Ketika Imam Syafi'i Mengambil Berkah dari Muridnya

Posted by Nasyit Manaf on Saturday, August 29, 2015 with No comments
Siapa yang tidak kenal dengan Imam Syafi'i, Imam yang lahir di Gaza tahun 150 H dan wafat di Mesir tahun 204 H ini adalah salah satu dari imam madzhab empat. Dan madzhab beliau adalah madzhab yang di terapkan di bumi Nusantara ini. Keilmuannya terasa di seantero dunia. Kealiman dan ketawadluannya sangat tinggi meski seorang ulama besar. Salah satu bukti ketawadluannya adalah mau mengambil berkah dari muridnya yaitu Imam Ahmad bin Hanbal (164 - 241 H)
Di masa masuknya abad ke-3 H, semasa akhir hidupnya Imam Syafi'i, umat Islam mendapatkan cobaan yang sangat besar dari golongan Mu'tazilah khususnya di negara Irak jantung kerajaan Islam kala itu yang terkenal dengan fitnah Khalqul Qur'an (Pembuatan Qur'an). Setiap orang Islam dipaksa untuk mengucapkan bahwa al Qur'an di ciptakan oleh Allah SWT (makhluk) bukan merupakan kalamNya yang tidak ada awalnya. Lebih-lebih para ulama, nyawa adalah taruhannya jika tidak mau mengucapkan.
Salah satu yang merasakan pedihnya cobaan tersebut adalah Imam Ahmad bin Hanbal yang juga merupakan salah satu dari Imam madzhab empat dan merupakan murid dari Imam Syafi'i. Beliau yang sangat getol dan teguh pendiriannya tidak mau bahkan melarang keras untuk mengucapkan Al Qur'an adalah makhluk. Akhirnya diapun dimasukan ke dalam penjara oleh kaum Mu'tazilah yang menguasai kerajaan Islam saat itu. Selama di dalam penjara dia tetap tidak mau mengucapkannya meskipun pukulan dan siksaan yang menjadikan tidak sadarkan diripun dialaminya.
Imam Syafi'i yang berada di Mesir waktu itu, bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan bersabda kepada beliau dalam mimpinya: "Berilah Ahmad kabar gembira tentang jaminan masuk surga atas cobaan yang menimpanya."
Seketika setelah bermimpi itu Imam Syafi'i mengirimkan surat kepada Imam Ahmad yang sedang di penjara di Baghdad Irak tentang apa yang ada di dalam mimpinya tersebut. Setelah surat sampai kepada Imam Ahmad, deras tangispun dikeluarkan Imam Ahmad saat membaca surat dari gurunya. Kemudaian Imam Ahmad memberikan satu qamis bagian dalam dari dua qamis (baju koko) yang dikenakannya untuk dititipkan kepada pengirim surat yang nantinya diberikan kepada gurunya.
Setelah baju dari muridnya sampai kepada Imam Syafi'i, beliau mencucinya dan mengambil berkah dengan berminyak menggunakan air cucian baju muridnya yang mendapatkan kedudukan khusus berupa jaminan surga itu.
Subhanallah...
Betapa tawadlu'nya sifat beliau, seorang Imam besar, mendidik murid sampai menjadi Imam besar pula, ilmunya yang dirasakan oleh dunia, tetap mencari berkah meskipun itu dari muridnya.