Puasa Ramadhan Bagi Sopir dan Kernet

Posted by Nasyit Manaf on Sunday, June 28, 2015 with No comments
Sopir Bus
Dalam kehidupannya sehari-hari sudah menjadi keharusan bagi setiap insan untuk mencari nafaqoh atau biaya hidup guna untuk mempertahankan hidupnya. Ketika manusia dituntut hal yang demikian, tentu mereka tidak bisa duduk manis untuk bisa mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya. Mereka harus bekerja keras untuk menghasilkan sumber penghasilan dimana dari sumber tersebut semua kebutuhan hidupnya bisa terpenuhi.
Berbagai jalan bisa dijadikan sumber penghasilan, termasuk  diantaranya adalah berprofesi sebagai sopir atau kernet transportasi umum. Menjadi sopir atau kernet adalah salah satu profesi yang bisa dikatakan memberikan penghasilan yang lumayan besar lebih-lebih ketika semisal musim mudik lebaran.
Dalam tingkatannya angkutan umum adakalanya angkutan yang beroperasi secara lokal (dalam kabupaten saja) dan adakalanya yang lintas kabupaten atau bisa disebut angkutan dalam provinsi.
Terkait dengan perjalanan, lantas bagaimana kalau perjalanan tersebut terjadi ketika bulan puasa Ramadlan dimana di satu sisi mereka (sopir/kernet) dituntut untuk melakukan puasa, dan di sisi yang lain mereka harus menempuh jarak perjalanan yang lebih dari masafatu al qoshri (jarak yang memperbolehkan sesorang untuk mengqashar shalat kurang lebih 83 km). Pada jarak ini mereka boleh untuk tidak puasa, dan menggantinya dihari yang lain, lantas apakah mereka tetap boleh untuk mengambil keringanan tersebut lantaran ia selalu berada di perjalanan sepanjang hari?
Dalam kaitannya dengan orang yang melakukan perjalanan, ada beberapa ketentuan dimana ketika ketentuan itu dipanuhi maka seseorang boleh mengambil ruhkshah (keringanan hukum) untuk tidak berpuasa, dan menggantinya pada hari yang lain. Ketentuan tersebut adalah, pertama, perjalanan tersebut harus melewati  jarak masafatul qashri (kurang lebih 83 km). Pada ketentuan ini, para sopir atau kernet angkutan dalam kabupaten tidak bisa mengambil rukhsoh untuk tidak perpuasa karena jarak yang mereka tempuh tidak mencapai masafatu al qashri. Kedua, perjalanan tersebut harus dilakukan sebelum fajar (sebelum subuh), karena ketika melakukan perjalanan setelah fajar, mereka dianggap bermukim atau mereka memasuki hari itu dalam status dia sebagai orang yang bermukim.
الحاوى الكبير ـ الماوردى – (ج 3 / ص 975)
 مَسْأَلَةٌ : قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ” وَلَوْ أَنَّ مُقِيمًا نَوَى الصَّوْمَ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ خَرَجَ بَعْدَ الْفَجْرِ مُسَافِرًا لَمْ يُفْطِرْ يَوْمَهُ ؛ لِأَنَّهُ دَخَلَ فِيهِ مُقِيمًا
الحاوى الكبير ـ الماوردى – (ج 3 / ص 975)
قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ : وَهَذَا الْفَصْلُ يَشْتَمِلُ عَلَى أَرْبَعِ مَسَائِلَ : أَحَدُهَا : أَنْ يَبْتَدِئَ السَّفَرَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا شُبْهَةَ أَنَّهُ بِالْخِيَارِ إِنْ شَاءَ صَامَ ، وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ ؛ لِأَنَّهُ ابْتَدَأَ السَّفَرَ فِي زَمَانٍ يَجُوزُ لَهُ الْفِطْرُ فِيهِ فَلِذَلِكَ لَمْ يَتَحَتَّمُ عَلَيْهِ صَوْمُ ذَلِكَ الْيَوْمِ
شرح البهجة الوردية – (ج 7 / ص 114)
 وَ ) يُبِيحُهُ ( سَفَرُ الْقَصْرِ ) لِلْآيَةِ السَّابِقَةِ بِخِلَافِ السَّفَرِ الْقَصِيرِ وَسَفَرِ الْمَعْصِيَةِ ( وَإِنْ نَوَى ) أَيْ الْمُسَافِرُ الصَّوْمَ لَيْلًا فَإِنَّهُ يُبِيحُ الْفِطْرَ لِدَوَامِ الْعُذْرِ وَلَا يُكْرَهُ كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ وَقَدْ { أَفْطَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْعَصْرِ بِكُرَاعِ الْغَمِيمِ بِقَدَحِ مَاءٍ لَمَّا قِيلَ لَهُ إنَّ النَّاسَ يَشُقُّ عَلَيْهِمْ الصِّيَامُ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَلَهُ تَتِمَّةٌ سَتَأْتِي ( لَا إنْ بَعْدَ صُبْحِهِ طَرَا ) أَيْ السَّفَرُ فَإِنَّهُ لَا يُبِيحُ الْفِطْرَ تَغْلِيبًا لِلْحَضَرِ ( أَوْ زَالَا ) أَيْ وَلَا إنْ زَالَ الْمَرَضُ ، وَالسَّفَرُ بَعْدَ الصُّبْحِ ، وَهُوَ صَائِمٌ فَلَا يُبِيحَانِ الْفِطْرَ لِانْتِفَاءِ الْمُبِيحِ
Ketiga, perjalanan yang diperbolehkan untuk mengambil keringanan tidak berpuasa adalah perjalanan yang dilakukan oleh seseorang yang masih ada harapan untuk bermukim. Di dalam waktu bermukim inilah mereka bisa mengqadha puasanya yang ditinggalkan dalam perjalanan. Mengenai orang yang terus menerus melakukan perjalanan seperti para abang sopir atau kernet, yang tentunya tidak mungkin untuk bermukim, maka tidak boleh mengambil ruhksahuntuk tidak berpuasa. Namun dalam ini, ada ulama yang memperbolehkan bagi orang yang selalu melakukan perjalan mengambil ruhksoh untuk tidak perpuasa pada waktu itu dengan catatan tetap harus mengganti/mengqadha’ dihari yang lain.
حواشي الشرواني والعبادي – (ج 3 / ص 430)
قوله: (قال السبكي الخ) اعتمده النهاية فقال وبحث السبكي وغيره تقييد الفطر به بمن يرجو إقامة يقضي فيها بخلاف مديم السفر أبدا لان في تجويز الفطر له تغيير حقيقة الوجوب
نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج – (ج 9 / ص 430)
( وَ ) يُبَاحُ ( تَرْكُهُ لِلْمُسَافِرِ سَفَرًا طَوِيلًا مُبَاحًا ) سَوَاءٌ أَكَانَ مِنْ رَمَضَانَ أَمْ مِنْ غَيْرِهِ نَذْرًا وَلَوْ تَعَيَّنَ أَوْ كَفَّارَةً أَوْ قَضَاءً ، بِخِلَافِ السَّفَرِ الْقَصِيرِ وَسَفَرِ الْمَعْصِيَةِ لِمَا مَرَّ فِي صَلَاةِ الْمُسَافِرِ قِيَاسًا عَلَى الْمُحْصَرِ يُرِيدُ التَّحَلُّلَ وَلِيَتَمَيَّزَ الْفِطْرُ الْمُبَاحُ مِنْ غَيْرِهِ ، وَبَحَثَ السُّبْكِيُّ وَغَيْرُهُ تَقْيِيدَ الْفِطْرِ بِهِ بِمَنْ يَرْجُو إقَامَةً يَقْضِي فِيهَا ، بِخِلَافِ مُدِيمِ السَّفَرِ أَبَدًا لِأَنَّ فِي تَجْوِيزِ الْفِطْرِ لَهُ تَغْيِيرَ حَقِيقَةِ الْوُجُوبِ
شرح البهجة الوردية – (ج 7 / ص 116)
 قَوْلُهُ : وَيُبِيحُهُ سَفَرُ الْقَصْرِ ) قَالَ شَيْخُنَا ز ي وَالرَّمْلِيُّ وَإِنْ دَامَ السَّفَرُ وَغَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ الْمَوْتُ قَبْلَ الْقَضَاءِ وَسَوَاءٌ رَمَضَانُ ، وَالْكَفَّارَةُ ، وَالْمَنْذُورُ وَلَوْ مُعَيَّنًا فِي نَذْرِ صَوْمٍ وَلَوْ لِلدَّهْرِ ، وَالْقَضَاءِ وَلَوْ لِلْمُتَعَدِّي بِفِطْرِهِ ، أَوْ ضَاقَ وَقْتُهُ وَإِنْ خَالَفَ السُّبْكِيُّ فِي مُدِيمِ السَّفَرِ وَفِي النَّذْرِ الْمُعَيَّنِ
‘Ala kulli hal, seseorang yang berprofesi sebagai sopir atau kernet, bisa masuk didalam kata muthimu as-safar, karena keseharian hidup mereka dihabiskan dalam perjalan. Mengenai boleh tidaknya mereka mengambil rukhsoh, ulama masih berselisih. Ada yang tidak memperbolehkan dan ada yang memperbolehkan dengan ketentuan-ketentuan sebagaimana di atas. Akan tetapi bagi seorang sopir, meskipun sudah memenuhi syarat-syarat di atas selayaknya dia tetap berpuasa selama ia masih mampu dan tidak menimbulkan bahaya. Karena puasanya dia lebih baik daripada tidak berpuasa. Wallahu A’lam
Sumber:http://mahad-aly.sukorejo.com/
Categories: