Media Islam online untuk pemberitaan, syi'ar Islam, dakwah dan kajian.

Monday, November 30, 2015

Pantang Menyerah

Seekor kuda terperosok ke dalam sumur yang sudah kering. Karena sudah tidak mungkin menolong kuda tersebut, maka orang-orang di kampung memutuskan untuk menutup sumur itu. Mereka ingin mengubur kuda itu hidup-hidup supaya bangkainya tidak mengganggu dan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Merekapun bergotong royong mengangkut tanah dan memasukkannya ke dalam sumur. Lalu, apa yang terjadi? Setiap ada tanah yang mengena punggungnya, kuda itu selalu membuangnya ke bawah lalu memindahkan kakinya ke atas tanah tersebut. Semakin tinggi tanah menutupi sumur, maka semakin tinggi pula posisi kuda itu. Sehingga akhirnya ia bisa keluar dari sumur dengan selamat.
Pesan Moral Ke 1:
Begitulah gambaran kita dalam hidup ini. Ketika perjalanan hidup melemparkan beban dan masalah ke punggung kita, maka kesampingkanlah lalu berdirilah dengan kokoh di atasnya, maka suatu saat nanti semua itu akan menaikkan posisi kita ke puncak.
Pesan Moral Ke 2:
Ketika orang-orang meremehkanmu, menghinamu bahkan berusaha menjatuhkanmu... mencelakaimu... justru upaya itu berbalik memberi keberuntungan kepadamu yang terus berjuang, bertahan dan pantang menyerah.

Allah Swt. berkali-kali mengingatkan kita dalam firmanNya agar kita selalu semangat dan selalu pantang menyerah atas ujian dan cobaan hidup yang menimpa diri kita.

“Sesungguhnya setelah  kesulitan itu pasti ada kemudahan” ( Al Insyirah: 4)
“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain dari-Nya. Hanya kepada-Nya aku bertawakal.” (At-Taubah: 129)
“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi darjatnya jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali-Imran:139)
“ …dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir” (Yusuf : 12)

Sabda Rasulullah Saw. :

“Tiada seorang Muslim yang menderita kelelahan atau penyakit, atau kesusahan hati, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan semua kejadian itu akan menjadi penebus dosanya.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim) 

NEVER GIVE UP!!

Abah Anom; Gus Dur Ditalqin Langsung Oleh Syekh Abdul Qadir Jailany

Gus Dur mencium tangan Abah Anom
Dikisahkan dalam sebuah lawatan ke Baghdad, Irak, Gus Dur yang memiliki kegemaran berkunjung ke makam-makam ulama dan waliyullah, juga berkunjung ke makam Syekh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. Dalam keadaan antara sadar dan tertidur, Gus Dur didatangi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. dan Beliau mentalqin Gus Dur. Dalam tarekat, talqin bukan sekedar pembelajaran dzikir, tetapi juga merupakan pengakuan seseorang sebagai murid tarekat dari tarekat yang dianut pentalqin. Dengan demikian, pada talqin dzikir yang dilakukan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. Gus Dur telah resmi menjadi pengikut tarekatnya. Setelah kembali ke Indonesia, Gus Dur berkesempatan untuk silaturrahim ke Syekh Shohibul Wafa Tajul Arifin yang akrab dipanggil Abah Anom, Mursyid Tarekat Qadiriyiah Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya. Gus Dur meminta untuk ditalqin oleh Abah Anom, tetapi Abah Anom mengatakan bahwa Gus Dur tidak perlu ditalqin lagi karena sudah ditalqin oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. Cerita ini populer di kalangan murid TQN Suryalaya, baik yang langsung menyaksikan peristiwa ini ataupun tidak. Demikianlah Gus Dur, sosok yang telah mengetahui bahwa seorang muslim haruslah bertarekat, menempuh suluk dengan berguru kepada guru-guru rohani, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Terlebih bagi seseorang yang mempunyai posisi penting dan diamanahkan untuk memimpin umat dan bangsa ini seperti dirinya. Gus Dur sudah sampai pada maqam yang membuktikan bahwa orang-orang shalih, para syuhada, para kekasih Allah, mereka tidak mati; yang mati hanya jasadnya, tetapi ruhnya tetap hidup. Hanya kepada orang-orang yang memiliki akhlak dan kecintaan kepada para kekasih Allah inilah, mereka dapat saling berkomunikasi dan memberikan ilmu, bimbingan dan nasehat. Maka inilah yang harusnya ditiru oleh umat Islam, khususnya para pemimpinnya. Sumber: Nerashuke.blogspot.com

Janji Seorang Suami



Istriku...
Ketika pertama kali kuikatkan niat hatiku dengan keberanian untuk meminangmu, menjadikan dirimu bagian dari diriku,
Maka ketika itu pula telah kumantapkan dalam hatiku bahwa kaulah yang kupilih untuk mendampingiku menjalani hidupku.

Istriku...
Ketika hari itu aku mengucapkan ikrar pernikahan, menyebutkan jumlah aku menebusmu,
Aku tahu sejak itulah aku harus mampu menjadi seorang yang bertanggung jawab penuh kepadamu,
Bahwa aku sekarang yang mengambil posisi ayahmu sebagai pelindungmu, posisi ibumu sebagai curahan hatimu.

Istriku...
Sungguh aku ingin menjadikanmu bagai Khadijah,
Yang mendapat curahan hati dari Sang Tauladan.
Sungguh aku ingin menjadikanmu seperti Khadijah,
Yang tak ada dua sampai akhirnya engkau harus tiada.
Percayalah istriku, kau wanita dari ketika aku meminang, mengikatkan niat dan keberanianku.

Istriku...
Terima dan pahamilah segala kekurangan dan kelebihanku, dan akupun akan menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirimu.
Karena hakikat pernikahan itu saling melengkapi kekurangan dan kelebihan dua insan ketika bersatu.

Istriku...
Bismillahi tawakaltu 'alallah, kita mulai lembaran hidup baru.
Menanti calon mujahid dan mujahidah yang akan Allah titipkan di rahimmu.

Bersabarlah wahai istriku...
Ketika keadaan mendadak berubah tak seperti biasa.
Engkau tahu jalan hidup tak selamanya sesuai dengan harapan.
Tak selamanya kebahagiaan akan kita rasa. 
Kadang kesedihan dan putus asa pasti menghampiri.
Karena Allah telah menuliskan semuanya.

Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman:
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." (QS. Al-Hadiid : 22-23)

Ketika engkau mulai merasa lelah dan bimbang, datang dan bersandarlah di pundakku.
Agar dapat kukisahkan lagi sirah Nabi dan Khadijah yang dapat menyemangatimu.
Dan bisa kulihat lagi senyum manis di wajahmu. 
Karena senyuman adalah lengkungan yang dapat meluruskan segalanya.

Semoga rumah tangga kita Sakinah Mawaddah Wa Rahmah.

Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin

Akhlak Lebih Mulia Daripada Ilmu

Hujjatul Islam al Imam al-Ghazali di dalam kitab Ihya’ Ulumiddin menyatakan bahwa budi pekerti yang baik (akhlakul karimah) bisa terbentuk dari tiga faktor, yaitu:
1. Watak (thob’an)
Watak manusia asal mulanya terbentuk dari bawaan sejak lahir (fitrah) atau turunan kedua orang tuanya. Dalam hal ini, orang tua sangat berperan dalam pembentukan karakter seorang anak. Pepatah mengatakan,”buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Maksudnya, watak seorang anak tidak akan berbeda jauh dari orang tuanya.

2. Kebiasaan (i’tiyadan)
Ketika seseorang melakukan kebiasaan yang baik, maka orang tersebut akan mempunyai akhlak yang baik juga. Sebaliknya, jika melakukan kebiasaan yang tidak baik, akhlak orang tersebut juga tidak baik. Sebuah maqolah mengatakan:

اَلْعَادَةُ إِذَا غَرِزَتْ صَارَتْ طَبِيْعَةً
“Kebiasaan yang dilakukan terus menerus akan menjadi sebuah watak (karakter).”
3. Pembelajaran (ta’alluman)
Akhlak seseorang dapat terbentuk dengan siapa dia berteman dan berinteraksi. Apabila ia berinteraksi dengan orang yang baik, ia akan menjadi baik. Begitu juga sebaliknya, karena ia akan mendapat pembelajaran dari orang-orang yang ada di sekelilingnya, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada karakeristik orang tersebut.

Sunday, November 29, 2015

Habib Abdul Qadir Bilfaqih Al-Alawy; Ulama Ahli Hadits Indonesia

Di Kota Bunga, Malang, Jawa Timur, ada seorang auliya’ yang terkenal karena ketinggian ilmunya. Ia juga hafal ribuan hadits bersama dengan sanad-sanadnya.

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.

Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”

Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.

Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.

Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.

Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.

Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”

Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.

Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.

Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.

Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.

Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.

Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.

Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.

Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”… Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.

Diringkas dari manakib tulisan Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengajar Ponpes Darul Hadits Malang, Jawa Timur

Sumber: ahlussunahwaljamaah.wordpress.com

Bahaya Berfatwa Agama Tanpa Ilmu

Akhir zaman ini banyak orang-orang yang belum mumpuni ilmu agama Islam sudah berani menghukumi suatu masalah berdasarkan pemikiran mereka sendiri yang mereka dapatkan dari terjemahan satu-dua hadits Nabi tanpa memandang kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh para Ulama terdahulu. Padahal keilmuan orang-orang pada zaman akhir (kurun setelah Imam empat madzhab) sangat jauh dibanding para ulama terdahulu, orang-orang sekarang banyak yang tidak fair dalam menggunakan hadits, semangat dalam berfatwa hanya dengan beberapa hadits tapi mengabaikan hadits-hadits lain yang jauh lebih harus dipertimbangkan. Hafal satu dua hadits saja sudah berikrar menjadi ustadz dan berani membid’ahkan suatu golongan mayoritas. Padahal Kalau kita lihat sejarah para Ulama Salaf, mereka hafal ratusan ribu hadits akan tetapi mereka tetap bermadzhab dan menghukumi masalah berdasarkan ijtihad Imam Madzhab. Jauh-jauh hari para Ulama sudah memperingatkan kepada Umat untuk berhati-hati dalam menyampaikan ajaran agama Islam, salah satunya yang disampaikan dalam Kitab Bughyatul Musytarsyidin Berikut Ini: ـ (مسألة: ك): شخص طلب العلم، وأكثر من مطالعة الكتب المؤلفة من التفسير والحديث والفقه، وكان ذا فهم وذكاء، فتحكم في رأيه أن جملة هذه الأمة ضلوا وأضلوا عن أصل الدين وطريق سيد المرسلين ، فرفض جميع مؤلفات أهل العلم، ولم يلتزم مذهباً، بل عدل إلى الاجتهاد، وادّعى الاستنباط من الكتاب والسنة بزعمه، وليس فيه شروط الاجتهاد المعتبرة عند أهل العلم، ومع ذلك يلزم الأمة الأخذ بقوله ويوجب متابعته، فهذا الشخص المذكور المدَّعي الاجتهاد يجب عليه الرجوع إلى الحق ورفض الدعاوى الباطلة، وإذ طرح مؤلفات أهل الشرع فليت شعري بماذا يتمسك؟ فإنه لم يدرك النبي عليه الصلاة والسلام، ولا أحداً من أصحابه رضوان الله عليهم، فإن كان عنده شيء من العلم فهو من مؤلفات أهل الشرع، وحيث كانت على ضلالة فمن أين وقع على الهدى؟ فليبينه لنا فإن كتب الأئمة الأربعة رضوان الله عليهم ومقلديهم جلّ مأخذها من الكتاب والسنة، وكيف أخذ هو ما يخالفها؟ ودعواه الاجتهاد اليوم في غاية البعد كيف؟ وقد قال الشيخان وسبقهما الفخر الرازي: الناس اليوم كالمجمعين على أنه لا مجتهد، ونقل ابن حجر عن بعض الأصوليين: أنه لم يوجد بعد عصر الشافعي مجتهد أي: مستقل، وهذا الإمام السيوطي مع سعة اطلاعه وباعه في العلوم وتفننه بما لم يسبق إليه ادعى الاجتهاد النسبي لا الاستقلالي، فلم يسلم له وقد نافت مؤلفاته على الخمسمائة، وأما حمل الناس على مذهبه فغير جائز، وإن فرض أنه مجتهد مستقل ككل مجتهد ـ اهـ بغية المسترشدين ص ٦ المرجع الأكبر "Ada orang orang yang pandai dan cerdas, banyak mempelajari kitab kitab karangan ulama salaf, baik itu tafsir, hadits, maupun ilmu fiqih, kemudian menghukumi suatu masalah dengan pendapatnya sendiri, maka orang yang seperti ini adalah orang yang sesat dan menyesatkan yang justru menjauhkan dari pokok agama yang benar dan jalan Pemimpin para Rasul yaitu Nabi Muhammad Saw. Mereka menolak kitab-kitab ulama salaf yang yang notabene adalah ahli ilmu, mereka menyuarakan tentang tidak wajibnya bermadzhab dan mengarahkan kepada pemahaman agama dari hasil ijtihadnya sendiri, mereka mengaku beristinbath(menggali Hukum) langsung kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman sendiri, sedang mereka tidak memenuhi kriteria syarat syarat berijtihad yang sudah masyhur bagi ahli ilmu, mereka mewajibkan masyarakat untuk mengikuti hasil ijtihad mereka. Maka untuk orang orang yang seperti diatas (yang mengaku ngaku berijtihad langsung/ menggali hukum langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah) wajib atas mereka bertaubat dan kembali kepada jalan kebenaran (sesuai pemahaman mayoritas ulama salaf) dan masyarakat wajb menolak ajakan mereka yang bathil. Apabila kitab-kitab karangan para ulama salaf dikesampingkan (tidak dipakai), maka dengan apa seseorang memahami agama ini yang selanjutnya dipakai untuk pedoman hidup? Padahal dia tidak bertemu langsung dengan Nabiyyuna Muhammad SAW, juga tidak bertemu dengan para Sahabat Nabi. Bila kebetulan dia mempunyai suatu kitab karangan ulama salaf lalu dia mempelajarinya sendiri, lalu dalam proses memahami kitab tersebut dia salah pemahaman, maka kepada siapa dia akan minta petunjuk untuk membenarkan pemahamannya? Silakan jelaskan kepada kami! Sesungguhnya kitab-kitab karya para Imam Agung empat Madzhab dan para ulama yang taqlid (mengikuti) kepada mereka, sumbernya adalah Al-Qur'an dan Sunnah. Bagaimana proses ijtihadnya sehingga menyelisihi pendapat-pendapat mereka? Kenapa mereka yang saat ini mengaku berijtihad langsung dan kembali kepada Al-Qur'an da Sunnah menghasilkan pendapat dan pemikiran yang sangat jauh dari para Imam Madzhab yang empat di atas ? Berkata Al-Imam Asy-Syaikhoni dan pendahulu mereka Al-Imam Al-Fakhrur Rozi: 'Orang-orang zaman sekarang ini ibarat perkumpulan banyak orang hanya saja tidak ada mujtahid di dalamnya.' Syaikh Ibnu Hajar menuqil fatwa dari sebagian para Ahli Ushuluddin: 'Sesungguhnya setelah kurun masa Imam Syafi'i tidak ditemukan lagi seorangpun yang mencapai derajat mujtahid mustaqil (Mujtahid yang menggali langsung Al-Qur'an da Sunnah).' Contoh terdekat, Imam As-Suyuthi yang dikenal luas ilmunya dan mengusai berbagai fan ilmu, beliau berijtihad dengan nisbi (mengikuti pendapat dari Imam Syafi'i), bukan seorang mujtahid mustaqil, kenapa beliau tidak berani? padahal kitab kitab karangan beliau sangat banyak, tidak kurang dari 500 (lima ratus) kitab . Sesungguhnya orang-orang yang menggali hukum sendiri seperti layaknya seorang mujtahid mustaqil dan menganggap hasil ijtihad mereka benar, hal itu tidak diperbolehkan, walaupun mereka memastikan bahwa mereka adalah seorang mujtahid mustaqil, seperti layaknya mujtahid zaman dahulu." Bughyatul Mustarsyidin Agar tidak menimbulkan pemahaman dan praktek ajaran agama yang berbeda maka mempelajari agama haruslah berguru dengan orang yang paham masalah agama (ulama dan kyai). Hal ini karena ketika memahami agama meskipun dengan berpedoman langsung dengan Al Qur'an dan Hadis akan tetapi penafsirannya belum tentulah pas dan tepat sesuai substansi atau isi dari dalil tersebut. Ketika ayat maupun hadis tersebut adalah hal yang tanpa butuh penafsiran maka itu mungkin tidak bermasalah dan berbahaya. Akan tetapi banyak sekali ayat Al Qur'an atau hadis yang membutuhkan penafsiran dalam memahaminya. Dan hal itu oleh para Ulama terdahulu dijelaskan detail dalam kitab-kitab karya mereka, sehingga sebenarnya kita sudah dipermudah dengan tinggal mempelajari kitab-kitab tersebut yang sudah mudah untuk dipahami bagi yang mau membacanya. Apalagi jika kapasitasnya untuk berfatwa sebagai ustadz atau lainnya, ketika pemahaman terhadap agama sejak awalnya sudah salah kemudaian diajarkan dan berfatwa terhadap ajaran yang salah maka hal tersebut sangatlah berbahaya sebagaimana hadis Rasulullah Saw: إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain." (HR. Bukhari Muslim) Sumber: http://www.ngaji.web.id/

Saturday, November 28, 2015

Doa Untuk Janin Saat Dalam Kandungan

Berikut Doa Untuk Janin Dalam Kandungan untuk ibu hamil untuk mendoakan janin/bayi/anak dalam kandungannya. Doa Doa Untuk Janin Dalam Kandungan ini dapat dibaca kapan saja utamanya setelah shalat lima waktu.

Sebelum membaca Doa Untuk Janin Dalam Kandungan tersebut, diawali dengan Basmalah, Hamdalah dan Shalawat, dianjurkan shalawat berikut dibaca tiga kali;

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

(ALLAHUMMA SHOLLI ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN TIBBIL QULUBI WADAWAIHA, WA’AFIYATIL ABDANI WASYIFA’IHA, WA NURIL ABSHORI WADLIYAIHA, WA ‘ALA AALIHI WASHOHBIHI WA SALLIM)

“Ya Allah curahkanlah rahmat kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, sebagai obat hati dan penyembuhnya, penyehat badan dan kesembuhannya dan sebagai penyinar penglihatan mata beserta cahayanya. Semoga sholawat dan salam tercurahkan pula kepada keluarga serta para shahabat-shahabatnya.”

Doa Untuk Janin Dalam Kandungan yang di baca oleh sang Ibu

اَللهُمَّ اجْعَلْهُ مُسْلِمًا صَاِلحًا عَابِدًا ذَاِكرًا حَاِفظًا ِللْقُرْاَنِ الكَرِيم وَِممَنْ يَعْمَلُوْنِ ِبِه, اللهم اجْعَلْهُ بَارًّا بِوَاِلدَيْهِ وَأهْلِهِ, اللهم حَسِّنْ خَلْقَهُ وَخُلَُقَهُ, اللهم أَعِذْهُ ِمنْ شَيَاطِينِ الأِنْسِ وَاِلجنِّ, اللهم سَهِّلْ وَيَسِّرْ َحمْلَهُ ووَلادَتَهُ, اللهم أَقِرُّ عَيْني بِهِ, اللهم ارْزُقِْني وَلَدًا وَاجْعَلْهُ تَقِيًّا ذَكِيًا, وَاجْعَلْهُ سَلِيْمًا مُعَافىً وَلاَ َتجْعَلْ في خَلْقِهِ زِيَادَةً وَلاَ نُقْصَانًا, وَاجْعَلْ عَاِقَبتَهُ إِلىَ الخَير, اللهم اَصْلِحْ ِلي ذَاتِي وَذُرِّيَتي, اللهم اسْتَوْدَعْتُكَ هَذَا الجَنِينَ فَحَسِّنْ في خَلْقِهِ وَأخْلاِقهِ يَا رب العالمين, اللهم اِنِّي اَسْألُكَ هَوْنَ الطَلْق وَحُسّْنَ الخَلْقِ

Teks latin:
Allahummaj’alhu muslimah shalihan ‘abidan dzakiran hafidzan lilqur’an alkarim wa mimman ya’maluna bihi.
Allahummaj’alhu barran biwalidaihi wa ahlihi
Allahumma hassin khalqahu wa khuluqahu
Allahumma a’idzhu min syayatinil insi wal jinni
Allahumma sahhil wa yassir hamlahu wawaladatahu
Allahumma aqirra ‘aini bihi
Allahummarzuqni waladan waj’alhu taqiyyan dzakiyyan
Waj’alhu saliman mu’afan wala taj’al fi khalqihi ziyadatan wala nuqshanan waj’al ‘aqibatahu ilal khair
Allahumma aslih li dzati wa dzurriyyati
Allahummma istauda’tuka hadzal janina fahassin fi khalqihi wa akhlaqihi ya rabbal alamin
Allahumma ini as’aluka hawnat talq wa husnal khuluq

Artinya:
Ya Allah, jadikanlah dia (janin) seorang anak muslim yang salih, taat beribadah, selalu berdzikir dan memelihara Quran dan orang yang mengamalkan Quran.
Ya Allah, jadikanlah dia anak yang berbuat baik pada kedua orang tua dan keluarganya.
Ya Allah, baguskanlah fisik dan akhlaknya.
Ya Allah, lindungilah dia dari setan manusia dan jin.
Ya Allah, mudahkanlah kandungan dan kelahirannya.
Ya Allah, jadikanlah dia permata hatiku.
Ya Allah, berikan kami seorang anak dan jadikan dia anak yang bertakwa dan cerdas.
Ya Allah, jadikan akhir hidupnya dalam kebaikan.
Ya Allah, perbaikilah diriku dan anak cucuku.
Ya Allah, aku titipkan janin ini pada-Mu. Maka, baguskanlah fisik dan akhlaknya.
Ya Allah, aku memohon padaMu, mudahkanlah proses kelahirannya dan baguskanlah bentuknya.

Doa Untuk Janin Dalam Kandungan yang di baca oleh sang IBU UNTUK JANIN/BAYI/ANAK DALAM KANDUNGAN
Selain baca doa di atas, dapat juga ditambah dengan bacaan doa yang lebih panjang berikut:

 اللهم إني أستودعك جنيني الذي في رحمي، أنت الذي لا تضيع ودائعك يا الله, اللهم ارزقه جمال الخَلق والخُلق، وقوة الدين والبدن، وسعادة الدنيا والآخرة, اللهم يا أرحم الراحمين , اللهم أكتب طفلي الذي في بطني من السعداء, اللهم اكتب له العمر الطويل بالعمل الصالح, اللهم اكتب له الرزق الواسع , اللهم واكتبه من الصالحين, اللهم اجعله من حفظة كتابك والعاملين به, اللهم اكتب له المعافاة في الدين والدنيا, اللهم اجعله بارا بوالديه , اللهم اجعله قرة عين لوالديه, اللهم اهديني واهدي أبيه بتربيته التربية الصالحة التي ترضى عنا بها, اللهم اكتب له الجهاد في سبيلك وفي سبيل نصر اسلامك, اللهم اكتب له الشهادة في سبيلك وفي سبيل نصرة اسلامك, اللهم ان كنت كتبته من الطالحين , فاكتبه من الصالحين, اللهم ان كنت كتبته من الأشقياء , فاكتبه من السعداء, اللهم ان كنت كتبت له الرزق القصير , فاكتب له الرزق الطويل, اللهم ان كنت كتبت له العمر القصير في العمل الصالح , فاكتب له العمر الطويل في العمل الصالح

Teks latin:
Allahumma inni astawdiuka janini alladzi fi rohimi, antalladzi la tudi’u wada’iaka Ya Allah
Allahummarzuqhu jamalal khalqi walkhuluqi waquwwatadini walbadani wasa’adatatdunia wal alkhiroh
Allahum Ya Arhamarrohimin Allahummaktub tifli alladzi fi batni minassuada’. Allahummaktub lahul umrottowila bil amalissholih.
Allahummaktub lahurrizqol wasi’. Allahummaktubhu minassholihin.
Allahummaj’alhu min hafadzati kitabika wal amilina bihi
Allahummaktub lahul mu’afata fiddini waddunia
Allahummaj’alhu barran biwalidaihi. Allahummaj’alhu qurrota ainin liwalidaihi
Allahummahdini wahdi abihi bitarbiyatihi attarbiyatassholihah allati tardho anna biha
Allahummaktub lahul jihada fi sabilika wafi sabili nashri islamika.
Allahummaktub lahussyahadata fi sabilika wafi sabili nashri islamika
Allahumma inkunta katabtahu minassholihin faktubhu minassholihin
Allahumma inkunta katabtahu minal ashqiya, faktubhu minassu’ada’
Allahumma inkunta katabta lahurrizqol qoshir faktublahurrizqot towil
Allahumma inkunta katabta lahul umrol qoshir fil amalissholih, faktublahul umrottowil fil amalissholih

Artinya:
Ya Allah aku titipkan padaMu janin yang ada dalam rahimku. Engkau adalah dzat yang tidak akan menyia-nyiakan titipan Ya Allah.
Ya Allah anugerahi dia dengan kebaikan bentuk dan akhlak, kekuatan agama dan fisik, kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ya Allah Dzat Maha Pengasih, tulislah anakku yang ada di perutku sebagai orang yang berbahagia.
Ya Allah tulislah dia memiliki umur panjang dengan amal saleh.
Ya Allah tulislah dia dengan rizki yang luas dan tulislah dia termasuk dari orang salih.
Ya Allah jadikan janinku termasuk orang yang hafal Quran dan mengamalkannya
Ya Allah tulislah dia terpelihara dalam agama dan dunia.
Ya Allah jadikan dia berbakti pada kedua orang tua. Ya Allah jadikan dia permata hati kedua orang tua.
Ya Allah berilah aku petunjuk. Dan pandulah ayahnya dengan kemampuan mendidik dengan didikan yang baik yang Engkau ridhoi.
Ya Allah tulislah untuknya jihad di jalanmu dan menolong agamaMu.
Ya Allah tulislah dia kesaksian di jalanMu dan jalan menolong Islam.
Ya Allah apabila Engkau menulisnya termasuk orang sholeh, maka tulislah dia termasuk orang sholeh.
Ya Allah apabila Engkau menulisnya termasuk orang yang celaka, maka tulislah ia sebagai orang yang beruntung.
Ya Allah apabila Engkau menulisnya memiliki rejeki yang sedikit, maka tulislah dia memiliki rizki yang banyak.
Apabila Engkau menulisnya memiliki umur pendek dalam amal shaleh, maka tulislah dia memiliki umur panjang dengan amal yang sholeh.

Demikianlah Doa Untuk Janin Dalam Kandungan yang di baca oleh sang IBU UNTUK JANIN/BAYI/ANAK DALAM KANDUNGAN

Sumber: Habib Ali Abdurahman Al Habsyi via http://liriksolawat.com/

Friday, November 27, 2015

Tanda Hitam di Jidat Bekas Sujud

Biasanya orang yang memiliki tanda hitam di jidat itu sering diasumsikan sebagai orang yang rajin shalat sehingga dianggap sebagai perlambang kesalehan seorang muslim.
Namun sepanjang yang kami ketahui, ukuran kesalehan seorang muslim tidaklah ditunjukkan dengan adanya tanda hitam di jidat. Kesalehan selalu mengandaikan prilaku, akhlak, dan moralitas yang luhur. Kendati demikian kami tidak menafikan bahwa ada sebagian orang saleh memiliki tanda hitam di jidatnya tetapi bukan tanda yang dibuat dengan sengaja tetapi lebih karena seringnya bersujud.
Tanda hitam di jidat dalam keterangan yang kami ketahui diserupakan dengan tsafinatul ba’ir sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abi Darda` RA yang terdapat dalam kitab an-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar karya Ibnul Atsir.
أَنَّهُ رَأَى رَجُلاً بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلَ ثَفِنَةِ الْبَعِيرِ فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا كَانَ خَيْراً يَعْنِي كَانَ عَلَى جَبْهَتِهِ أَثَرُ السُّجُودِ وَإِنَّمَا كَرِهَهَا خَوْفاً مِنَ الرِّيَاءِ عَلَيْهِ.
Bahwa beliau melihat seorang laki-laki yang di antara kedua matanya terdapat tanda seperti tsafinatul ba’ir. Lantas beliau berkata, “Seandainya tidak ada ini maka ia lebih baik.” Maksudnya adalah di keningnya ada bekas sujud. Beliau tidak menyukainya karena khawatir hal tersebut menimbulkan riya. (Lihat Ibnul Atsir, an-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, Beirut al-Maktabah al-‘Ashriyyah, cet ke-1, 1426 H/2005 M, juz, I, h. 200).
Lantas apa makna tsafinatul ba’ir? Sebelum menjelaskan maknanya terlebih dahulu kami akan menyuguhkan penjelasan Ibnul Atsir tentang makna dari kata tsafinah. Menurutnya makna kata tsafinah adalah bagian tubuh yang menempel tanah dari setiap hewan berkaki empat ketika menderum seperti lutut dan selainnya dan terdapat ketebalan sebagai bekas menderum.
اَلثَّفِنَةُ بِكَسْرِ الْفَاءِ مَا وَلِيَ الأَرْضَ مِنْ كُلِّ ذَاتِ اَرْبَعٍ إِذَا بَرَكَتْ كَالرُّكْبَتَيْنِ وَغَيْرِهِمَا وَيَحْصُلُ فِيهِ غِلَطٌ مِنْ أَثَرِ الْبُرُوكِ
“At-Tsafinah dengan di-kasrah huruf fa’-nya adalah bagian tubuh yang menempel tanah dari hewan berkaki empat ketika menderum seperti kedua lutut dan selainnya dan terdapat padanya ketebalan dari bekas menderum”. (Lihat, Ibnul Atsir, an-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, Beirut al-Maktabah al-‘Ashriyyah, cet ke-1, 1426 H/2005 M, juz, I, h. 200).
Dengan mengacu pada penjelasan Ibnul Atsir, dapat disimpulkan bahwa makna kata tsafinatul ba’ir adalah bagian tubuh unta yang menempel tanah ketika menderum dan menjadi tebal sebagai akibat menderumnya.
Di samping itu mengenai tanda hitam di jidat sebagai bekas sujud yan terdapat dalam hadits riwayat Abi Darda` RA di atas ternyata tidak disukai karena dikhawatirkan akan menimbulkan riya pada pemiliknya. Dengan kata lain, jika dalam hatinya ada riya maka tidak diperbolehkan atau haram, karenanya harus dihilangkan.Senada dengan hadits riwayat Abi Darda` ra adalah hadits riwayat Anas bin Malik RA yang menyatakan bahwa Rasulullah saw tidak menyukai seseorang yang memiliki tanda di antara kedua matanya sebagai bekas sujud.
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : إِنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ وَأْكْرَهُهُ إِذَا رَأَيْتُ بَيْنَ عَيْنِيهِ أَثَرُ السُّجُودِ
Dari Anas bin Malik ra dari Nabi saw bersabda, “Sungguh aku marah dan tidak menyukai seorang laki-laki yang ketika aku melihatnya terdapat bekas sujud di antara kedua matanya.” (Lihat, Muhammad al-Khathib asy-Syarbini, Tafsir as-Sirajul Munir, Beirut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz, IV, h. 31).
Sedangkan mengenai orang yang secara sengaja membuat tanda hitam di jidat, misalnya ketika ia melakukan sholat bersujud dengan menekan jidat dan menggesekkannya di tempat sujud sehingga menimbulkan tanda hitam di jidat maka jelas tidak dibenarkan. Bahkan al-Biqa`i mengakui adanya sebagian orang-orang yang riya yang dengan sengaja membuat tanda hitam di jidat dari bekas sujud mereka. Padahal itu adalah salah satu identitas orang Khawarij.
وَلَا يُظَنُّ أَنَّ مِنَ السِّيمَا مَا يَصْنَعُهُ بَعْضُ الْمُرَائِينَ مِنْ أَثَرِ هَيْئَةِ السُّجُودِ فِي جَبْهَتِهِ فَإِذًا ذَلِكَ مِنْ سِيمَا الْخَوَارِجِ
“Tak disangka bahwa termasuk tanda bekas sujud adalah tanda bekas sujud di jidat yang sengaja dibuat oleh sebagian orang-orang yang riya. Jika demikian maka itu adalah termasuk identitas atau tanda orang Khawarij”. (Lihat, Burhanuddin Ibrahim bin Umar al-Biqa`i, Nazhmud Durar fi Tanasubil Ayat wal Atsar, Beirut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H/1995 M, juz, IIV, h. 216).
Apa yang dikemukakan al-Biqa’i hemat kami sangat menarik. Sebab, pernyataan dia setidaknya menjelaskan kepada kita bahwa salah satu perbuatan yang digandrungi kaum Khawarij adalah membuat tanda hitam di jidat dari bekas sujudnya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah ahli ibadah. Perbuatan kaum Khawarij seperti ini tentunya harus kita hindari. Wallahu a'lam bis shawwab. (nu.or.id)

Thursday, November 26, 2015

Pesan Bagi Jomblo yang Sedang Jatuh Cinta

Pertanyaan: Saya seorang pemuda yang sedang menempuh Pendidikan di Universitas, Alhamdulillah. Hanya saja selama ini saya selalu menghindar dari wanita (yakni saya tidak pernah membuka percakapan dengan wanita manapun). Namun akhir-akhir ini, ada seorang Mahasiswi yang Ahlaknya telah menarik perhatian saya, saya berharap bisa melupakan Mahasiswi tersebut dan telah saya coba dengan sunguh-sungguh untuk melupakannya. Saya juga tak ingin berdekatan dengan Mahasiswi tersebut di Kampus dengan alasan kepribadian saya.
Yang saya tanyakan: Apa solusinya agar saya bisa melupakan Mahasiswi tersebut? Soalnya saya merasa telah melakukan dosa dengan seringnya saya mencuri pandang kepadanya.
Dr. Buthi Menjawab:

"Sebenarnya saya tidak mempunyai cara untuk membuat anda melupakan Mahasiswi tersebut dan pertanyaan anda yang demikian itu terasa cukup aneh.Akan tetapi saya bisa menunjukkan anda jalan keluar yang bagus untuk menyelesaikan permasalahan ini, yaitu: Hendaknya anda melamar Mahasiswi tersebut dari keluarganya kemudian menikahlah dengannya. Inilah jalan keluar yang bagus dan Syar'i yang biasa dilakukan banyak orang."


Sumber : Mansyurat Ijtima'iyah hal. 133 karya Prof. Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthi, cet. Dar El-Fikr Damaskus 2001. Alih Bahasa : Imam Abdullah El-Rashied, Yaman - 6 Nov 2015. (muslimoderat.com)

Mendapat Hidayah, Orang Arab yang Hafal Quran Kini Suka Sholawatan

Pada suatu ketika ada seorang Arab yang datang menemui Sayyidil Habib Hasan bin Jafar Assegaf (Pengasuh Majelis Nurul Musthofa Jakarta). Orang Arab ini kemudian bercerita tentang mimpi yang ia alami dimana dalam mimpinya itu ia mendapatkan siksaan yang tiada henti-hentinya sampai ia menjerit-jerit kesakitan.
Lima tahun, orang Arab ini hidupnya tak bisa tenang dan hanya bisa menyimpan perasaan tersebut, hingga akhirnya baru kali ini ia menceritakan kejadian yang ia alami itu kepada Habib Hasan bin Ja’far Assegaf. Ia kemudian menceritakan peristiwa tersebut sambil menangis terseduh-terseduh.
Habib Hasan bin Ja’far Assegaf kemudian bertanya kepada orang Arab itu, “Apakah anda membaca Qur’an?”.
“Saya hafal Qur’an dan bayak hadits”, jawabnya.
Habib Hasan bin Ja’far Assegaf kembali bertanya, “Apakah anda melawan kepada kedua orangtua dan guru?”
Ia menjawab, “Saya orang yang paling perhatian dengan keduanya”.
Lagi, Habib Hasan bin Ja’far Assegaf bertanya, “Apakah anda ziarah makam nabi?”
Mendengar pertanyaan ini, ia pun menjerit dan menangis sambil berkata, “Wahai Habib Hasan, dulu Saya pernah mengharamkan membaca maulid dan ziarah Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Saya pikir itu bid’ah dan semua bid’ah di neraka, taunya Saya yang masuk neraka (dalam mimpinya)”.
Habib Hasan bin Ja’far Assegaf lalu berpesan kepada orang Arab itu untuk memperbanyak membaca shalawat. Kemudian arang Arab ini pun berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan membacakan maulid nabi bersama teman-temannya di makam Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam.
Subhanallah, semoga semakin banyak saudara-saudara kita yang mendapat hidayah dari Allah untuk kembali ke jalan yang lurus dalam naungan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
(Sumber dari Majelis Nurul Musthofa Jakarta via elhooda.net)

[Kisah] Keutamaan Berbakti Terhadap Orang Tua


Suatu hari Nabi Sulaiman terbang bersama angin diatas samudra, kemudian melihat ombak besar yang mengerikan, lalu Nabi menyuruh angin untuk berhenti sejenak. Sang Nabi memberi tugas para syetan untuk menyelam dan melihat apa yg terjadi di dalam laut tersebut. Satu-persatu para syetan/jin menyelam dan menemukan sebuah kubah tak berpintu yang terbuat dari batu zamrud putih. Setelah mengetahui hal itu, para syetan naik ke daratan dan melaporkan pada sang Nabi Sulaiman tentang apa yang mereka temui di bawah laut. Kemudian Nabi memberi perintah agar kubah tersebut diangkat keatas. Sang Nabi heran setelah melihat kubah itu, kemudian Dia berdoa kepada Allah agar kubah tersebut bisa terbuka. Setelah beberapa saat akhirnya kubah tersebut retak dan bisa terbuka. Yang lebih mengherankan lagi ternyata di dalam kubah ada seorang pemuda yang dalam posisi bersujud. Setelah pemuda itu dibangunkan, Nabi Sulaiman bertanya, "kamu ini malaikat atau jin?" Pemuda menjawab, "aku bukan malaikat atau jin tapi aku adalah manusia." "Dengan sebab apa kau mendapatkan keadaan dan kemulyaan sebesar ini?" "Ini semua sebab berbakti pada orang tua. Saya mempunyai seorang ibu yang sudah tua renta dan tak berdaya. Saya menggendongnya kemana pun saya pergi. Karena sebab doa ibuku yaitu: 'Ya Allah anugrahkanlah ia keberuntungan dan setelah aku mati nanti tempatkanlah ia tidak di langit maupun di bumi.' Setelah ibu meninggal, aku berjalan di pantai dan melihat sebuah kubah dari batu zamrud putih, ketika aku menghampiri maka pintunya membuka sendiri lalu aku masuk ke dalamnya lantas pintu menutup sendiri dengan kekuasaan Allah, setelah itu aku tidak tahu berada dimana. Apakah berada ada di bumi, di udara atau di langit? Allah selalu memberiku rizki di dalam kubah itu. Sang Nabi bertanya, "bagaimana Allah mendatangkan rizki untukmu?" "Jika aku lapar maka tumbuhlah pohon di atas batu lalu berbuah dan mengeluarkan air lebih putih daripada air susu serta rasanya lebih manis daripada madu bahkan lebih sejuk daripada salju, dari itulah aku makan dan minum dan ketika aku sudah kenyang dan tak haus lagi maka tumbuhan tersebut hilang dengan sendirinya. "Bagaimana kamu membedakan antara siang dan malam?" "Jika fajar tiba maka kubah memutih serta mengeluarkan cahaya dan ketika matahari terbenam maka kubah jadi redup dari itulah aku mengerti waktu siang dan malam." Kemudian Nabi Sulaiman berdoa, lalu kubah tersebut berputar-putar sehingga mirip seperti telur burung onta dan kembali ke asal semula yaitu ditengah-tengah samudera. Dan Allah Maha Berkuasa atas setiap sesuatu. Sumber: An-Nawadir hal 36-37, Hikayat ke-31 tentang birrul walidain

Wednesday, November 25, 2015

KH.Maemoen Zubair; Niat Jadi Guru

KH. Maemoen Zubair
Nasehat dari Syikhunaa Hadlratus Syech Simbah KH.Maemoen Zubair:
"Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang Penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah."
SELAMAT HARI GURU
Semoga para Guru yang telah mengajarkan kita ilmu selalu diberi kesehatan dan panjang umur. Aamiin

Gus Mus; Dari Membatas-batasi Hingga Guru

Gus Mus
Orang yang suka membatas-batasi umumnya pengetahuannya memang terbatas. Maksudku, orang yang membatasi santri hanya sebatas yang mondok di pesantren; misalnya, atau membatasi Islam hanya sebatas urusan fiqh; membatasi ibadah hanya sebatas salat, puasa, zakat, dan haji; membatasi rahmat Allah hanya sebatas untuk dirinya dan kelompoknya; membatasi jihad sebatas perang bersenjata; atau ... Kalian bisa memperpanjang dengan misal dan contoh yang lain.
Mengenai GURU, juga banyak yang membatasi hanya sebatas mereka yang mengajar di sekolahan dan madrasah. Bahkan ada yang membatasi hanya sebatas mereka yang termasuk anggota PGRI.
Bagiku, guru bisa siapa saja. Minimal untuk diriku sendiri, siapa saja bisa menjadi guruku; asal ada sesuatu darinya yang bisa aku GUgu (percaya dan ikuti ucapan-ucapannya) dan aku tiRU (contoh). Boleh jadi kalian, atau di antara kalian, diam-diam adalah guru-guruku dalam berbagai hal dan bidang.
Nyatanya di Facebook ini saja, berapa banyak aku mendapat pelajaran. Baik dari status maupun komentar-komentar atas status. Mulai pelajaran tentang resep masakan, tentang akik, tentang kesehatan, tentang obat-obatan tradisional, tentang adat-istiadat, hingga tentang kearifan dan pelajaran hidup.
Maka apabila hari ini aku mengucapkan selamat Hari Guru dan berterimakasih serta mendoakan kepada guru-guruku, itu artinya: termasuk untuk dan kepada kalian juga.
Selamat Hari Guru. Semoga semua guru senantiasa diberi rahmat dan berkah Allah. Dimudahkan hidupnya di dunia mau pun di akhirat kelak. Amin.

Yaminah Elsyaib; Pejuang Wanita Al-Jazair

Yaminah Elsyaib saat diseret dengan truk
Yaminah Elsyaib yang juga dikenal dengan nama lain Zulaikhah Adey adalah pejuang wanita legendaris dari Al-Jazair. Beliau meninggal dengan cara dilempar dari udara menggunakan helikopter setelah sebelumnya anak dan suaminya dipenggal kepalanya pada bulan yang sama. Yaminah ditangkap tentara teroris Perancis pada tanggal 15 Oktober 1957, lalu disiksa selama 10 hari berturut tanpa henti sebelum akhirnya dihukum mati dengan cara dilempar dari atas helikopter pada tanggal 25 Oktober 1957. Photo itu diambil pada hari penangkapannya tanggal 15 Oktober 1957. Setelah ditangkap, Yaminah diikat ditruk militer -seperti dalam photo- kemudian diseret dengan truk sepanjang jalan dan disiksa di depan umum untuk memberi pelajaran kepada rakyat Aljazair bahwa "siapa saja yang meberontak kepada penjajahan Perancis akan mendapatkan penyiksaan yang sama dan Perancis tidak akan menaruh belas kasihan sedikitpun meskipun kepada wanita dan anak-anak." Namun, Yaminah sangat tabah dalam menghadapi siksaan itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1730576143836871&set=a.1402268010001021.1073741828.100006535063611&type=3

Kemuliaan Wanita yang Harus Difahami Lelaki

Istimewanya seorang wanita. Bila melihat ibu, hendaklah ingat pesan Baginda Rasul bahwa engkau harus menghormatinya tiga kali lipat dari ayahmu dan ingat pula bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Bila melihat istri, hendaklah ingat pesan Rasulullah yang mewasiatkan berbuat baik kepada perempuan, karena suami mengambilnya dan farjinya menjadi halal untuk suami dengan kalimat Allah dan hendaklah ingat pula dengan sabda Baginda Rasul bahwa sebaik-baik engkau adalah sebaik-baiknya kepada keluarganya. Bila engkau melihat anak perempuanmu, maka hendaklah ingat sabda Rasul bahwa anak perempuan adalah penutup dari siksa neraka dan anak-anak perempuan membawa barokah. Begitu mulianya perempuan di mata Islam sampai ada satu ayat yang mengatakan: وليس الذكر كالأنثى Yang bermakna bahwa perempuan itu tidaklah seperti laki-laki (seperti dalam qoidah bahasa arab: qolb) untuk menggambarkan Sayyidah Maryam perempuan suci yang menjaga kehormatannya sehingga menjadi wanita pilihan pada zamannya. Ingat pula dengan Iqlima saudari kandung Qobil yang menjadi istri Habil yang merupakan bibit ahli surga, juga dari perempuan. Ingat pula dengan Asiyah istri selir Fir’aun yang mengasuh Nabi Musa ketika kecil dan termasuk golongan orang beriman, sedangkan suaminya menjadi penghuni neraka. Ingat pula dengan perempuan tukang sisir rambut putri Raja Fir’aun yang memilih mati dibakar api dengan membawa iman sampai kuburnya tercium wangi oleh Rasulallah ketika Isro’ Mi’roj. Ingat pula dengan Khodijah istri Rasulullah yang selalu membela suaminya pada permulaan Islam. Ingat pula dengan Siti Aisyah istri Nabi yang banyak meriwayatkan hadist dan Nabi meninggal dalam pangkuannya. Ingat pula dengan Sumayyah perempuan budak Bani Makhzum yang merupakan orang pertama yang mati syahid dalam Islam. Ingat pula Asma’ putri Abu Bakar yang membantu Nabi dan ayahnya untuk berhijrah ke Madinah. Ingat pula dengan Sayyidah Fatimah yang meminta kepada ayahnya budak pembantu, tapi rela dengan pemberian ayahnya berupa bacaan subhanallah tiga puluh tiga kali, alhamdulillah tiga puluh tiga kali dan allahu akbar tiga puluh tiga kali. Kita telah dimulyakan Allah dengan Islam, apabila kita mencari kemulyaan dari selain Islam maka akan menjadi rendah. (Santrijagad.org)

Ibnu Taimiyyah; Sampainya Pahala Dzikir dan Shodaqoh Kepada Mayit

Ilustrasi Tahlilan
Pada dekade belakangan ini muncul wacana dari kelompok, sekte atau golongan dengan nama Wahabi dengan berbagai fatwa dan argumennya,  diantara fatwanya yang monumental adalah tidak sampainya kiriman pahala dari amal sholih baik dzikir, shodaqoh ataupun amal yang lainya dari orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal bahkan lebih ekstrim lagi perbuatan tersebut masuk pada hukum bid’ah yang menurut mereka adalah sesat dan neraka.

Dengan adanya fatwa yang demikian tentunya banyak reaksi yang terjadi karena tidak dipungkiri bahwa hal tersebut merupakan amalan mayoritas muslim indonesia yang biasa dikemas dengan sebutan "Tahlilan" yang artinya membaca rangkaian dzikir dan bacaan Al Qur’an kemudian berkah dari bacaan bacaan tersebut di kirmkan kepada ahli kubur denganharapan diampuni dosanya danlain sebagainya.

Untuk menjawab fatwa dari golongan tersebut kami akan coba menghadirkan fatwa yang di angkat oleh ulama mereka sendiri yaitu Ibnu Taimiyyah yang notabene adalah ulama panutan sekte tersebut.

Pandangan Ibnu Taimiyyah tentang sampainya pahala dzikir dan shodaqoh  kepada mayit.

الفتاوى الكبرى - (3 / 27)
 - سُئِلَ: عَنْ قَوْله تَعَالَى: {وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إلَّا مَا سَعَى} وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ} فَهَلْ يَقْتَضِي ذَلِكَ إذَا مَاتَ لَا يَصِلُ إلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ أَفْعَالِ الْبِرِّ؟

Imam Ibnu Taimiyah di tanya perihal surat An Najm ayat : 39 dan Hadist nabi tentang terputusnya amal Ibnu Adam. apakah ayat dan Hadist tersebut menetapkan ketika seseorang meninggal maka tidak akan sampai sedikitpun kepadanya amal amal yang baik ?

الْجَوَابُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَيْسَ فِي الْآيَةِ، وَلَا فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَنْتَفِعُ بِدُعَاءِ الْخَلْقِ لَهُ، وَبِمَا يُعْمَلُ عَنْهُ مِنْ الْبِرِّ بَلْ أَئِمَّةُ الْإِسْلَامِ مُتَّفِقُونَ عَلَى انْتِفَاعِ الْمَيِّتِ بِذَلِكَ، وَهَذَا مِمَّا يُعْلَمُ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ، وَقَدْ دَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ، فَمَنْ خَالَفَ ذَلِكَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ.

Beliau menjawab : Alhamdulillahi Robbil alamin “tidak ada dalam ayat maupun Hadist yang menerangkan bahwasanya mayit tidak bisa mengambil manfaat dari do’a ataupun amal kebaikan dari mahluq yang di tujukan padanya, bahkan para imam imam muslim bersepakat (itifaq) bahwasanya mayit dapat manfaat dari do’a dan amal yang di tujukan padanya, dan hal ini suatu perkara yang di ketahui secara dasar dari agama islam dan  Al Qur’an, As Sunah, dan Ijma’ Ulama’ sudah menunjukkanya. Maka barang siapa menyalahi hal tersebut maka orang tersebut termasuk golongan ahli bid’ah.

Demikian sedikit uraian tentang Pandangan Ibnu Taimiyyah tentang sampainya pahala dzikir dan shodaqoh kepada mayit semoga kita semua terhindar dari kebodohan dan selalu waspada serta selamat dari berbagai golongan yang akan menjerumuskan kita amin. 

Tahlil Modern Ala Muhammadiyah; "Tahlilan Bukan Bid'ah Lagi"

Ketua NU dan Ketua Muhammadiyah saat tahlilan di Rumah KH. Sahal Mahfudz
Dalam komunitas Muhammadiyah, tahlil menjadi persoalan kontroversial, sebagian setuju dan sebagian yang lainnya menolak terhadap tahlil. Kalaupun ada yang setuju namun tetap memberi persyaratan tertentu. Di sisi lain, Muhammadiyah juga bermaksud mengembangkan pangsa pasar dakwahnya dengan pendekatan kulutural. Singkatnya Muhammadiyah juga perlu konsep tahlil alternatif yakni tahlil ala Muhammadiyah.
Makalah ini akan menguraikan tahlil modern meliputi pendahuluan, konseptualisasi dan prosesi. Pengertian; Untuk memberikan pemahaman yang tetap tentang Tahlil Modern, perlu dijelaskan pengertiannya baik secara etimologi maupun terminogis. Secara etimologis, tahlil modern terdiri dari dua kata yakni “tahlil” dan “modern”. Tahlil merupakan kata benda jadian yang diturunkan dari akar kata hallala-yuhallilu-tahlilan yang berarti membaca kalimat “laa ilaaha illallah”. Kata hallala sendiri merupakan kata kerja jadian dengan pola menyingkatkalimat “yaqrau laa ilaaha illallah” menjadi hallala. Hal ini seperti kata kerja jadian lain sejenisnya misal: hamdala, basmala, hay'ala dan lain-lain. Inilah maksudnya tahlil berarti membaca kalimat laa ilaaha illallah. Sedangkan kata modern berarti maju.
Ciri utama disebut maju adalah penekanan pada spek rasionalitas. Adapun secara terminologis, tahlil modern berarti upacara spiritual didahului dengan niat, diikuti dengan pembacaan kalimat-kalimat dan ayat-ayat Al-Qur'an terntetu dan serta diakhiri dengan do’a tertentu yang dilandasi oleh prinsip raionalitas.
Kalimat-kalimat tersebut meliputi tahlil, takbir, istighfar, tasbih, shalawat, sedangkan ayat Al-Qur'an meliputi Surat Al-Fatihah, An-Nas, Al-Alaq, Al-Ikhlas dan Al-Baqarah. Tahlil modern dapat juga disebut tahlil rasional. Rasionalitas Tahlil Modern terletak pada obyektivitas dan spekulatif dalam bertahlil. Secara obyektif amalan-amalan berupa bacaan kalimat yang baik dan ayat-ayat Al-Qur'an pilihan tertentu akan berpahala bagi pelaku tahlil dan pahala tentu akan diberikan kepada pelakunya secara proporsional. Tahlil Modern juga menghindakan diri dari perilaku teologi spekulatif yakni tidak mengirimkan pahala tahlil bagi orang meninggal yang ditahlilkan. Sebab tahlil modern melepaskan dirinya dari konsep pengiriman pahala. Waktu ; Moment Tahlil Modern adalah netral.
Artinya tahlil Modern dapat mengambil moment pada hari-hari tertentu yang definitif pasca kematian seperti hari ketiga, tujuh, empat puluh, seratus dan seribu, dan dapat pula mengambil hari tanpa terikat dengan hari-hari definitif tersebut. Penentuan momentum Tahlil Modern disunnahkan kepada penyelenggaranya.
Kalaupun moment yang diambil adalah hari-hari definitif tersebut tetap harus lepas dari keyakinan bahwa roh orang yang meninggal datang bersamaan dengan datangnya hari-hari definitif tersebut. Tujuan ; Tujuan dari Tahlil Modern adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membaca kalimat- kalimat terpilih. Setelah upaya pendekatan diri tercapai diikuti do’a mohon ampun baik bagi peserta tahlil sendiri maupun bagi orang- orang yang sudah meninggal secara umum dan orang-orang terkasih penyelenggara Tahlil Modern. Dengan demikian , Tahlil Modern bukan bertujuan mengirimkan pahala bacaan tahlil untuk arwah tertentu. Hukum ; Status hukum penyelenggaraan Tahlil Modern adalah mubah, netral. Artinya Tahlil Modern dilakukan ataupun tidak dilakukan tidak mengandung akibat hukum dosa atau berpahala.
Hanya saja, karena Tahlil Modern berisikan amalan-amalan baik maka jika dilakukan tentu akan berdampak hukum secara poitif. Bacaan-bacaan Tahlil Modern termasuk bacaan-bacaan yang baik tentu saja termasuk dalam kategori ibadah qauliyah yang berpahala.
Prosesi Tahlil Muhammadiyah
1. Niat
Niat tahlil modern adalah mendekatkan diri pada Allah dengan cara membaca kalimat dan ayat-ayat pilihan. Oleh karena itu, sekedar sebagai contoh niat tersebut dapat diungkapkan dengan kalimat: “Kita berkumpul dalam majlis ini bermaksud membaca tahlil modern dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tahlil ini diselenggarakan atas permintaan Bapak .......... yang telah mendahului kita ........... hari atau tahun yang lalu. Menurut informasi yang dapat dipegangi : almarhum / almarhumah dikenal sebagai orang yang suka beramal baik. (sebut contohnya). Berkaitan dengan ini semoga menjadi I’tibar bagi kita semua.
Oleh karena itu, marilah kita membaca tahlil dengan seksama: ‘Ala Hadzihi al-Niyah al-Maksudah al-Fatihah....”
2. Bacaan
Bacaan kalimat-kalimat dan ayat-ayat pilihan Tahlil Modern antara lain dapat diurutkan sebagai berikut :
1). Surat Al – Fatihah,

2). Surat Al – Ikhlas,
3). Surat Al –Falaq,
4). Surat An – Nas,
5). Surat Al – Baqarah ayat 1 - 5,
6). Ayat Kursi,
7). Isti’fa’ (wa’fu ‘anna waghfirlana, dst),
8). Tarhim 7 x (Irhamna yaa Arhamarrahimiyn),
9). Istighfar 7 x,
10) Tahlil 33 kali,
11) Tasbih 7 x,
12) Shalawat 3 x,
13) Pengakhir (Tahlil Modern ditutup dengan Surat Al – Fatihah).

3. Do'a
Do'a-Do'a Tahlil Modern bukan do’a pengiriman pahala bacaan tahlil bagi yang ditahlilkan melainkan do’a pendekatan diri kepada Allah dan mohon ampun baik bagi pelaku tahlil maupun orang yang dikenang.
Makalah Dr. Mujiono Abdillah, MA, (Majelis Tarjih Muhammadiyah Jawa Tengah) 
Sumber: http://gurubiru.blogspot.co.id/