Asosiasi Pondok Pesantren: Eksekusi Mati Narkoba Tak Salahi Agama

Posted by Nasyit Manaf on Saturday, March 07, 2015 with No comments
ilustrasi hukuman mati @djurnal.com
Sikap tegas Pemerintah Indonesia untuk mengeksekusi para terpidana mati narkoba mendapat dukungan Asosiasi Pengasuh Pondok Pesantren. Menurut mereka manusia berhak mewakili Tuhan untuk menghilangkan nyawa seseorang dalam kondisi tertentu.

Penegasan ini disampaikan Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI), Asosiasi Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama Jawa Timur Gus Reza Ahmad Zahid menyikapi protes pemerintah Australia terhadap rencana hukuman mati dua terpidana narkoba asal negeri kanguru Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. "Tidak ada masalah dengan hukuman mati itu dari segi agama, "kata Gus Reza kepada Tempo, Jumat 6 Maret 2015.


Gus Reza menjelaskan, sebagai Khalifatullah, manusia bisa mewakili Tuhan dalam menerapkan aturan Tuhan. Dalam konteks pemidanaan mati yang diterapkan pemerintah Indonesia, Negara berhak mewakili Tuhan untuk mencabut nyawa para terpidana. Apalagi hal itu dilakukan demi menyelamatkan ribuan nyawa lain dari ancaman narkoba.

Para pengasuh pondok menurut dia sangat mendukung langkah pemerintah Indonesia yang tak memberi ampun kepada mereka. Bahkan mereka akan menyayangkan jika pemerintah terpengaruh dengan sikap pemerintah Australia untuk membatalkan eksekusi tersebut. "Pemerintah jangan plin plan, harus tegas," katanya.

Dia juga mengingatkan kepada para pegiat Hak Asasi Manusia yang kurang setuju dengan penerapan hukuman pidana untuk tidak berfikir parsial. Sebab pemidanaan mati ini tak bisa dilihat hitam putih tanpa memperhitungkan dampak perbuatan para pelaku.

Seperti diketahui Presiden Joko Widodo menolak keras tawaran Pemerintah Australia untuk membatalkan hukuman mati dua warganya. Australia menawarkan barter dengan tahanan Indonesia yang tengah menjalani hukuman di negeri itu.

Sumber: Tempo.co (http://www.tempo.co/read/news/2015/03/07/063647868/Asosiasi-Pondok-Pesantren-Eksekusi-Mati-Narkoba-Tak-Salahi-Agama)
Categories: