Hukum Gaji Karyawan Diskotik

Posted by Nasyit Manaf on Monday, January 12, 2015 with No comments
Minuman keras (miras) adalah minuman yang mengandung alkohol (Arab, khamr). Meminum dan mengonsumsi miras hukumnya haram seperti tersurat tegas dalam Al-Qur'an surat Al-Maidah 90-91 dan Al-Baqarah 219.

Karena haram mengkonsumsinya, maka haram pula segala hal yang terkait dengannya seperti menjual, bekerja di pabrik bir, dll. Hadits-hadits yang berkaitan dengan haramnya menjual bir antara lain:

وإن الله عز وجل إذا حرم أكل شيء حرم ثمنه

"Apabila Allah mengharamkan memakan sesuatu maka Ia juga mengharamkan jual-beli-nya." (HR. Ahmad)

إن الله ورسوله حرم بيع الخمر والميتة والأصنام

"Allah dan Rasulnya mengharamkan menjual minuman keras, bangkai dan patung." (HR. Bukhari)
أتاني جبريل فقال يا محمد إن الله عز وجل لعن الخمر وعاصرها ومعتصرها وشاربها وحاملها والمحمولة إليه وبائعها ومبتاعها وساقيها ومستقيها

"Rasulullah bersabda, malaikat Jibril mendatangiku dan berkata, "Hai Muhammad sesungguhnya Allah melaknat khamr (miras), pembuatnya, peminumnya, pembawanya, orang yang membawanya, penjualnya, pembelinya dan segala sesuatu yang ada di dalamnya." (HR.
Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Para ulama ahli fiqh telah jauh-jauh membahas masalah para pekerja yang bekerja dengan unsur menolong kemaksiatan maka penghasilannya pun haram jika memang telah jelas. Seperti bekerja di diskotic yang sebagian besar menyajikan minuman keras.

وَأَمَّا المَظْنُونُ بِعَلاَمَةٍ فَهُوَ مَالُ السُّلْطَانِ وَعُمَّالِهِ وَمَالُ مَنْ لاَ كَسَبَ لَهُ إلاَّ مِنَ النَّاحِيَةِ او بَيْعِ الخَمْرِ او الرِّبَا او المَزَامِيْرِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ آلاَتِ اللَّهْوِ المُحَرَّمَةِ. فَإِنَّ مَنْ عَلِمَتْ أَنَّ كَثِيْرَمَالِهِ حَرَامٌ مُطْلَقًا فَمَا تَأخُذُهُ مِنْ يَدِهِ وَإِنْ أَمْكَنَ أَنْ يَكُونَ حَلاَلاً نَادِرًا, فَهُوَ حَرَامٌ, لأَنَّهُ الغَالِبُ عَلَى الظَّّنِّ.

"Adapun harta yang disangka haram dengan indikasi adalah harta dari penguasa dan pegawai-pegawainya, harta dari orang yang sama sekali tidak mempunyai pekerjaan kecuali dari hasil meratapi orang mati, atau menjual arak, atau dari riba, atau dari hasil bermain seruling atau lainnya dari alat-alat permainan yang diharamkan. Maka sesungguhnya orang yang telah anda ketahui bahwa sebagian hartanya adalah haram secara pasti, maka apa yang anda ambil dari tangannya, (meskipun kemungkinan harta tersebut terkadang halal) maka hukumnya haram, karena harta yang haram itu adalah yang memang berdasarkan sangkaan." (Muraqiy al-Ubudiyah hlm 72)
 
ومنها أي من معاصى البدن الاعانة على المعصية أي على معصية من معاصى الله بقول او فعل او غيره ثم ان كانت المعصية كبيرة كانت الاعانة عليها كذالك كما في الزواجر قال فيها وذكري لهذين أي الرضا بها والاعانة عليها باي نوع كان ظاهر معلوم مما سيأتـي في الامر بالمعروف والنهي عن المنكر.  اسعاد الرفيق جزء 2 ص 127
 

"Diantara maksiat tubuh adalah ikut menolong (terlibat) peristiwa maksiat-maksiat yang dimurkai Allah, baik berupa ucapan, perbuatan dll. Bila maksiat tadi tergolong dalam dosa besar, maka dosa yang didapat dari keterlibatannya pun juga besar, seperti dijelaskan dalam kitab Zawajir. Di dalam kitab tersebut Ibn Hajar berkata: (alasan) saya menyebutkan dua hal diatas, yakni membiarkan maksiat terjadi (ridlo bil maksiah) dan terlibat di dalamnya (I'anah alaiha) dengan berbagai macam ragamnya, sudah cukup jelas dan maklum seperti yang akan dijelaskan dalam Bab Amr Ma’ruf –Nahi Munkar." (Is'adur Rafiq juz 2 hlm 127)

قاعدة وهي ما يحرم فعله حرم طلبه كذ الناظم وهو عكس ما في الاشباه والنظائر اذ الذي فيها : ما حرم طلبه حرم فعله فحرمة الفعل مسببة عن حرمة الطلب لا العكس وذالك كالرشوة فعلها حرام وطلبها حرام بشرطه (ايضا كما ذكر عنهم).
فوائد الجنية جزء 2 ص 302
 
"Kaidah: Apapun yang haram dilakukan maka haram untuk dicari. Kaidah dalam nadzam ini berbeda dengan kaidah yang ada di dalam kitab Asybah Wa Nadzoir, justru kaidah yang ada adalah sebaliknya, yaitu: Setiap hal yang yang haram dicari, haram pula untuk dikerjakan. Dan dari keharaman ‘mengerjakan’ ini menyebabkan haramnya ‘mencari’nya, bukan sebaliknya. Seperti kasus suap, mengerjakannya haram, mencarinya pun juga demikian”. (Fawaid al-Jinayah juz 2 hlm 302)

من أَعاَنَ عَلَى مَعْصِيَةٍ وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ كاَنَ شَرِيْكاً فِيْهاَ وفى نفس الكتاب اجرة العمل الذى يتعلق بالمعصية حرام والتصدق به منها لايجوز ولايصح إهـ.
 
"Barang siapa yang menolong kemaksiatan walaupun hanya dengan setengah kalimat, maka ia telah terlibat dalam maksiyat tersebut” (al-Hadits). Dalam Kitab al-Ihyaa’ ‘Uluumiddiin dijelaskan "Ongkos pekerjaan yang berhubungan dengan maksiat haram, dan mensedekahkannya juga tidak boleh dan tidak sah". (Ihyaa’ ‘Uluumiddiin juz II hlm 91)
 
Adapun jika dalam pekerjaan tersebut tidak hanya menjual barang-barang yang haram saja, tapi menjual juga barang-barang yang halal maka ada keserupaan (syubhat) antar campuran yang halal dan haram. Dalam hal ini Imam Suyuthi berkata dalam kitab Al-Ashbah wan-Nadzair:

ومنها: معاملة من أكثر ماله حرام، إذا لم يعرف عينه لا يحرم في الأصح لكن يكره، وكذا الأخذ من عطايا السلطان، إذا غلب الحرام في يده، كما قال في شرح المهذب: إن المشهور فيه الكراهة لا التحريم، خلافاً للغزالي

"Transaksi seseorang yang kebanyakan hartanya haram, apabila tidak diketahui harta apa yang haram, maka tidak haram menurut pendapat yang paling sahih akan tetapi hukumnya makruh. Begitu juga hukum menerima hadiah dari raja apabila mayoritas harta raja itu haram seperti pendapat Nawawi dalam Al-Majmuk Syarah Muhadzab bahwa yang masyhur dalam masalah ini adalah makruh, bukan haram. Ini berbedda dengan pendapat Al-Ghazali (menurutnya hukumnya haram)."
 
وفي فتاوى ابن الصلاح : لو اختلط درهم حلال بدراهم حرام . ولم يتميز فطريقه : أن يعزل  قدر الحرام بنية القسمة . ويتصرف في الباقي ، والذي عزله إن علم صاحبه سلمه إليه ، وإلا تصدق به عنه ، وذكر مثله النووي وقال : اتفق أصحابنا ، ونصوص الشافعي على مثله فيما إذا غصب زيتا أو حنطة . وخلط بمثله ، قالوا : يدفع إليه من المختلط قدر حقه . ويحل الباقي للغاصب .
الأشباه والنظائر : ص : ٧٥

"Dalam kitab Fatwanya Ibnu Sholah dikatakan, jika bercampur antara dirham yang halal dengan dirham yang haram serta tidak bisa dibedakan maka jalannya adalah dengan dipisah perkiraan ukuran yg haram dengan niat membagi dan selebihnya boleh digunakan, sedangkan yg dipisah jika diketahui pemiliknya maka diserahkan padanya jika tidak diketahui maka disedekahkan atas namanya, hal yang serupa juga disebutkan oleh Imam Nawawi. Beliau berkata: Sahabat-sahabat kami telah sepakat dan juga dalam ketetapan Imam Syafi'i disebutkan bahwa jika seseorang menggososb minyak zaitun atau gandum dan mencampurnya dengan yg semisalnya, mereka (ashab) berkata: diserahkan padanya (yg dighosob)  dari percampuran tersebut seukuran haknya orang yg dighosob dan selebihnya halal bagi orang yg mengghosob." (al Asybah wal Nadzair hlm 75). Wallahu a'lam bis shawwab.
 
Categories: