Mengalah Untuk Menang

Posted by Unknown on Sunday, January 11, 2015 with No comments
Tidak selamanya mengalah itu rendah dan hina, di satu sisi mengalah itu mempunyai nilai positif yang tidak bisa dipungkiri. Bahkan nasehat orang tua kita dahulu memberikan penekanan kepada orang yang lebih tua dan dewasa untuk mengalah dari adiknya yang lebih kecil ketika terjadi pertengkaran atau memperebutkan suatu makanan. Semua itu bukan menunjukkan pilih kasih dari orang tua, tetapi memberikan pelajaran bagi kita bahwa sudah sepatutnya orang yang lebih dewasa untuk menyayangi yang lebih muda dan agar kita bisa mengontrol emosi.
 
Memang adakalanya kita dituntut untuk menang, tapi apa arti kemenangan jika dipihak lain harus dirugikan dan merasa sedih, hati kecil kita tak akan menerima keadaan seperti ini, dia akan menolak.
 
Adalah satu kemenangan yang sangat gemilang, jika kita menang dan dipihak lainpun merasa tidak dirugikan bahkan merasa bahagia dengan kemenangan yang kita raih atau setidaknya tidak merasa terusik dengan kemenangan kita.
 
Sebagaimana yang diceritakan dalam hadits tentang kisah ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, para sahabat tidak menerima keputusan yang diambil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka merasa kecewa dan terpukul dengan hasil yang dicapai, sebab diatas kertas kaum muslimin mendapat kekalahan yang telak. Sampai-sampai sahabat Ali tidak mau menuruti perintah Rasulullah Saw. untuk menghapus kalimat “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” dari tek perjanjian, dan akhirnya Rasulullah sendiri yang mengambil tek tersebut dan menghapusnya kemudian menulis kata-kata yang dinginkan oleh pihak Quraisy.
 
Bahkan Al Faruq Umar bin Khotob sangat marah sekali, dan menghampiri Rasulullah ambil menanyakan tentang keputusan Beliau:
“Bukankah engkau Nabi Allah yang sebenarnya ?”
“Betul.” jawab Rasulullah Saw.
“Bukankah kita berada diatas kebenaran sedang musuh kita berada diatas kebathilan?”
“Betul” jawab Rasulullah lagi.
“Tapi kenapa kita merendahkan din kita “
“Sesungguhnya aku ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku tidak berbuat maksiyat kepadaNya dan Dia adalah penolongku” jawab Rasulullah.

“Bukankah engkau memberitakan kepada kita, bahwa kita akan  mengunjungi Al bait (Ka’bah) dan melaksanakan thowaf ?”
“Betul, tetapi apakah aku kabarkan kepadamu bahwa kita akan mengunjungi Ka’bah tahun ini dan berthawaf”
“Tidak” jawabku
“Engkau pasti akan mengunjunginya dan berthawaf mengelilinginya”.

Umar tidak berhenti disitu, dia tidak puas dengan jawaban yang didapat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan dia mengulangi pertanyaannya itu kepada Abu Bakar sebagaimana ditanyakan kepada Rasulullah. Abu Bakar menjawab: “Wahai Umar berpegang teguhlah untuk menolongnya meskipun bagaimana kondisinya, sesungguhnya aku bersaksi bahwasanya dia adalah utusan Allah”

“Akupun  bersaksi.” akhirnya Umarpun berucap.
 
Disini Umar mendatangi Rasulullah dan menanyakan perihal keputusan beliau, adalah untuk mengetahui dan mendapatkan hikmah dari kesepakatan beliau terhadap syarat-syarat perjanjian, sedang dia menginginkan orang-orang musyrik menjadi terhina dan rendah. Maka semua yang keluar dari dia dimaafkan, bahkan dia mendapat pahala karena berijtihad didalam masalah ini
 
Setelah kesepakatan terjadi, tidak sedikit keuntungan dan kemenangan yang diperoleh kaum muslimin. Didalam kejadian ini turun ayat Allah yang menerangkan kemenangan ditangan kaum muslimin:

“Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenenangan yang nyata.” (QS. Al Fath : 1)
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengekspresikan kegembiraannya atas turun ayat ini dengan ungkapannya:

“Telah diturunkan kepadaku tadi malam, satu surat yang lebih aku sukai ketimbang terbitnya matahari dari arah timur.” (HR. Bukhori)
 
Disamping itu orang-orang quraisy mengakui keberadaan kaum muslimin dan tidak meremehkan mereka lagi. Kaum muslimin bisa memfokuskan penyerangan kepada kaum Yahudi Khoibar, dapat menyebarkan Islam keseluruh pelosok jazirah arab bahkan kepada kekuasaan dan imperium Romawi dan Persia.
 
Salah satu bukti kemenangan kaum muslimin adalah tercatat bahwa selama kurun waktu 2 tahun setelah perjanjian Hudaibiyah ditanda-tangani, banyak sekali orang yang akhirnya mau menerima Islam dan jumlahnya jauh lebih banyak daripada jumlah orang yang masuk Islam selama kurun waktu 19 tahun sejak masa kenabian. Bukti yang sangat jelas ialah ketika Rasulullah hendak Umrah, beliau hanya didampingi oleh 1,400 orang saja; sedangkan setelah perjanjian Hudaibiyah itu yaitu tepatnya setelah dua tahun berlalu ketika terjadi peristiwa Fathul Makkah atau kejatuhan kota Mekah di tangan kaum Muslimin, Rasulullah didampingi oleh 10,000 orang Muslim. Jadi kurang lebih 8,000 orang masuk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah. Padahal dalam kurun waktu 19 tahun, Rasulullah hanya mendapatkan pendukung seperempatnya saja. Ini benar-benar sebuah kemenangan yang besar meskipun di awalnya para sahabat merasa kalah.
Categories: