Apakah Tahlilan Adalah Ajaran Hindu?

Posted by Nasyit Manaf on Wednesday, January 07, 2015 with 2 comments
Salafi Wahabi Ngotot Tahlilan dari Hindu, Pendeta Hindu Membantahnya !!!. Namun apakah tuduhan mereka itu berdasar dan tidak berdusta? Sayang sekali, mereka hanyalah berdusta dan membual. Berikut ini adalah bantahan dari seorang pendeta Hindu yang menyatakan bahwa Tahlilan bukan ajaran Hindu.

Tahlilan dan Kebohongan Abd. Aziz (Ustad Salafi Wahabi) Dibongkar Oleh Pemeluk Hindu.

Tanggapan dari Pendeta Hindu Soal Selamatan Atau Tahlilan

Panca Yajna: Upacara Selamatan?
Tidak ada maksud sedikitpun dari penulis untuk mencampuri urusan privacy seorang Ustazd Abdul Aziz, lebih-lebih mengenai pilihan jalan (agama) penuntun hidupnya. Cuma saja, yang mengundang perhatian saya, karena di dalam ceramahnya yang berdurasi sekitar satu setengah jam (dua CD) tersebut, Pak Ustadz telah menjadikan ajaran ‘’Agama’’ Hindu sebagai bahan banyolan, di antaranya seperti kalimat-kalimat yang dicetak miring berikut ini:
Pertama. Panca Yajna adalah lima upacara selamatan di dalam agama Hindu, masing-masing:
1. Dewa yajna yakni selamatan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.
2. Rsi yajnya adalah selamatan kepada orang-orang yang dianggap suci.
3. Pitra yajna adalah selamatan kepada roh leluhur.
4. Manusa yajna adalah selamatan kepada manusia.
5. Butha yajna adalah selamatan kepada mahluk bawahan.

Ustad Abdul Aziz Wahabi mengatakan:
Melakukan selamatan ini adalah wajib hukumnya di dalam Agama Hindu. Contoh selamatan pada hari kematian, acaranya berlangsung pada hari pertama, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100 dan nyewu (hari ke-1000). ‘’Kalau tidak punya uang untuk melaksanakan selamatan, wajib utang kepada tetangga. (jamaah tertawa).
Sebab bila keluarga yang meninggal tidak diselamatin, rohnya akan gentayangan, menjelma menjadi hewan, binatang, bersemayam di keris dan jimat, dll. Makanya pohon-pohon diberi sarung, dan pada setiap hari Sukra Umanis jimat dan keris diberi minum kopi. ‘’Sedangkan yang melaksanakan selamatan, dapat tiket langsung masuk surga.’’ Di dalam Islam tidak ada selamatan-selamatan, tetapi yang ada adalah sedekoh. Sedekoh punya kelebihan dari selamatan yakni memberikan sedekoh ketika kita punya kelebihan yang biasanya dilakukan pada menjelang bulan puasa. Jadi bukan hasil utang.

Bantahan pendeta Hindu:
Sejak SD saya belajar agama Hindu, sampai sekarang Panca Yajna itu artinya lima korban suci. Bahkan di dalam Kitab Bhagawad Gita, yajna berarti bakti, pengabdian, persembahan dan kurban (sedekah) yang dilakukan dengan tulus iklas (hati suci). Bukan berharap untung yang lebih besar kepada Tuhan dari sedekoh yang kecil kepada manusia. Jadi Panca Yajnya itu adalah berbakti (sujud) kepada Tuhan (Dewa Yajna), bakti kepada orang suci (Rsi Yajna), berbakti kepada leluhur (pitra yajna), melayani (berderma) kepada sesama (manusa yajna) dan bersedekah kepada bahluk bawahan (butha yajna). Tidak ada saya jumpai arti Panca Yajna adalah lima upacara selamatan dan wajib ngutang, seperti kitab yang dibaca Ustadz Abdul Aziz.

Istilah selamatan tidak ada di dalam Hindu, apalagi selamatan atas kematian. Adapun rangkaian upacara kematian di dalam Hindu seperti nelun, ngaben, ngeroras (memukur) dll. pada intinya merupakan penyucian sang jiwa dari unsur badan fisik, mendoakan agar perjalanan sang jiwa tidak mendapatkan halangan, memperoleh ketenangan dan kedamaian di alam pitra. (Kitab Asvalayana Griha Sutra). Masalah dia (sang jiwa) mendapat tiket ke sorga atau akan masuk neraka, tergantung dari bekal karmanya. Yang jelas sangat tidak ditentukan oleh acara selamatan.

Apalagi kalau dikatakan bahwa roh yang tidak diselamatin akan gentayangan, menjelma jadi hewan atau pohon, itu ada di cerita film kartun. Proses reinkarnasi berlangsung puluhan bahkan mungkin sampai ratusan tahun. Sementara pohon-pohon di berikan busana (sarung: menurut Ustazd Abdul Aziz), adalah sebagai tanda bahwa pohon-pohon tersebut dilestarikan dan tidak boleh ditebang sembarangan. Ini wujud bahwa Hindu cinta lingkungan.

Ustad Abdul Aziz Wahabi mengatakan:
Kedua. Di dalam agama Hindu, dalam memberangkatkan mayat ada tradisi trobosan yakni berjalan menerobos di bawah keranda mayat, sebagai wujud bhakti kepada orang tua yang meninggal. Dan ketika mayat ditandu ke kuburan, di sepanjang jalan dipayungi. Apakah mayatnya kepanasan? Belum pernah mati kok tahu mayat kepanasan. Di Islam acara-acara semacam itu tidak ada dasar hukumnya baik di hayat maupun hadist.
Bantahan pendeta Hindu:
Dengan tanpa bermaksud merendahkan kemampuan sosok Ustadz Abdul Aziz di bidang agama, namun perlu saya sampaikan bahwa rangkaian acara satu hari, 3, 7, 40, 100 dan nyewu, menurut hemat saya adalah tradisi di dalam kehidupan beragama dengan berbagai tujuan dan motivasinya. Misalnya ‘’Tradisi Nyewu di Yogyakarta’’ yang pernah dimuat di Media Hindu. Tolong dibedakan antara agama dan tradisi.

Sumber:
Oleh: I. K. Sugiartha ( Sisya Grya Taman Narmada ),
Penulis: I. K. Sugiartha
Sisya Grya Taman Narmada,
Lombok Barat.
HP. 081917180160
Repost: Ahmad Muzaqqy
Dan berikut ini bukti kebohongan mereka tentang tuduhan Tahlilan bersumber dari ajaran kitab Weda (kitabnya agama Hindu) dengan menerjemahkan sesuai keinginan mereka demi tujuan nafsu memfitnah golongan lain.

Kutipan kitab RIG VEDA/WEDA X.15.4 dalam translate bahasa inggris berbunyi seperti ini :

4. Fathers who sit on sacred grass, come, help us: these offerings have we made for you; accept them. So come to us with most auspicious favour, and give us health and strength without a trouble.

Ketika kami coba mentranslate kedalam bahasa indonesia yang sebenarnya dan semampu kami maka artinya kurang lebih seperti ini :

4. Bapak yang bersemayam di rerumputan suci, datanglah, bantulah kami: Persembahan ini kami buat untuk Engkau, terimalah mereka (persembahan kami). Maka datangkanlah kepada kami pertolongan yang paling menguntungkan, dan berilah kami kesehatan dan kekuatan tanpa masalah sedikitpun.

Jadi tidaklah benar bahwa Tahlilan diambil dari ajaran agama Hindu. Tuduhan buruk ini hanyalah bualan kaum Salafi Wahabi. Salafi Wahabi memang pandai berdusta, ini adalah salah satu dari sekian contoh banyaknya mereka berdusta. Sudah hal biasa jika mereka berdusta. Waspadalah dengan ajaran tanduk setan An Najed ini.
Categories: