11 Alasan Kenapa Cowok Lulusan Pesantren Itu Calon Imam yang Diutus Untuk Menyempurnakanmu

Posted by Nasyit Manaf on Monday, January 11, 2016 with No comments
Santri sedang ngaji kitab kuning
Kehidupan di pesantren memang membuat para santrinya merasakan pahit-manis hidup di pondok pesantren. Pengalaman balajar di pesantren tentu memiliki banyak manfaat bagi para santri. Kemandirian, kesederhanaan, dan kekuatan iman menjadikan mereka yang pernah tinggal di pesantren lebih tangguh dalam melewati cobaan hidup. Begitu pula dengan cowok-cowok yang pernah nyantren. Sepertinya mereka adalah imam yang diutus khusus untuk membahagiakan kamu.
1. Enggak bisa dipungkiri lagi, pastinya dia adalah cowok yang mandiri.
Di usia yang masih muda, dia sudah pergi dari rumah untuk belajar di pesantren. Hidup jauh dari orang tua di usia yang masih sangat muda pastinya menjadikan dia mandiri. Siapa sih yang nggak senang punya suami yang mandiri? Ketika kamu lagi sibuk ngurus rumah, dia nggak akan ribet minta diurusin ini itu. Bahkan, dia bisa dengan cekatan membantu kamu mengurus rumah. Kalau cuma soal beres-beres rumah aja sih gampang buat dia, orang beres-beres gedung pesantren yang gede aja sanggup.
2. Lingkungan di pesantren membentuknya untuk menjadi pribadi yang disiplin.
Bangun sebelum mata hari terbit sudah jadi kebiasaan buat dia. Setiap hari selalu diisi dengan kegiatan yang produktif. Selain menjadi pribadi yang mandiri, kehidupan pesantren juga membuat dia menjadi disiplin terutama soal waktu. Ya iya lah, selama di pesantren, dia sudah dibiasakan untuk memanfaatkan waktu dengan baik. Kamu yang menjadi pendampingnya mau nggak mau akan ketularan disiplinnya. Malu dong, masa iya dia sudah bangun dari pagi tapi kamu masih saja molor.
3. Memang nggak semua lulusan pesantren akan jadi ustadz, tapi paling nggak pastinya dia cukup paham soal agama.
Di pesantren, dia nggak melulu belajar soal agama. Sama dengan sekolah pada umumnya, dia juga belajar IPA, Matematika, IPS, dan kawan-kawannya. Hanya saja, dia juga belajar agama lebih banyak dari sekolah umum. Ketika lulus, mereka yang pernah sekolah di pesantren juga bebas ingin melanjutkan jadi apa. Mau terus menekuni agama boleh, mau berprofesi lainnya juga boleh. Ada banyak kok profesional sukses yang dulunya sekolah di pesantren. Walaupun akhirnya nggak jadi guru agama, rata-rata cowok yang pernah sekolah di pesantren memiliki pemahaman agama yang lebih dari yang lain.
4. Walau pemahaman agamanya kuat, cowok pesantren tetap asyik buat diajak bergaul lho!
Eh, tapi jangan salah! Meskipun cowok-cowok pesantren itu hafal betul soal agama, tapi mereka tetap pribadi yang asyik kok untuk diajak bergaul. Kehidupan di pesantren memang ketat dan banyak larangan. Tapi, bukan berarti mereka yang nyantren jadi kuper alias kurang pergaulan. Mereka tetap bisa update tentang sesuatu yang sedang hits dengan ‘caranya sendiri’.
Kamu nggak perlu khawatir bakal nggak nyambung atau bosan karena tiap hari ngerasa diceramahin terus menerus. Justru mereka lebih senang diajak ngobrol sesuatu hal yang lain di luar kehidupan pesantrennya.

5. Kamu nggak bakal di-php-in dengan berlama-lama pacaran. Kalau serius langsung berakad.
Punya pacar di pesantren adalah hal yang mustahil. Enggak sedikit cowok pesantren yang tetap menjaga peraturan itu meski sudah nggak tinggal di pesantren lagi. Pastinya, ini sangat menguntungkan buat kamu yang nggak pingin digantungin sama cowok: pacaran lama-lama, ke mana-mana bareng, tapi pas ditanya kapan nikah pura-pura meninggal. Kebanyakan cowok yang pernah nyantren nggak pingin berlama-lama penjajakan, begitu merasa ada yang bergetar, langsung dilamar.
6. Karena kebanyakan dari mereka nggak mau pacaran, kamu yang sudah dipilihnya akan jadi satu-satunya buat dia.
Enggak perlu deh curiga sama mantan-mantannya. Cukup kamu satu-satunya yang menjadi kekasih buat dia. Kekasih halal, pastinya.
7. Jangan kaget kalau cara dia berkenalan denganmu atau merayu sangat kuno: pakai surat. Kuno tapi super romantis.
Surat menyurat jadi alat komunikasi yang masih berlaku buat anak pesantren. Ketika di pesantren, mereka nggak boleh bawa hape atau laptop sendiri, jadi deh sarana komunikasi satu-satunya ya surat-suratan. Jangan heran kalau kebiasaan itu kebawa sampai saat ini dia sudah nggak tinggal di pesantren. Waktu kamu lagi ngambek, eh tiba-tiba ada surat nyelip di buku kamu. Surat permintaan maaf darinya. Kuno sih tapi rasanya romantis banget.
8. Cowok pesantren pasti punya teman-teman sesama anak pesantren yang sangat kompak bahkan sudah kayak keluarga sendiri.
Sudah dijelaskan di atas kalau cowok pesantren bukan cowok kuper. Justru pergaulannya di pesantren cukup luas dan solid. Di pesantren, dia akan bertemu banyak anak dari berbagai daerah. Sama-sama jauh dari keluarga membuat mereka jadi sangat kompak dan pada akhirnya jadi seperti keluarga. Lulus dari pesantren pun persahabat mereka tak akan usai. Jadilah dia punya teman dari berbagai daerah. Kalau dia lagi main ke suatu daerah, eh ternyata ada teman yang dulu satu pesantren tinggal di sana.
9. Kamu nggak akan bosen dengar cerita-ceritanya selama di pesantren dulu.
Tentang bagaimana dia dan teman-temannya mencoba jadi anak bandel di pesantren. Tentang gurunya yang benar-benar menjadi inspirasi buat dia. Semua ceritanya tentang pesantren tak pernah membuatmu bosan.
10. Pastinya dia akan senang hati membimbingmu soal agama.
Kalau soal ini nggak perlu diminta, ‘seperangkat alat sholat’ yang pernah diucapkan bukan hanya janji semata.
11. Dia yang sudah terbiasa hidup dalam kesederhanaan akan selalu mampu membawamu membahagiakanmu lewat cara-cara sederhana.
Mau dari keluarga berada atau biasa saja, cowok yang pernah nyantren akan terbiasa dengan kesederhaan. Dia nggak akan menjanjikan kamu yang macam-macam.
Dia hanya ingin membuat kamu yang telah dipersuntingnya bahagia.

Sumber: Hipwee.com