Ahlus Sunnah Wal Jama'ah; Dimana?

Posted by Nasyit Manaf on Saturday, June 20, 2015 with No comments
Dimana Aswaja?

Filsafat Aswaja

Ahlis Sunnah wal Jamā'ah itu istilah dari Nabi Saw untuk orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi dan teladan sahabat. Paham ini lalu direbutkan oleh setiap kelompok Islam. Direbutkan lalu dipasang sebagai jargon kampanye merekrut pengikut. Semua mengaku paham Aswaja yang paling sah, yang paling surgawi ketimbang 72 kelompok yang lain. Karena Nabi Saw menyatakan Islam akan terpecah 73 golongan, hanya satu yang masuk surga, yakni Ahlis Sunnah wal Jamā'ah. Dari sini, semua firqah Islam mengaku Aswaja, yang paling surgawi, yang paling shahīh.
Paham Aswaja yang diakui paling surgawi tersebut lahir dari para pemikir keislaman yang mencoba menyampaikan apa yang dia pahami tentang Islam terbaik, Islam yang sesuai ajaran Nabi Saw, tapi menurut dia. Apa yang mereka pahami tentang Islam lalu dicetuskan dalam sebuah filsafat keislaman. Dan hasil filsafat mereka digunakan sebagai paham idiologi oleh masing-masing pengikut pemikirannya. Semua filsafat adalah telaah kebenaran versi pikiran menurut masing-masing pihak. Dan memang semuanya benar, hanya manusianya yang terbawa-bawa fanatisme lalu jadikan mereka keluar dari "benar".
Jadi pada dasarnya, Aswaja yang diperebutkan itu bukan Aswaja. Itu hanya ajaran filsafat dari para pemikir Islam. Seperti ketika saya kanak-kanak, diajari pelajaran Aswaja dari Islam Sunni. Disebut Aswaja, tapi itu doktrin saja. Sebenarnya itu hanya "filsafat Islam milik Imam Asy'ari dan Maturidi". Demikian pula ajaran ke-Muhammadiyah-an itu hanya "filsafat Jamaludin Al-Afgani dan Muhammad 'Abduh". Di Salafi Wahabi juga demikian, itu hanya "filsafat dari Ibn Taymiah dan Muhammad bin Abdul Wahhab". Syiah ajaran "filsafat Abdullah bin Saba'". Dan seterusnya. Faktanya, apa yang disebut paham Aswaja ala firqah dalam Islam itu hanya ajaran filsafat sekelompok pemikir Islam.
Bukan hanya firqah-firqah Islam, semua paham pasti ada sosok pemikir pondasinya. Sosialisme dari filsafat Karl Mark. Kapitalisme dari filsafat Adam Smith. Skularisme dari filsafat George Jacob Holyoake. Demikian halnya firqah-firqah dalam Islam, merupakan hasil rumusan pemikiran Aswaja para pemikir Islam.

Aswaja, Lalu Dimana?

Ahlus Sunnah wal Jama'ah berarti adalah mereka yang berada di firqah manapun dalam Islam. Dengan catatan jika seseorang telah berislam dengan berpegang teguh pada sunnah Nabi Saw dan pada teladan para sahabat dan ulama salaf maka dia Ahlus Sunnah wal Jamā'ah. Artinya, Ahlus Sunnah wal Jamā'ah adalah "pribadi" yang berislam dengan konsep sunnah dan jamā'ah, entah dari firqah manapun dia berasal.
Ayatullah Khomaini tidak mungkin seorang bukan Ahlus Sunnah wal Jamā'ah, kesalehan pribadi dan keteguhannya dalam Islam sudah terdeteksi jelas. Apa iya gara-gara dia berpaham filsafat Syiah lalu dia ahlin nār? Prof. Hamka, dia saleh, zuhud, istiqamah, kokoh keislamannya, apa iya dia ahli neraka lantaran dia Muhammadiyah? K.H. Hasyim Asy'ari, apa iya dia ahlin nār lantaran dia Sunni? Mereka semua Ahlus Sunnah wal Jamā'ah walaupun mereka dari firqah dan paham filsafat yang berbeda-beda.
Sebaliknya, walaupun dia Sunni-NU sangat khusyuk, Muhammadiyah sangat khusyuk, Salafi Wahabi sangat khusyuk, Syiah sangat khusyuk, dan seterusnya, tapi dia tidak dapat menunjukkan Islam seperti piwulang Nabi, maka dari kelompok manapun dirinya, dia tidak dapat disebut Ahlus Sunnah wal Jamā'ah. NU tapi tidak shalat, Muhammadiyah tapi pezina, Syiah tapi koruptor, Salafi Wahabi tapi pembunuh dan pengfitnah "kafir", mereka semua bukan Ahlus Sunnah wal Jamā'ah.
Alhasil, yang diperebutkan dengan jargon "Aswaja" itu sebenarnya bukan rebutan "ajaran Aswaja" tapi rebutan "ajaran filsafat para pemikir Islam". Sementara Aswaja sendiri tidak berhubungan dengan pemikiran filsafat seseorang, tapi Aswaja berhubungan dengan tindakan seseorang di dalam Islam.[]

Penulis : Gus Muhammad Nurul Banan, Bukateja Purbalingga
Categories: