Qunut Subuh dan Witir Ramadhan

Posted by Nasyit Manaf on Wednesday, July 16, 2014 with No comments
Permasalahan qunut dalam sholat subuh termasuk salah satu perbedaan percabangan(khilafiyah furu'iyyah). Menurut madzhab Syafi’i, membaca qunut dalam sholat shubuh dan pada sholat witir di separuh yang akhir bulan Ramadlan hukumnya sunah. Imam Nawawi menjelaskan,

مَذْ هَبُنَا اَنَّهُ يُسْتَحَبُّ اْلقُنُوْتُ فِيْهَا سَوَاءٌ نَزَلَتْ نَازِلَةٌ اَمْ لمَ تَنْـزِلْ وَبِهَذَا قَالَ اَكْثَرُ الْسَّلَفِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ اَوْكَثِيْرٌ مِنْهُمْ وَممِّنْ قَالَ بِهِ اَبُوْبَكْرٍالصِدِّيْقُ وَعُمَرُ ابنُ الْخَطَّابِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىُّ وَاْبنُ عَبَّاسٍ وَالْبَرَّاءُ بْنُ عَازِبٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ.  

"Menurut madzhab kita (Syafi'iyyah) membaca qunut ketika sholat subuh hukumnya sunnah, baik ada bencana yang melanda atau tidak, inilah pendapat mayoritas ulama salaf, dan ulama setelahnya, atau setidaknya banyak ulama yang berpendapat demikian. Termasuk yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar, Umar, Utsman Ibnu Affan, Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, dan Baro’ bin ‘Azib ra.” (Al-Majmu’ juz 3 hal 504)

(ثم) بعد ذلك س (قنوت في اعتدال آخره صبح مطلقا و) آخرة (سائر المكتوبات لنازلة) كوباء وقحط وعدو (و) آخرة (وتر نصف ثان من رمضان

"Kemudian disunnahkan membaca qunut setelah i'tidal yang terakhir di shalat subuh, dan pada setiap shalat maktubah jika ada bencana yang melanda, seperti bencana alam, orang meninggal, adanya musuh. Dan juga disunnahkan qunut di shalat witir separuh yang akhir pada bulan Ramadhan." (Fathul Wahhab juz 1 hal 68)

Banyak sekali hadits yang mendasari kesunahan dalam membaca qunut tersebut. Diantaranya adalah,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنِى دُعَاءً نَدْعُوْ بِهِ فِى الْقُنُوْتِ مِنَ صَلاَةِ الصُّبْحِ

“Rosululloh saw selalu mengajari kami doa yang dibaca dalam qunut sholat subuh.” (HR.  Baihaqi)

عَنْ حَسَنٍ ابْنِ عَلِى رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ عَلَّمَنِى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ اَقُوْلُهُنَّ فِى قُنُوْتِ الْوِتْرِ أَللَّهُمَّ اِهْدِنِى فِيْمَنْ هَدَيْتَ....إلخ

“Dari Hasan bin Ali ra, beliau berkata, ‘Bahwa Rosululloh saw mengajariku kalimat yang aku baca ketika qunut sholat witir, yaitu allohummahdini......dst.” (HR. Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Nasa’i).

عَنْ أَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوْعِ يَدْعُوْ عَلَى أَحْيَاءٍ مِنَ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ

"Dari Anas ra, ‘Sesungguhnya Nabi saw membaca Qunut satu bulan setelah rukuk untuk mendoakan beberapa kabilah Arab, kemudian meninggalkanya.” (HR. Bukhori Muslim)

Begitu juga Imam Ahmad dan Daruquthni meriwayatkan hadits yang serupa, dan Imam Daruquthni menambahkan,

وَأَمَّا فِي الصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا 

"Adapun dalam sholat subuh Rosululloh saw tidak pernah meninggalkan do’a qunut sampai beliau wafat.”

عَنْ أَبِى هرُيَرْةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ فِى صَلاَتِهِ شَهْرًا يَدْعُوْ لِفُلاَنٍ وَفُلاَنٍ ثُمَّ تَرَكَ الدُّعَاءَ لَهُمْ  

"Sesungguhnya Nabi saw membacca Qunut setelah ruku’ dalam sholatnya selama satu bulan untuk fulan dan fulan, kemudian meninggalkan do’a qunut untuk mereka.” (HR. Bukhori Muslim)

Sedangkan hadits yang menyatakan bahwa Nabi saw tidak melakukan qunut, atau hanya melaksanakan qunut nazilah, tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak mensunahkan, apalagi sampai melarang qunut subuh dan witir bulan Ramadlan. Karena dalam sebuah kaidah disebutkan al mutsbit muqoddamun ‘alan naafi (yang mengatakan ‘ada’ didahulukan dari yang mengatakan ‘tidak ada’). Salah satu hadits yang dimaksud adalah hadits berikut,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَقْنُتْ اِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ اَوْ دَعَا عَلَى قَوْمٍ

"Sesungguhnya Nabi saw tidak pernah membaca Qunut kecuali apabila mendoakan (yang bermanfaat) bagi suatu kaum, atau mendoakan (yang merugikan) suatu kaum.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Kesimpulan: 
  • Jelas sudah bahwa qunut sholat subuh tetap disunahkan, dan Nabi saw tidak pernah  meninggalkannya hingga beliau wafat.
  • Yang ditinggalkan Nabi saw adalah doa qunut nazilah (untuk mendoakan orang kafir, atau doa khusus untuk sebagian orang), bukan qunut secara mutlak. (Al-Majmu’ juz 3 hal 475-476)
  • Demikian pula qunut sholat witir mulai pertengahan bulan Romadlon juga tetap disunnahkan.
File Dokumen Fiqh Menjawab
Categories: