, dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.

Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi, apalagi kekuasaan.

Kita bisa belajar keikhlasan untuk menggapai kemuliaan hidup.

Berapa banyak di antara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada kengganan untuk bersodaqoh, padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun kebutuhan sekunder lain, yang menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban.

Namun selalu kita bersembunyi di balik kata...
"Tidak mampu atau Tidak dianggarkan".

Semoga tahun ini, kita semua bisa berqurban, karena qurban tidak harus menunggu kaya. Aamiin.

Categories: