Harta Hanyalah Titipan

Posted by Nasyit Manaf on Thursday, July 09, 2015 with No comments

Alkisah, zaman dulu kala di kota Baghdad, Nasruddin, nama seorang laki-laki paruh baya, keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi keuangan keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya, yaitu sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tidak dibelikan pakaian, istrinya-pun sering marah-marah karena tidak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Nasruddin sudah tidak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan yang layak baginya dan keluarganya. 

Ketika ia itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Yah, hanya sebuah koin kuno 1 dinar yang sudah penyok-penyok pula,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah tempat penukaran uang atau semacam Bank. 

“Sebaiknya koin ini Anda bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata petugas kasir yang ia temui itu memberi saran. Nasruddin-pun mengikuti anjuran kasir tersebut, membawa koinnya ke kolektor uang koin di sudut kota Bagdad. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin penyok itu senilai 50 Dinar. Begitu senangnya, Nasruddin mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang dijual obral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya rak tempat untuk menyimpan jambangan dan toples di rumahnya. 

Sesudah membeli kayu seharga 30 Dinar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul Nasruddin tersebut. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 200 Dinar kepada Nasruddin. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki paruh baya itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu sesuai kehendaknya asal ia mau menukarkan kayunya. Kebetulan di sana ada lemari bagus dan mahal yang pasti disukai istrinya. Akhirnya Nasruddin menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari mewah tersebut. Dia pun segera membawanya pulang. 

Di tengah perjalanan dia melewati Kompleks perumahan pejabat Kerajaan. Seorang wanita istri pejabat yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita kaya terpikat dan menawar dengan harga 500 Dinar. Ketika Nasruddin nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya dua kali lipat menjadi 1000 Dinar. Nasruddin-pun langsung setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang. Betapa bahagianya hatinya, dimana ia tidak sengaja menemukan koin 1 dinar yang sudah kuno dan penyok yang berubah menjadi uang 1000 Dinar. Terbayang ia akan dapat membahagiakan anak dan istrinya dengan 1000 Dinar tersebut. Ia membayangkan bisa membeli kuda bagus, perabotan serta pakaian yang ia sukai. 

Di pintu kampung dekat rumahnya dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran sernilai 1000 Dinar sambil membayangkan perasaan bahagia istrinya. Namun malang tak dapat ditolak, pada saat itu sekawanan Perampok ganas keluar dari semak-semak, mengacungkan pedang, merampas uang itu, lalu kabur. Tidak jauh dari lokasi tempat ia dirampok tersebut, istri Nasruddin kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi Bang? Engkau baik-baik saja khan ? Apa yang diambil oleh perampok tadi?” Nasruddin dengan tanpa perasaan menyesal sedikitpun, ia hanya mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa istriku. Mereka hanya mengambil sebuah koin kuno 1 dinar yang sudah penyok-penyok yang kutemukan tadi pagi”. 

Hikmah dibalik kisah di atas mengingatkan kepada kita bahwa hidup di dunia yang hanya "mampir ngombe" dengan segala keindahan dan kemewahan harta yang kita peroleh hanyalah sebuah titipan dari Allah. Tapi, terkadang kita merasa bahwa apa yang sudah kita raih adalah milik kita. Kita selama ini merasa bahwa rumah, kendaraan, keluarga, anak, harta benda dan uang yang kita kumpulkan adalah sepenuhnya menjadi milik kita. Bila kita sadar sesungguhnya kita tidak pernah memiliki apapun. Persis seperti kisah Nasruddin di atas yang dalam sekejap ia dititipi uang hingga 1000 Dinar, namun ia tidak menyesal dan sakit hati kala yang dititipkannya diambil. Allah Swt berfirman,

آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7)

Ayat ini memberi petunjuk bahwa harta hanyalah titipan Allah karena Allah Ta’ala firmankah (yang artinya), “Hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” Hakikatnya, harta tersebut adalah milik Allah. Allah Ta’ala yang beri kekuasaan pada makhluk untuk menguasai dan memanfaatkannya.

Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan, “Ayat ini merupakan dalil bahwa pada hakekatnya harta itu milik Allah. Hamba tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah ridhoi. Siapa saja yang menginfakkan harta pada jalan Allah, maka itu sama halnya dengan seseorang yang mengeluarkan harta orang lain dengan seizinnya. Dari situ, ia akan mendapatkan pahala yang melimpah dan amat banyak. ”

Al Qurtubhi rahimahullah sekali lagi mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa harta kalian pada hakikatnya bukanlah milik kalian. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta yang sebenarnya. Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk memanfaatkan harta tersebut di jalan yang benar sebelum harta tersebut hilang dan berpindah pada orang-orang setelah kalian.”