Media Islam online untuk pemberitaan, syi'ar Islam, dakwah dan kajian.

Saturday, March 1, 2014

Istiqamah



Tidak sedikit seorang hamba merindukan kondisi yang selalu lurus dan stabil dalam beribadah kepada Sang Kholiq. Tapi, apa daya nafsu dan setan ikut andil besar dalam melencengkan dan membelokkan jalannya.

Padahal dalam al Kitab, Allah telah menjanjikan, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita." [QS. Al Ahqaf : 13]

Saking apik dan perlunya istiqamah, Al Ghazali sampai menyatakan, "Tidak ada kebaikan pada sebuah kebaikan yang tidak langgeng (istiqamah). Bahkan keburukan yang tidak langgeng lebih baik daripada kebaikan yang tidak langgeng." [Ihya Ulumiddin]

Ngedrop, mungkin yang sering dirasakan oleh kita saat merasa tidak sesuai dengan apa yang telah dirancang sebelumnya. Berharap lurus dan stabil tapi sering tergoda sampai belak-belok dalam berbuat maksiat dan dosa.

Ibnu Atha'ilah memberi support jika kita dalam kondisi yang seperti itu dalam kitabnya, "Seandainya kamu melakukan suatu dosa, janganlah kamu jadikan sebab untuk berputus asa dalam berusaha mencapai istiqamah bersama Tuhanmu. Bisa jadi, perkara tersebut adalah dosa terakhir yang ditakdirkan Allah kepadamu." [al Hikam]

Beliau juga membesarkan hati kita dengan berkata, "Terkadang, seseorang diberi karomah (kemuliaan) meskipun belum sempurna dalam istiqamah (konsisten dalam beribadah) pada dirinya." [al Hikam]

Jadi, dalam hal apa pun terutama masalah beribadah janganlah berhenti dari berusaha untuk selalu menjadi yang terbaik di hadapanNya meski harus jatuh bangun berulang kali. Ihdina al shirath al mustaqim.

Gadis Shalihah

Fiqh Menjawab
Wanita ibarat sebutir telur. Telur yang telah retak tidak mungkin dapat kembali halus tanpa cacat seperti sedia kala. Apalagi jika telur itu sampai pecah, maka tidak ada kemungkinan lagi telur itu menjadi utuh kembali. Meskipun lem alteco ikut berjuang untuk merekatkannya kembali. Telur yang kelak akan menetaskan anak yang berkualitas dari dalamnya haruslah melalui perawatan yang intensif. Dimulai dari suhu dan temperatur yang selalu hangat, sampai penjagaan dari serangan-serangan hewan pemakan telur yang tengah mengincar mangsanya.

 Tentang istri sholihah, Rasulullah telah menggambarkan dalam sebuah hadis, "Tidaklah seorang mukmin memperoleh sesuatu yang lebih baik sesudah takwa kepada Alloh swt selain dari istri yang sholihah; jika diperintah ia patuh, jika dipandang menyenangkan, jika diminta untuk menunaikan sesuatu ditunaikannya dengan baik, dan jika ia (suami) jauh darinya, dijagalah hartanya dan harga dirinya." [HR. Ibnu Majah]

Sholihah jika dilihat dari arti katanya, adalah wanita yang baik, bagus, pantas, sesuai, atau bisa juga berarti kenikmatan yang sempurna. [al Munawwir : 789] Istilah ini lebih sering dihubungkan dengan kaum hawa yang sudah menikah atau mengakhiri masa keperawanannya. Dalam Al Qur'an juga kita jumpai Firman Allah, "Wanita yang sholih ialah yang taat kepada Allah swt lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah swt telah memelihara (mereka). [QS. An Nisaa’ : 34]

Oleh sebab itu, akan terasa lebih sulit membedakan antara gadis sholihah dibanding istri sholihah jika melihat ciri-ciri yang ada. Meskipun ini bukan kesimpulan mutlak, setidaknya ada sedikit pengertian bahwa Gadis Sholihah adalah mereka yang taat terhadap Allah dan orang tuanya, serta mampu menjaga kehormatan dirinya. Apapun kesimpulan dan penilaian terhadap ke-sholihah-an seorang gadis hanya Allah dan dirinyalah yang lebih tahu.

Berbahagialah bagi mereka gadis-gadis yang taat, baik nan sholihah. Janji Allah, "Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan." [QS. An Nur : 52] Selain itu Allah menjajikan kebaikan di dunia dengan dipasangkan dengan laki-laki yang sholih, Firman-Nya, "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula)." [QS. An Nur: 26]

Jilbab Punuk Unta

Sudah berjilbab saja masuk neraka, apalagi yang enggan memakai jilbab ?

Dari Abu Hurairah, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat:

1. Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan,
2. Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Penjelasan:

1). Yang dimaksud dengan "kaum yg memiliki cambuk seperti ekor sapi yg dipakai untuk menymbuk manusia" adalah mereka para penguasa yang menghukum rakyatnya yg tidak bersalah, atau menghukum tanpa alasan (bi ghoiril haq). Dikatakan seperti ekor sapi, ibarat dari para penguasa yang mempunyai kekuasaan, sebab cambuk seperti ekor sapi itu sangat besar dan ditafsirkan sebagai kekuasaan.

2). "Berpakaian tapi telanjang" terdapat dua tafsir, pertama: perempuan itu berpakaian rapi, akan tetapi hatinya tidak ada iman dan tdk punya rasa malu. Kedua; Perempuan itu memakai pakaian, namun terlalu ketat sehingga terlihat lekuk-lekuk tubuhnya atau pakaian tipis yang memperlihatkan warna kulitnya.
"Berjalan berlenggak-lenggok" adalah para wanita yg memamerkan hiasannya dan auratnya, berhias serta berwangi-wangian, serta berjalan di depan orang lain (laki-laki) yg bukan mahrom.
"Kepala mereka bagaikan punuk unta" adalah wanita yg membuat model rambutnya bergelung tinggi, sehingga dapat bergerak ke kanan dan ke kiri, atau wanita yg memakai sorban tinggi seperti laki-laki. (Lihat: Tafsir Ghorib ma fi ash-Shahihain al-Bukhari wa Muslim)

Mengenai makna dari lafadz -Kaasiyaat- ada beberapa pendapat, yaitu:

1. Orang yang berpakaian dengan nikmat2 Allah tapi telanjang dengan tidak mensyukurinya.
2. Orang yang menutupi sebagian anggota tubuhnya tetapi membuka sebagian yang lain dengan tujuan untuk menampakkannya.
3. Orang yang memakai pakaian tetapi masih menampakkan warna tubuhnya.

Makna dari lafadz -Maailaat- adalah wanita yang melenceng dari mentaati Allah dan melenceng dari apa-apa yang diwajibkan baginya.

Makna dari lafadz -Mumiilaat- adalah wanita yang memberitahukan kepada selainnya tentang keburukan yang telah dilakukannya. Menurut pendapat yang lain maknanya adalah wanita yang berjalan melenggak-lenggok dan menggoyang-goyangkan pundaknya. Menurut pendapat yang lain maknanya adalah wanita yang menata rambutnya dengan penataan rambut yang miring, yang mana penataan tersebut adalah penataan rambut wanita pelacur.

Ma’na kalimat -ru'usuhunna ka asnimatil buhti al mailah- adalah wanita yang memperbesar penataan rambutnya dengan cara menggulungnya dengan sorban atau yang lainnya. (Lihat: Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim).

Kerudung sanggul termasuk larangan yg ada pada hadits. Hal ini berdasarkan ibarat di bawah ini:

يكبرنها ويعظمنها بلف العمامة او الاصابة او نحو ذلك

"(Maksudnya) memperbesar kepalanya dengan mengikatkan surban atau kain dan sejenisnya"

Atau dalam ibarat lain mengatakan:

ترفع شعر رأشها وتضع على رأسها عمامة حتى ترتفع الخمار

"Menaikkan rambut kepala dan meletakkan di atas kepalanya surban sehingga kerudungnya menjadi naik (menonjol).

Inti dari pada hadits tersebut, seorang wanita memamerkan perhiasannya dalam hal ini (rambut) di hadapan umum dan hal tersebut dapat mengundang fitnah. Meskipun rambut itu dikerudungi, namun karena ditonjolkan (diperliahtkan bentuknya), maka tetap masuk kategori larangan. Hal ini sama dgn menutup aurat dgn menggunakan pakaian ketat sehingga terlihat lekuk-lekuk tubuhnya. (Lihat : Syarh Riyadl Ash-Sholihin, bab Tahriimu Tasyabbuh Ar-rijaal bi an-Nisaa')

Dalam Fathul Bari, syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan:

وفي رواية قتادة عن سعيد عند مسلم " نهى عن الزور " وفي آخره ألا وهذا الزور قال قتادة : يعني ما تكثر به النساء أشعارهن من الخرق . وهذا الحديث حجة للجمهور في منع وصل الشعر بشيء آخر سواء كان شعرا أم لا ، ويؤيده حديث جابر " زجر رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أن تصل المرأة بشعرها شيئا " أخرجه مسلم . وذهب الليث ونقله أبو عبيدة عن كثير من الفقهاء أن الممتنع من ذلك وصل الشعر بالشعر ، وأما إذا وصلت شعرها بغير الشعر من خرقة وغيرها فلا يدخل في النهي ، وأخرج أبو داود بسند صحيح عن سعيد بن جبير قال : لا بأس بالقرامل ; وبه قال أحمد والقرامل جمع قرمل بفتح القاف وسكون الراء نبات طويل الفروع لين ، والمراد به هنا خيوط من حرير أو صوف يعمل ضفائر تصل به المرأة شعرها ، وفصل بعضهم بين ما إذا كان ظاهرا ، فمنع قوم الأول فقط لما فيه من التدليس وهو قوي ، ومنهم من أجاز الوصل مطلقا سواء كان بشعر آخر أو بغير شعر إذا كان بعلم الزوج وبإذنه ، وأحاديث الباب حجة عليه . ويستفاد من الزيادة في رواية قتادة منع تكثير شعر الرأس بالخرق كما لو كانت المرأة مثلا قد تمزق شعرها فتضع عوضه خرقا توهم أنها شعر . وقد أخرج مسلم عقب حديث معاوية هذا حديث أبي هريرة وفيه ونساء كاسيات عاريات رءوسهن كأسنمة البخت ، قال النووي يعني يكبرنها ويعظمنها بلف عمامة أو عصابة أو نحوها ، قال : وفي الحديث ذم ذلك .

"Dalam riwayatnya Qatadah dari Sa'id menurut Imam Muslim "Rasulullah mencegah perbuatan Az-Zur dan dalam akhirnya perlu diingat yag dimaksud az-zuur menurut Qatadah adalah sesuatu yang digunakan para wanita untuk memperbanyak rambutnya, seperti kain. Hadits ini sebagi Hujjah bagi mayoritas ulama dalam hukum dilarangnya menyambung rambut dengan sesuatu baik berupa rambut atau tidak. Pendapat ini dikuatkan oleh hadits dari Jabir; "Rasulullah SAW melarang perempuan menyambung rambutnya dengan sesuatu". (HR. Muslim).

Sedangkan menurut Al-Laits yg dinuqil oleh Abu Ubaidah dari para ulama ahli fikih, sesungguhnya yg dilarang adalah menyambung rambut dengan rambut, sedangkan apa bila disambung dengan selain rambut, seperti kain dsb, maka tidak dilarang.

Abu Dawud meriwayatkan hadits shahih dari Sa'id bin Jabir, beliau berkata; "Tidak dilarang menyambung rambut dengan qaramil". Dan demikianlah Ahmad berkata. Yang dimaksud dengan Qaramil adalah rumput yg daunnya dan lentur. Yang dikehendaki adalah benang-benang sutra atau bulu yg disambungkan rambut kepala wanita.

Sebagian Ulama memperinci jika terlihat maka dilarang, dan jika tidak terlarang, maka tidak dilarang.

Sebagian ulama ada yang memperbolehkan menyambung rambut, baik dengan rambut atau bukan, apabila dengan izin suami.

Dapat diambil kesimpulan dari tambahan hadits riwayat Qatadah, dilarang menyambung rambut dengan kain, sebagaimana jika ada wanita yang rontok rambutnya, kemudian diletakkan kain agar dikira rambut. Dan Imam Muslim telah meriwayatkan hadits setelah hadits Mu'awiyyah, yaitu hadits dari Abu hurairah:

ونساء كاسيات عاريات رءوسهن كأسنمة البخت

Imam An-Nawawi barkata: Perempuan itu membesarkan dan menonjolkan rambutnya dgn membalut atau menyambungkan dengan surban atau kain, atau sejenisnya. Kemudian Imam An-nawawi berkata: Hadits ini melarang perbuatan itu". (Lihat : Fathul Bari)

Kesimpulan

Kesimpulan ibarat di atas adalah, terjadi perbedaan pendapat tentang hukum menyambung rambut:
1. Jumhur Ulama: Dilarang secara mutlak baik dgn rambut atau dgn kain, dan sejenisnya.
2. Abu Laits (Al-laits): Dilarang hanya apa bila menyambung dgn rambut lain. Jika bukan rambut, maka boleh. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu dawud bahwa tdk dilarang menyambung rambut dgn Qaramil.
3. Sebagian Ulama; Boleh jika sambungan tersebut tdk terlihat, dan tidak boleh apa bila terlihat.
4. Sebagian ulama: Boleh menyambung rambut secara mutlak, baik memakai rambut atau tidak.
5. Syekh An-Nawawi: Haram secara mutlak baik dgn rambut atau dgn kain. dan itu yg dimaksud dgn "seperti punuk unta".

File Dokumen Fiqh Menjawab

Hukum Shalat Qabliyah Maghrib

Sholat sunnah Rawatib atau sholat sunnah yang mengiringi sholat maktubah baik sebelumnya (qobliyah) atau sesudahnya (ba'diyah), itu adakalanya Rawatib Muakad (sangat dianjurkan) dan Ghoir Muakad.

Rawatib Muakad (sangat dianjurkan) ada 10 rakaat yaitu:
1. 2 rokaat sebelum subuh
2. 2 rokaat sebelum dzuhur
3. 2 rokaat setelah dzuhur
4. 2 rokaat setelah maghrib
5. 2 rokaat setelah isya

Berdasar hadis Nabi saw

َوَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( حَفِظْتُ مِنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَشْرَ رَكَعَاتٍ : رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَلظُّهْرِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ , وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَلصُّبْحِ

Dari Ibnu Umar berkata: Aku menghapal dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam 10 rakaat yaitu: dua rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah Isya' di rumahnya, dan dua rakaat sebelum Shubuh. (HR. Bukhari Muslim)

Sedangakan Rawatib Ghoir Muakad ada 12 rokaat yaitu:
1. 2 rokaat lagi sebelum dzuhur (jadi 4 rokaat)
2. 4 rokaat sebelum ashar
3. 2 rokaat sesudah dzuhur
4. 2 rokaat sebelum maghrib
5. 2 rokaat sebelum isya

Jadi, jika digabung semua sholat sunnah rawatib baik yang muakad ataupun ghoir muakad maka semuanya 22 rokaat (10+12=22). (Kitab Bajuri juz 1 hal 198)

وغيره)، أي المؤكد منها (زيادة ركعتين قبل ظهر و) ركعتين (بعده) لخبر من حافظ على أربع ركعات قبل الظهر وأربع بعدها حرمه الله على النار رواه الترمذي وصححه. (وأربع قبل عصر) للاتباع رواه الترمذي وحسنه، (وركعتان خفيفتان قبل مغرب) للامر بهما في خبر أبي داود وغيره ولخبر الشيخين بين كل أذانين صلاة

(Fathul Wahhab juz 1 hlm 91)

وهل يستحب ركعتان قبل صلاة المغرب ؟ وجهان قال النووي : الصحيح استحبابهما ففي صحيح البخاري [ صلوا قبل صلاة المغرب قال في الثالثة لمن شاء ] وفي مسلم [ كانوا يبتدرون السواري لهما إذا أذن المغرب حتى إن الرجل ليدخل المسجد فيحسب أن الصلاة قد صليت
لكثرة من يصليهما ] والثاني لا يستحبان لما روى ابن عمر رضي الله عنهما قال : [ ما رأيت أحدا يصلي الركعتين قبل المغرب على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم ] رواه الترمذي بإسناد حسن والله أعلم قال

(Kitab Kifayatul akhyar)

(فرع) في استحباب ركعتين قبل المغرب وجهان مشهوران في طريقة الخراسانيين (الصحيح) منهما
الاستحباب لحديث عبد الله بن مغفل رضي الله عنه أن النبي صلي الله عليه وسلم قال " صلوا قبل صلاة المغرب قال في الثالثة لمن شاء " رواه البخاري في مواضع من صحيحه وعن أنس رضي الله عنه " قال رأيت كبار أصحاب رسول الله صلي الله عليه وسلم يبتدرن السواري عند المغرب " رواه البخاري وعنه قال كنا نصلي علي عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ركعتين بعد غروب الشمس قبل المغرب فقلت أكان النبي صلى الله عليه وسلم صلاها قال كان يرانا نصليها فلم يأمرنا ولم ينهنا رواه مسلم وعنه قال كنا بالمدينة وإذا أذن المؤذن بصلاة المغرب ابتدروا

(Kitab Majmu' juz 4 hlm 8)

وفي استحباب ركعتين قبل المغرب وجهان وبالاستحباب قال أبو إسحق الطوسي وأبو زكريا السكري قلت الصحيح استحبابهما ففي مواضع من صحيح البخاري عن ( عبد الله ) بن مغفل رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال صلوا قبل صلاة المغرب قال في الثالثة لمن شاء

(Kitab Raudotuth Thalibin juz 1 hlm 327)

File Dokumen Fiqh Menjawab

Mandi atau Wudlu Pakai Air Panas atau Hangat

Salah satu syarat dalam sholat ataupun ibadah lainnya adalah harus suci dari hadas baik itu hadas besar maupun kecil. Hadas besar bisa suci dengan cara mandi, sedangkan hadas kecil cukup dengan wudlu, yang keduanya dilakukan dengan menggunakan air sebagai sarananya.

Hubungannya dengan air yang boleh digunakan untuk bersuci, maka air dibagi menjadi 4 jenis, yang nomor 2 adalah:

(و) الثاني (طاهر مطهر مكروه استعماله) في البدن لا في الثوب(وهو الماء المشمس) أي المسخن بتأثير الشمس فيه، وإنما يكره شرعاً بقطر حار في إناء منطبع، إلا إناء النقد لصفاء جوهرهما، وإذا برد زالت الكراهة، واختار النووي عدم الكراهة مطلقاً، ويكره أيضاً شديد السخونة والبرودة

"Yang kedua yaitu air yang suci mensucikan tapi makruh menggunakannya pada badan bukan pada pakaian. Air tersebut adalah air yang dipanaskan dengan perantara sinar matahari. Kemakruhan tersebut jika air dipanaskan secara langsung dan berada pada suatu wadah, kecuali wadah/bejana yang terbuat dari emas atau perak. Hal ini karena berkialaunya benda tersebut. Ketika panas air telah hilang menjadi dingin maka kemakruhannya hilang.

Imam Nawawi memilih pendapat tentang air yang dipanaskan dengan sinar matahari langsung itu hukumnya tidak makruh secar mutlak (baik panas maupun dingin). Dan juga dimakruhkan menggunakan air yang sangat panas atau sangat dingin." (Kitab Fathul Qarib hlm 3)

Jadi, mandi atau wudlu dengan menggunakan air panas atau hangat yang dipanaskan selain dengan sinar matahari langsung seperti dengan air yang dimasak atau dengan menggunakan listrik maka hukumnya boleh dan tidak makruh. Kecuali jika dengan menggunakan air yang sangat panas atau sangat dingin, maka hal ini bisa makruh hukumnya sebab bisa merusak badan atau kulit.

File Dokumen Fiqh Menjawab

Jual Beli Jangkrik, Ulat, Kroto

Di masyarakat akhir-akhir ini marak dengan budidaya jangkrik, ulat dan sejenisnya. Menurut teori ekonomi, bisnis ini mempunyai prospek cerah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat karena dengan modal sedikit dan teknis pemeliharaan yang relatif mudah orang akan mendapatkan keuntungan besar.

Pertanyaan:

a. Bagaimana hukumnya membudidayakan (beternak) jangkrik, ulat dan sejenisnya tersebut?
b. Bagaimana hukumnya jual beli jangkrik, ulat dan sejenisnya?
c. Kalau tidak boleh, bagaimana solusinya, mengingat hal tersebut sudah memasyarakat?

Jawaban :
Hukum membudidayakan (poin a) dan jual beli (poin b) jangkrik, ulat dan sejenisnya terdapat perbedaan pendapat ulama. Menurut ulama Syafi’iyah tidak boleh karena tidak ada manfaat yang dilegitimasi oleh syara’. Sedangkan menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah boleh.

Referensi :

1. Mauhibah Dzi al-Fadl, Juz I, Hal. 452
2. al-Mughni ‘Ala Syarah al-Kabir, Juz IV, Hal. 239
3. al-Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah, Juz II, Hal. 3
4. al-Majmu’ ‘Ala Syarah al-Muhadzdzab, Juz IX, Hal. 16
5. al-Jamal, Juz III, Hal. 25
6. al-Bujairimi ‘Ala al-Manhaj, Juz II, Hal. 178
7. al-Fiqh ‘ al-Islami Wa Adillatuh, Juz IV 446-447 dan 181-182

وعبارته :

1. والخنزير لأنه اسوأ حالا من الكلب إذ لا يفتنى بحال (قوله لا يفتنى بحال) أي لا يجوز اقتناؤه بحال مع نأتي الانتفاع به فحينئذ هذا المنع لا لنجاسته فلا نرد الحشرات لأن منع اقتنائه لعدم نفعها عبارة النهاية ولأنه مندوب الى قتله من غير ضرر فيه منصوص على تحريمه ولا ينتقض بالحشرات ونحوها إذ لا تقبل الإنتفاع والإقتناء اهـ (موهبة ذي الفضل، جـ1، صـ 452)

2. ولنا ان الدود حيوان طاهر يجوز اقتناؤه لتملك ما يخرج منه اشبه البهائم، اهـ (المغنى على شرح الكبير، جـ 4، صـ 239)

3. اما اذا اعتاد قوم اكلها ولم تضرهم وقبلتها انفسهم فالمشهور عندهم انها لا تحرم (الفقه على مذاهب الأربعة، جـ2، صـ 3)

4. (فرع) فى مذاهب العلماء فى حشرات الارض الى ان قال وقال مالك حلال لقوله تعالى قل لا اجد فيما اوحي الي محرما على طاعم يطعمه الا ان يكون ميتة او دما مسفوحا او لحم خنزير (المجموع على شرح المهذب، جـ9، صـ 16)

5. فلا يصح بيع حشرات لا تنفع وهي صغار دواب الارض كحية وعقرب وفأرة وخنفساء إذ لا نفع فيها يقابل بالمال وإن ذكر لها منافع فى الخواص بخلاف ما ينفع منها كضب لمنفعة أكلها وعلق لمنفعة امتصاص الدم قوله إذ لا نفع فيها يقابل بالمال اي لا نفع يعتبر ويقصد شرعا بحيث يقابل بمال لأنه المراد فالمدار على ان يكون فيه منفعة مقصودة معتد بها شرعا بحيث تقابل بالمال وإن لم تكن من الوجه الذي يراد الإنتفاع به منه اهـ (الجمل، جـ 3، صـ 25)

6. فلا يصح بيع حشرات لا تنفع قال الشارح اذ عدم النفع إما للقلة كحبتي بر وإما للخسة كالحشرات (البجيرمي على المنهج، جـ 2، صـ 178)

7. ويصح بيع الحشرات والهوام كالحيات والعقارب اذا كان ينتفع به والضابط عندهم (المالكية) ان كل ما فيه منفعة تحل شرعا لان الاعيان خلقت لمنفعة الانسان بدليل قوله تعالى هو الذي خلق لكم ما فى الارض جميعا (الفقه الاسلامى وأدلته، جـ 4، صـ 446-447)

8. ولم يشترط الحنفية هذا الشرط (ان يكون البيع طاهرا لا نجسا) فأجازوا بيع النجاسات كشعر الخنزير وجلد الميتة لانتفاع بها الا ما ورد النهي عن بيعه منها كالخمر والخنزير والميتة والدم كما اجازوا بيع الحيوانات المتوحشة والمذحس الذي يمكن الانتفاع به فى الأكل والضابط عندهم ان كل ما فيه منفعة تحل شرعا فإن بيعه يجوز لأن الأعيان خلقت لمنفعة الإنسان (الفقه الاسلامى

File Dokumen Fiqh Menjawab


Hukum KB (Keluarga Berencan)

Hukum KB (Keluarga Berencana), baik dengan suntik, pil atau spiral :

- Bila niatnya mengatur jarak kelahiran, maka hukumnya boleh. Apalagi kalau tujuannya agar pendidikan anak- anaknya menjadi lebih terarah.

- Bila niatnya memutus atau menghentikan kelahiran, maka hukumnya haram, terkecuali ada udzur syar’i, misalnya kata dokter yang ahli lagi adil, ada masalah besar yang membahayakan jiwanya jika mengandung.

وعبارته: واما استعمال ما يقطع الحبل من اصله فهو حرام بخلاف ما يقطعه بل يبطئه مدة فلا يحرم بل ان كان لعذر كتربية ولد لم يكره ايضا

(Syarqowi juz 2 hlm 332)

Fenomena Keluarga Berencana (KB) dalam Islam

Di antara maksud dan tujuan agama Islam (maqasidh as Syari’ah) dari adanya pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan (littanaasul) dan menghindari suami atau isteri jatuh kepada perbuatan zina. Oleh karena itu, dalam banyak hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk menikahi wanita yang penyayang dan subur (untuk memperoleh keturunan).Dalam hadits disebutkan,

تَزَوَّجُوا اَلْوَدُودَ اَلْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اَلْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ

"Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat." (HR. Bukhori Muslim)

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhmahfudz)." (QS. Hud : 6)

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar." (QS. Al Israa : 31)

Pengertian KB 

Pemahaman KB ada dua pengertian :

1. KB dapat dipahami sebagai suatu program nasional yang dijalankan pemerintah untuk mengurangi populasi penduduk, karena diasumsikan pertumbuhan populasi penduduk tidak seimbang dengan ketersediaan barang dan jasa. Dalam pengertian ini, KB didasarkan pada teori populasi menurut Thomas Robert Malthus. KB dalam pengertian pertama ini diistilahkan dengan tahdid an-nasl (pembatasan kelahiran).

2. KB dapat dipahami sebagai aktivitas individual untuk mencegah kehamilan (man’u al-hamli) dengan berbagai cara dan sarana (alat) kontrasepsi. Misalnya dengan kondom, IUD, pil KB, dan sebagainya. KB dalam pengertian kedua diberi istilah tanzhim an-nasl (pengaturan kelahiran).

Pemakaian Alat Kontrasepsi

Di dunia kedokteran tersedia banyak jenis alat kontrasepsi.
- Sebagian dari alat itu ada yang dianggap tidak sejalan dengan hukum Islam, seperti yang berfungsi membunuh janin. Adalagi yang berfungsi membunuh zygot, untuk pemakaian alat kontrasepsi jenis ini HARAM dalam islam karena bertentangan dengan maksud tujuan agama Islam (maqasidh Assyari’ah) dari adanya pernikahan diatas disamping sebagian dari para ulama juga berpandangan bahwa zygot itu pun harus dihormati layaknya manusia.

- Namun bila pemakaian alat kontrasepsi tidak sampai membunuh janin atau zygot, melainkan hanya berfungsi untuk menghalangi terjadinya pembuahan oleh sementara kalangan ulama dipandang BOLEH untuk digunakan dengan catatan ada udzur syar'i mencanangkan keluarga berencana demi mengatur jarak kelahiran anak agar nasib anak bisa lebih terawat, mensejahterakan keluarga dll.

- Sedangkan pemakaian alat kontrasepsi yang tidak sampai membunuh janin atau zygot dengan tanpa adanya udzur syar'i hukumnya MAKRUH.

File Dokumen Fiqh Menjawab

Mensucikan Najis Pada Kasur

Najis yang menempel atau mengenai karpet atau kasur seperti ompol anak kecil kadang membuat bingung cara mensucikannya. Jika disiram dengan air maka akan merusak barang tersebut, dan jika tidak dibersihkan najis tersebut atau dibersihkan tapi tidak sampai suci maka akan tetap dihukumi najis.

Cara mensucikan kasur atau karpet tersebut masih harus diperinci:

- Jika setelah dijemur, kasur tersebut masih mengandung salah satu dari warna, bau dan rasa ompol, maka najis di kasur tersebut dihukumi najis ‘ainiyyah. Sehingga cara mensucikannya harus disiram air sampai hilang sifat najisnya (warna, rasa, bau).

-Jika setelah dijemur, kasur tersebut sudah tidak mengandung seluruh sifat najis, maka najis tersebut dihukumi najis hukmiyyah, sehingga cukup dialiri air satu kali saja.

(وغسل جميع الأبوال والأرواث واجب إلا بول الصبي الذي لم يأكل الطعام فإنه يطهر برش الماء عليه). حجة الوجوب حديث الأعرابي وغيره، وأما كيفية الغسل فالنجاسة تارة تكون عينية أي تشاهد بالعين وتارة تكون حكمية أي حكمنا على المحل بنجاسته من غير أن ترى عين النجاسة فإن كانت النجاسة عينية فلا بد مع إزالة العين من محاولة إزالة ما وجد منها من طعم ولون وريح فإن بقي طعم النجاسة لم يطهر المحل المتنجس لأن بقاء الطعم يدل على بقاء النجاسة وصورته فيما إذا تنجس فمه وإن بقي الأثر مع الرائحة لم يطهر أيضاً وإن بقي لون النجاسة وحده وهو غير عسر الإزالة لم يطهر إلى أن قال وأما النجاسة الحكمية فيشترط فيها الغسل أيضاً. والحاصل أن الواجب في إزالة النجاسة غسلها المعتاد بحيث ينزل الماء بعد الحت والتحامل صافياً إلا في بول الصبي الذي لم يطعم ولم يشرب سوى اللبن

(Kifayah Al Akhyar juz 1 hlm 66)

أما إذا طرأ مناقض لا باختياره ولا بتقصيرة فإن أزاله في الحال كمن انكشفت عورته فسترها في الحال أو وقعت عليه نجاسة يابسة فنفضها في الحال أو ألقى الثوب الذي وقعت عليه في الحال فصلاته صحيحة

(Roudloh Al Tholibin Wa ‘Umdah Al Muftiyyin, juz 1 hlm 100)

(قال الشافعي) رضى الله عنه إلى أن قال فإذا أصابتهما نجاسة يابسة لا رطوبة فيها فحكهما حتى نظفا وزالت النجاسة عنهما صلى فيهما

(Al Um juz 1 hlm 74)

Namun menurut kalangan Hanafiyah, bila sifat-sifat suatu najis sudah dapat hilang dengan dijemur pada sinar matahari maka kasur tersebut sudah dihukumi suci.

[إذا أصاب الارض نجاسة ذائبة في موضع ضاح فطلعت عليه الشمس وهبت عليه الريح فذهب اثرها ففيه قولان قال في القديم والاملاء يطهر لانه لم يبق شئ من النجاسة فهو كما لو غسل بالماء وقال في الام لا يطهر وهو الاصح لانه محل نجس فلا يطهر بالشمس كالثوب النجس]* [الشَّرْحُ] هَذَانِ الْقَوْلَانِ مَشْهُورَانِ وَأَصَحُّهُمَا عِنْدَ الْأَصْحَابِ لَا يَطْهُرُ كَمَا صَحَّحَهُ الْمُصَنِّفُ وَنَقَلَهُ الْبَنْدَنِيجِيُّ عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ فِي عَامَّةِ كُتُبِهِ وَحَكَى فِي الْمَسْأَلَةِ طَرِيقَيْنِ أَحَدُهُمَا فِيهِ الْقَوْلَانِ وَالثَّانِي القطع بأنها لا تطهر وتأويل نصفه عَلَى أَرْضٍ مَضَتْ عَلَيْهِ سُنُونَ وَأَصَابَهَا الْمَطَرُ ثُمَّ الْقَوْلَانِ فِيمَا إذَا لَمْ يَبْقَ مِنْ النجاسة طعم ولا لون ولا رائحة ومن قَالَ بِأَنَّهَا لَا تَطْهُرُ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَزُفَرُ وَدَاوُد وَمِمَّنْ قَالَ بِالطَّهَارَةِ أَبُو حَنِيفَةَ وَصَاحِبَاهُ ثُمَّ قَالَ الْعِرَاقِيُّونَ هُمَا إذَا زَالَتْ النَّجَاسَةُ بِالشَّمْسِ أَوْ الرِّيحِ فَلَوْ ذَهَبَ أَثَرُهَا بِالظِّلِّ لَمْ تَطْهُرْ عِنْدَهُمْ قَطْعًا وَقَالَ الْخُرَاسَانِيُّونَ فِيهِ خِلَافٌ مُرَتَّبٌ وَأَمَّا الثَّوْبُ النَّجِسُ بِبَوْلٍ وَنَحْوِهِ إذَا زَالَ أَثَرُ النَّجَاسَةِ مِنْهُ بِالشَّمْسِ فَالْمَذْهَبُ القطع بأنه لا يطهر وبه قطع العرقيون وَنَقَلَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ عَنْ الْأَصْحَابِ أَنَّهُمْ طَرَدُوا فِيهِ الْقَوْلَيْنِ كَالْأَرْضِ قَالَ وَذَكَرَ بَعْضُ الْمُصَنِّفِينَ يَعْنِي الْفُورَانِيَّ أَنَّا إذَا قُلْنَا يَطْهُرُ الثَّوْبُ بِالشَّمْسِ فَهَلْ يَطْهُرُ بِالْجَفَافِ فِي الظِّلِّ فِيهِ وَجْهَانِ وَهَذَا ضَعِيفٌ قَالَ الْإِمَامُ وَلَا شَكَّ أَنَّ الْجَفَافَ لَا يَكْفِي فِي هَذِهِ الصُّورَةِ فَإِنَّ الْأَرْضَ تَجِفُّ بِالشَّمْسِ عَلَى قُرْبٍ وَلَمْ يَنْقَلِعْبَعْدُ آثَارُ النَّجَاسَةِ فَالْمُعْتَبَرُ انْقِلَاعُ الْآثَارِ عَلَى طُولِ الزَّمَانِ بِلَا خِلَافٍ وَكَذَا الْقَوْلُ فِي الثِّيَابِ وَقَوْلُ الْمُصَنِّفِ (مَوْضِعٌ ضَاحٍ) هُوَ بِالضَّادِ الْمُعْجَمَةِ قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ هُوَ الْبَارِزُ والله أعلم

(Al-Majmuu’ ala Syarh al-Muhadzdzab juz 2 hlm 596)

File Dokumen Fiqh Menjawab

Menikah Dengan Jin

Dalam literatur klasik (fiqh), wacana perkawinan lintas alam ini masih menjadi perdebatan antar ulama. Akan tetapi, perdebatan ini hanya meruang seputar masalah apakah sama-sama jenis manusia, menjadi klausul (syarat) dalam keabsahan nikah. Menurut Syaikh Imad bin Yûnus yang didukung oleh Syaikh Ibn Abdissalam, pernikahan manusia dengan jin hukumnya haram dan tidak sah karena berbeda jenis makhluk. Pendapat ini didasarkan pada firman Alloh;

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا

"Alloh menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu." (QS. An-Nahl : 72)

Dalam ayat ini Alloh telah menjadikan pasangan manusia dari bangsa manusia sendiri agar manusia bisa sempurna merasakan kedamaian bersama pasangannya. Apabila pasangan bukan dari bangsa sendiri, niscaya kedamaian itu tidak akan dirasakan manusia. Versi ini juga menyitir sebuah hadits Rasululloh saw. yang melarang nikah dengan bangsa jin, "Rasululloh saw. melarang menikahi jin."

Sedangkan menurut Imam aL-Qomuly, pernikahan manusia dengan jin hukumnya sah namun makruh, dan qaul inilah yang dinilai mu'tamad (dijadikan pegangan) oleh Imam Ramli. Versi ini mengatakan bahwa pernikahan lintas alam juga menjanjikan kedamaian kendati tidak optimal, dan larangan dalam hadits tersebut bukan bermakna haram melainkan sekedar makruh. Versi ini juga diperkuat dengan fakta bahwa bangsa jin juga terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan layaknya bangsa manusia, bahkan jin juga disebut oleh Nabi sebagai "ikhwanuna" (kawan kita). Dan juga diperkuat lagi oleh sejarah perkawinan nabi Sulaimân dengan Bilqis yang merupakan anak dari pasangan jin dan manusia.

ﻭﻋﺪ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﺍﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﺠﻨﺲ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻶﺩﻣﻲ ﻧﻜﺎﺡ ﺟﻨﻴﺔ، ﻭﺑﺎﻟﻌﻜﺲ. ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻌﻤﺎﺩ ﺑﻦ ﻳﻮﻧﺲ، ﻭﺃﻓﺘﻰ ﺑﻪ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﺗﺒﻌﻪ ﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﺍﻋﺘﻤﺪﻩ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ، ﻗﺎﻝ ﻷﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻣﺘﻦ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺠﻌﻞ ﺍﻷﺯﻭﺍﺝ ﻣﻦ ﺃﻧﻔﺴﻨﺎ ﻟﻴﺘﻢ ﺍﻟﺘﺂﻧﺲ ﺑﻬﺎ. ﺃﻱ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻭﻣﻦ ﺁﻳﺎﺗﻪ ﺃﻥ ﺧﻠﻖ ﻟﻜﻢ ﻣﻦ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﺃﺯﻭﺍﺟﺎ. ﻭﺟﻮﺍﺯ ﺫﻟﻚ ﻳﻔﻮﺕ ﺍﻻﻣﺘﻨﺎﻥ، ﻭﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ: ﻧﻬﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻋﻦ ﻧﻜﺎﺡ ﺍﻟﺠﻦ. ﻭﺧﺎﻟﻒ ﺍﻟﻘﻤﻮﻟﻲ ﻓﺠﻮﺯ ﺫﻟﻚ ﻭﺍﻋﺘﻤﺪﻩ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﺮﻣﻠﻲ، ﻭﺃﺟﻴﺐ ﻋﻦ ﺍﻵﻳﺔ ﺑﺄﻥ ﺍﻹﻣﺘﻨﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ ﺑﺄﻋﻈﻢ ﻷﻣﺮﻳﻦ ﻭﻫﻮ ﻻ ﻳﻨﺎﻓﻲ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻵﺧﺮ، ﻭﺍﻟﻨﻬﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻟﻠﻜﺮﺍﻫﺔ، ﻻ ﻟﻠﺘﺤﺮﻳﻢ

(I'anatut Tholibin juz 3 hlm 284)

( فلا يجوز للآدمي نكاح جنية ) أي وعكسه اعتمده حج قال لأن الله تعالى امتن علينا بجعل الأزواج من أنفسنا ليتم التآنس بها أي في قوله تعالى { ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا } واز ذلك يفوت الامتنان
وفي حديث نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نكاح الجن وأجيب بأنه يجوز أن يكون الامتنان بأعظم الأمرين والنهي للكراهة لا للتحريم ح ل وعلى كلام القمولي الذي هو المعتمد لو جاءت امرأة جنية للقاضي وقالت له لاولي لي خاص وأريد أن أتزوج بهذا جاز له العقد عليها ومثلها الإنسية لو أرادت التزويج بجني ا هـ شيخنا عزيزي

(Hasyiyah al Bujairomi juz 3 hlm 359)

File Dokumen Fiqh Menjawab

Hukum Terasi

Pembuatan terasi pada umumnya dari ikan-ikan kecil atau udang yang digiles atau dilembutkan bareng dengan kotoran-kotorannya.

Dalam hal ini Imam Ibnu Hajar dan Imam Romli sepakat bahwa apa saja yang terdapat dalam ikan-ikan kecil, baik darah atau kotoran dianggap suci dan diperbolehkan memakannya meskipun bersamaan kotoran. Bahkan Imam Romli memutlakkan, baik ikan besar atau kecil sama saja.

عبارته : وقد اتفق ابن حجر وزياد و م ر وغيرهم على طهارة ما في جوف السمك الصغير من الدم والروث وجواز أكله معه وإنّه لا ينجس به الدهن بل جرى عليه م ر الكبير ايضا لأن لنا قولا قويا أن السمك لادم له

(Kitab Kitab Nihayatuzzain : 43)

وأما حكم الروث فيعفى عنه في السمك الصغير دون الكبير فلا يجوز أكله إذا لم ينزع ما في جوفه لامتزاج لحمه بفضلاته التي في باطنه بواسطة الملح

(Kitab Kitab Bughyatul Mustarsyidin : 15)

Karena dihukumi suci, maka tidak berefek pada sholat. Baik jika terasi itu mengenai pakaian yang akan dipakai untuk sholat atau membersihkan mulut kita setelah makan makanan yang tercampur terasi.

File Dokumen Fiqh Menjawab

Posisi Tangan Saat I'tidal

Terjadi perbedaan pendapat tentang kesunnahan bersedekap atau tidaknya tangan sewaktu I’tidal karena tidak terdapatkannya satu hadits yang secara pasti mejelaskan tentang sedekap ketika i'tidal, kecuali dua hadits yang dipergunakan sebagian ulama untuk menunjukkan sunnahnya perbuatan ini.

كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُوْنَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِيْ الصَّلاَةِ

"Orang-orang dahulu diperintahkan untuk meletakkan tangan kanannya di atas hasta tangan kirinya dalam shalat." [HR. Bukhari].

كَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُوْدَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ

"Apabila mengangkat kepalanya (bangkit dari ruku'), maka beliau Saw meluruskan (badannya) hingga semua rangkaian tulang belakangnya kembali ke posisinya." [HR. Bukhari]

Kedua hadits di atas tidak secara jelas menunjukkan hukum perbuatan tersebut. Oleh karena itu, para ulama berbeda pendapat dalam mensikapi permasalahan sedekap, dan perbedaan pendapat ini sudah berlangsung sejak zaman Imam Ahmad bin Hambal sedang memurut Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm dan dalam literatur kitab-kitab Fiqh Syafi'iyyah yang lain posisi tangan sewaktu i'tidal yang lebih utama dilepas (tidak bersedekap) kecuali bila dikhawatirkan terjadi 'abats (mengganggu konsentrasi dalam sholat).

Kalangan Syafi'iyyah lebih cenderung memilih melepaskan kedua tangan lurus kebawah saat i'tidal

أما زمن الاعتدال فلا يجمعهما تحت صدره بل يرسلهما سواء كان في ذكر الاعتدال أو بعد الفراغ من القنوت ا ه ع ش

"Menurut Imam Ali Syibromalisiy saat I’tidal maka janganlah mengumpulkan kedua tangan dibawah dada tapi lepaskan keduanya baik saat membaca doa/dzikiran I’tidal atau setelah rampung dari membaca Doa Qunut." (Hasyiyah al-Jamal ‘ala al-Manhaj juz 2 hlm 38)

Begitu juga menurut Qoul Mu'tamad (Imam Ibnu Hajar, Imam Romli dan Imam Syibromalisiy) lebih utama melepas kedua tangan pada kedua lambung.

.فإذا استوى قائما أرسلهما إرسالا خفيفا تحت صدره، قوله تحت صدره هو قول ض رده حج والمعتمد كما فيه و في م ر و ع ش عليه أنه يرسلهما إلى جانبيه

(Syarqawi juz 1 hlm 199)

File Dokumen Fiqh Menjawab

Operasi Cesar

Melahirkan (wiladah) termasuk salah satu perkara yang mewajibkan mandi. Akan tetapi sering kita jumpai proses melahirkan dengan keluarnya bayi tidak melalui farji ibunya, melainkan dengan cara operasi cesar.

Melahirkan dengan cara opersai cesar maka hukum mandi wajibnya para Ulama berbeda pendapat (khilaf).
- Tetap wajib mandi, menurut pendapat yang adzhar (lebih kuat).
- Tidak wajib mandi.

ويجب الغسل على من ولدت من غير الطريق المعتاد لثبوت أمية الولد به

(Tausyeh 'alabni Qosim hlm 25 atau Hasyiyah Bajuri juz 1 hlm 111)

ولو ولدت من غير طريقه المعتاد فالذي يظهر وجوب الغسل أخذا مما قالوه من ثبوت أمية الولد به ومما بحثه م ر فيما لو قال: إن ولدت فأنت طالق فألقته من غير طريقه المعتاد حيث يقع فليحرر وقد يتجه عدم وجوب الغسل لأن علته خروج المني ولا عبرة بخروجه من غير طريقه المعتاد مع انفتاح الأصلي وقد يفرق بينه وبين ما مر اهـ ما قاله ق ل ا ج وقوله: وقد يفرق بينه أي بين عدم وجوب الغسل وبين ثبوت أمية الولد ووقوع الطلاق وصورة الفرق: أن أمية الولد منوطة بالولادة وقد حصلت ولو من غير طريقها المعتاد ووجوب الغسل بخروج المني من طريقه ولم يوجد قلت: وقد يرد الفرق ويقال بوجوب الغسل بأنه إنما وجب هنا للولادة لا لخروج المني بقيده الذي ذكره فالولادة غير خروج المني والغسل يجب بكل منهما فإذا كان الخارج منيا تقيد بمحله كما ذكر والولادة لا تتقيد إذ المقصود خروج الولد من أي محل فليتأمل ذكر ذلك م د وعبارة الإطفيحي: وينبغي أن يأتي فيه ما تقدم من التفصيل في انسداد الفرج بين الأصلي والعارض فإن كان الإنسداد أصليا قيل لها ولادة وكانت موجبة للغسل وإلا فلا لأن خروج الولد من جنبها مثلا مع انفتاح فرجها لا يسمى ولادة وشملت الولادة ما لو كان الولد من غير صورة الآدمي حيث علم أنه أصل آدمي اهـ

(Hasyiyah Bujairami 'alal Khotib juz 1 hlm 232)

File Dokumen Fiqh Menjawab