Sumpahku; Saya Tak Akan Cium Tangan Gus Dur

Posted by Nasyit Manaf on Monday, July 06, 2015 with No comments
Ilustrasi mencium tangan Gus Dur
Saat nyantri di sebuah pesantren, bahkan awal-awal kuliah ada 2 hal yang ekstrim dan kaku dalam cara pandang dan sikap keislamanku. Pertama, saya anti Pancasila. Kedua, sumpahku: "saya tidak akan cium tangan Gus Dur". Mengapa? Wali ke-10 ini, dulu saat saya baru melek dunia intelektual, bagi saya Gus Dur merusak Islam, agen Yahudi dan pemikirannya aneh, nyeleneh dan bikin pusing. Gak mudeng!
Padahal, secara sosiologi dan budaya saya lahir dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU). KH. Zayyadi, kakekku adalah santri dari Mbah Kholil. Waliyullah dan guru bagi kiai-kiai se-Madura dan Jawa. Satu “kotakan”, gubuk dan ruangan dengan KH. As’ad Syamsul Arifin Situbondo.
Bagaimana saya bisa cinta pemikiran keislaman Gus Dur? Bagaimana saya batalkan sumpah, bahkan dengan lahap mencium tangannya?
Akhir tahun 1999, pasca lepas dari sektariat Golkar di MPR, saya ngajar di SMU Madania Bogor. Sekolah berasrama ini digagas oleh Cak Nur. Di sinilah saya mulai dekat, mengenal, membaca dan sesekali ngobrol bila beliau datang. Secara intens saya diasah oleh suhu Nafis, muridnya dan direktur boarding ini. Sejak itu saya menikmati garis metodologi dan ideologi keislaman, keindonesian dan kemodernan. Akrablah saya dengan istilah inklusivisme, al-hanifiyat al-samhah, toleransi, pluralisme, egaliter, Piagam Madinah dll. Pokoknya wacana Islam kontemporer.
Saat nempuh S-2, saya lebih dekat lagi dengan Cak Nur. Saya jadi staf di Yayasan Wakaf Paramadina. Bahkan diusulkan jadi sekpri beliau. Tak jadi karena hal lain.
Cak Nur dan Gus Dur itu berkeluarga dan berkarib sangat dekat. Itulah penyambung saya ke Gus Dur. Kapan saya awal kali nyium tangan Gus Dur?
Saat ultah Paramadina. Saat itu saya jadi penanggung jawab Klub Kajian Agama (KKA). Rangkaian acaranya, salah satunya bedah buku. Lokasinya di kampus Paramadina. Narsumbernya Gus Dur dan Kang Jalal.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Para undangan yang terdiri dari para menteri, pejabat, dosen, para civitas kampus dan jamaah sudah resah. Gus Dur tidak muncul-muncul. Sebagai penanggung jawab acara saya panas dingin. Ketua Yayasan sudah gak sabar dan minta tanggung jawabku.
Saya telpon mas Sulaiman, ajudan Gus Dur. Beliau ada di PBNU. Tapi, “Gus Dur tidur mas. Saya tidak berani bangunin”, katanya. Waduh, mumet, keringatan dan meriang diriku.
Saya membeku di teras lobby kampus . Sendirian. Lalu saya baca fatihah. “Gus, bangun. Kalau tidak, sungguh saya tidak akan pernah cium tangan jenengan”, batinku bicara mengarah ke Gus Dur. Tiba-tiba, Sulaiman telpon. “Gus Dur sudah bangun dan otw ke kampus”, infonya.
Tak lebih 15 menit mobilnya sudah tiba di halaman kampus. Saya songsong kursi rodanya. Saya jemput tangannya dan saya cium beberapa kali. 
“Maafkan saya Gus”, kataku. 
“Takapa. Kamu kan gak kenal saya saat itu”, jawabnya. 
Lho, ya, Allah, bagaimana ia tahu sumpah kurang ajarku saat masa lalu?!. Aku kangen jenengan Gus. Lahu alfatihah.