Ulama Salaf Bertabarruk Dengan Kuburan

Posted by Nasyit Manaf on Thursday, January 29, 2015 with No comments
Makam Sunan Drajat, Lamongan
Tidak jarang, orang-orang ketika memiliki sebuah keinginan akan suatu hal, baik itu yang bersifat duniawi, seperti mempunyai hajat agar cita-citanya tercapai, rejekinya lancar, mendapatkan jodoh, diterima kerja, dan sebagainya. Ataupun keinginan yang bersifat ukhrawi seperti ingin meninggal dalam keadaan husnul khatimah, bahagia dunia akhirat dan lain-lain, mereka berdoa dengan bertabarruk (mengharap barakah) kepada orang-orang shalih yang telah meninggal dengan menziarahi makamnya. Baik dilakukan sendiri atau beramai-ramai melakukan wisata religi dengan menziarahi makam-makam aulia seperti wali sanga, para ulama, kyai dan sebagainya.

Apakah tradisi atau kebiasaan bertabarruk di makam-makam tersebut tidak bersumber dari para ulama salafus shalih terdahulu?

Al-Imam al-Hafizh Ibnu Abi 'Ashim, seorang imam ahlus sunah yang berpengaruh pada abad ke-3 hijriah/ 9 Masehi meriwayatkan dalam kitabnya al-Ahad wa al-Matsani

طلحة بن عبيد الله. . . فاشتري له دار بسبعين ألف درهم وهي التي فيها قبره بحضرة الهجرتين وقد رأيت جماعة من أهل العلم وأهل الفضل إذا هم أخذهم أمر قصد إلى قبره فسلم عليه ودعا بحضرته، وكان يعرف الإجابة، وأخبرنا مشايخنا قديما أنهم رأوا من كان قبلهم يفعله.  الآحاد والمثاني، 1/163

"Sahabat Thalhah bin Ubaidillah,… dibelikan rumah seharga 70000 Dirham, yaitu rumah yang juga ditempati sebagai makamnya di depan Hijratain. Aku melihat sekelompok ahli ilmu dan ahli keutamaan apabila mereka memiliki hajat, mereka  mendatangi makamnya (Thalhah), mengucapkan salam dan berdoa di depannya. Dan selalu dikabulkan. Guru-guru kami dahulu bercerita bahwa orang-orang sebelumnya juga melakukan hal tersebut."

Dari dalil di atas menmberitahukan bahwa tradisi ziarah makam orang-orang shalih dengan tujuan tabarruk, agar suatu hajat bisa terkabulkan dengan tetap memohon kepada Allah, telah berlangsung sejak generasi salaf yang shalih. Hal ini tidak termasuk syirik, sebagaimana asumsi kelompok ekstrem dan radikal.

Siapakah Ibnu Abi 'Ashim? 

Abu Bakar bin Abi 'Ashim Ahmad bin 'Amru bin Dhahhak bin Makhlad asy-Syaibani atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Abi Ashim (822-900 M/206-287 Hijriyah) adalah ahli hadits kelahiran Bashrah, Irak dan meninggal di Isfahan. Ia merupakan seorang imam ahlus sunah yang berpengaruh pada abad ke-3 hijriah/ 9 Masehi, dan ia dikenal karena karya-karyanya di bidang ilmu hadis.

Diantara gurunya yang terkenal adalah Imam Bukhari dan Abu Hatim ar-Razi. Ia diangkat menjadi Qadi di Asfahan selama tiga belas tahun hingga tahun 282 H. Ia meninggal lima tahun kemudian dan prosesi pemakamannya dihadiri oleh 200 ribu orang.

Sepanjang hidupnya, Ibnu Abi Ashim menghasilkan karya-karya. Dikabarkan dia menghasilkan 300 karya tentang ilmu hadits, berikut sebagian karya-karyanya:

  1. As-Sunnah li Ibnu Abi 'Ashim
  2. Al-Ahadits wal-Matsaniy
  3. Al-Awa'il li Ibnu Abi 'Ashim
  4. Al-Jihad li Ibnu Abi 'Ashim
  5. Ad-Diyat li Ibnu Abi 'Ashim
  6. Az-Zuhd li Ibnu Abi 'Ashim
  7. Al-Mudzakkir wat-Tadzkir
  8. Ash-Shalaatu 'ala an-Nabiy
Categories: