Bahagia Itu Berbagi

Posted by Nasyit Manaf on Wednesday, January 06, 2016 with No comments


















Leo Tolstoy (1828 - 1910)
Yang menjadi sebab manusia putus asa di dalam mencari bahagia ialah karena bahagia itu diambilnya untuk dirinya sendiri, bukan untuk bersama.

Padahal segala bahagia yang diborong untuk dirinya sendiri itu tidak dapat tidak mesti mengganggu bahagia orang lain. 

Orang lain yang terganggu itu tidak pula mau berpangku tangan jika ia tersinggung, dia akan mempertahankan diri. 

Oleh sebab itu, bukan lagi "menuntut bahagia" itu memberi keuntungan, tetapi memberi kerugian bersama. 

Sebab itu pula nyatalah bahwa bahagia yang dituntut mestinya bukan buat diri sendiri, tetapi buat bersama, buat masyarakat, karena "Tangan Allah adalah atas Jamaah". 

Dari sebab bahagia dicari untuk bersama, dan segala manusia rindu mencapainya, di sini timbullah persatuan keperluan dan persatuan keinginan, timbullah kecintaan di antara bersama dan kehendak bertolong-tolongan.

Maka bahagia raya itu tidaklah akan didapat di dalam hidup yang gelap, melainkan pada kehidupan yang penuh nur, penuh cahaya gemilang.

Hidup bercahaya dan berseri ialah hidup yang sudi mengorbankan kesenangan dan kebahagian diri sendiri untuk kesenangan dan kebahagiaan bersama, untuk menghilangkan segala permusuhan dan kebencian yang melekat di dalam jantung anak Adam, yang terbit lantaran hawa nafsu dan syahwat, yang semuanya itu penuh dengan lakon kesedihan dan sandiwara yang menyeramkan.

Hidup yang gilang gemilang itu ialah berkorban.
(HAMKA, Tasawuf Modern)

Sumber : Yopie Noor R

image: 
Gambar-gambar ini diambil di desa-desa "di pinggiran Jakarta, yang belum terjamah [oleh] kemajuan teknologi"
Photographer: Herman Damar
Camera: Canon EOS 550D
Taken: 2011
Categories: