Ilmu Nafi' dan Ilmu Dharar

Posted by Nasyit Manaf on Sunday, June 14, 2015 with No comments
Ilmu Nàfi', hanya itu target Nabi Saw. bagi para penimba ilmu. Nabi tidak membidik pekerjaan dan penghasilan mapan sebagai tujuan ilmu. Sederhana pemahamannya, saya seorang penulis buku, ketika buku terbit lantas dijual, ini yang dihargai adalah kertas dan tintanya. Kalau, misal, jumlah 100 halaman HVS harga buku karangan saya dengan buku karangan profesor A itu sama, padahal isi bukunya jelas berbeda, mungkin sangat ilmiah bukunya si profesor A. Ini artinya ilmu tidak dapat dihargai. Kalau menulis buku dimaksudkan dapat profit penjualan itu masih mendingan jualan kalender, karena yang dihargai tetap kertas dan tintanya, bukan isinya. Ilmu tidak dapat diperjualbelikan.

Tapi bukan berarti ilmu tidak dapat menyelesaikan masalah profit Anda. Ilmu nàfi' adalah konsep insân kàmil, kebaikan dunia-akhirat terjawab dengan konsep ilmu nàfi'ini, sehingga soal penghasilan, itu selesai dengan catatan, Anda sampai di 'ilman nâfi'an. Yang memalukan kalau ilmu ditujukan untuk profit.

Ilmu Sebagian dari Akhlak
Ilmu merupakan bagian dari Zat Allah Swt. Di dalam Zat Allah adalah karakter-karakter pribadi Allah yang terdapat dalam al-amàul husnâ. Salah satu dari asmàul husnâ-Nya, Dia adalah Al-'Alîm, jadi Allah merupakan pribadi dengan intelektualitas Maha Tinggi, Dia pribadi ilmiah, cendekia yang fasih berbicara di segala bidang ilmu. Kita terpapar dengan Al-'Ālim-Nya, ini menjadi lantaran manusia tercipta sebagai makhluk berilmu.

"Takhallaqû bi akhlâqillâh; berakhlaklah dengan akhlak Allah," ini perintah Nabi Saw. Artinya akhlak Allah merupakan pakerti-pakerti pribadi-Nya dalam asmâul husnâ. Jika dalam asmâul husnâ, Dia Zat yang Al-'Alîm, pakerti-Nya juga berintelektual tinggi. Seorang yang berakhlak, dia pun akan memiliki kualitas kepribadian asmàul husnâ. Dia yang berakhlak akan menjadi pribadi Al-'Alîm dengan karakter keilmuan dan intelektual mumpuni. Jadi, ilmu adalah bagian dari akhlak. Ilmu bukanlah intelegensi dimuat oleh saraf otak, tapi ilmu adalah akhlak yang dimuat oleh spiritual.

Karena ilmu adalah akhlak yang hubungannya dengan spiritual, maka menimba ilmu hanya membutuhkan spiritual. Adapun intelegensi hanya soal kebutuhan skunder untuk meraih ilmu. Nabi Saw sendiri meraih ilmu dengan tanpa intelegensi sama sekali, beliau tidak dapat menulis dan membaca tetapi beliau berilmu tinggi. Ini lantaran Nabi Saw mencapai ilmu sebagai akhlak bukan sebagai intelegensi. 

Menjadi jelas, capaian puncak tertinggi dari ilmu adalah akhlak itu sendiri, bukan kepintaran, bukan pula kepandaian. Namun jika benar-benar berakhlak karîmah, otomatis seseorang akan mencapai kepintaran dan kecerdasan paripurna.

Ilmu Nàfi'
Ilmu adalah akhlak, maka ilmu merupakan sarana spiritual menuju-Nya. Seorang yang berilmu itu sama saja dengan seorang yang berzikir, bahkan berilmu tingkatannya jauh lebih tinggi dari zikir. Tafakur satu jam menjadi lebih baik ketimbang ibadah setahun. 

Zikir itu mendekatkan diri pada-Nya, menajamkan kemampuan mengenal diri, mencerdaskan emosi, mencerdaskan kesadaran sosialnya, intropeksi dirinya kuat, sehingga kebaikan dan pakertinya mulia. Demikian pun ilmu jauh lebih dahsyat daripada zikir dalam mengasah kepribadian ketimbang zikir. Sarana terampuh untuk mencerdaskan spiritual adalah ilmu. Karena tadi, tafakur satu jam lebih baik ketimbang ibadah setahun.

Sebab ini, jika ada pencari ilmu tetapi di dalam dirinya tidak muncul akhlak-akhlak mulia, dia masih salah sasaran dalam capaian ilmu. Ibarat orang makan, makanannya hanya menjadi kotoran tinja, sementara vitamin dan nutrisi makanan yang dibutuhkan tubuhnya sama sekali tidak dia dapatkan. Capaian ilmu hanya pandai? Itu orang yang makan hanya untuk berak.

Seorang yang berilmu ego semakin turun, dia makin piawai memahami orang lain, dia semakin hidup di dalam jiwanya. Pengelanaannya menjadi hanya kepada Allah Yang Maha Tuhan. Kebaikannya semakin menonjol.

Semuanya tertata seperti tatanan hukum alam semesta. Dia bisa menempatkan diri pada posisinya, seperti hanya planet-planet yang beroprasi pada mustaqar (rotasi)-nya.

Akhlaknya tertata, hidupnya pun tertata. Hubungan dengan keluarga baik. Dengan tetangga baik. Dengan anak baik. Dengan semua makhluk baik. Bahkan hubungan dengan jin pun dia baik. Dia menjadi disegani masyarakat langit dan bumi. Kemana pun dia berada, dia dibanggakan. Tidak ada yang dapat mencelanya kecuali orang-orang yang mendengkinya.

Inilah ilmu. Ilmu yang menjadi sarana spiritual inilah, yang kemudian disebut ilmu nàfi'. Ilmu nàfi' adalah ilmu yang melahirkan akhlak pribadi yang baik sebagaimana akhlak Allah dalam asmàul husnà.

Albert Einsten, setelah tenggelam di dalam ilmu, dia menyatakan, "Tuhan yang aku kenal adalah ruh yang sangat detail di dalam diriku". Demikian ilmu nàfi', mengenalkan seseorang pada Tuhannya. Einsten sempat menyesal telah menemukan hukum relativitas waktu, karena penemuan itu menjadi akar ditemukannya bom atom. Dia merasa berdosa menjadi penyebab luluh-lantaknya Hirosima dan Nagasaki. Ilmu Einsten telah nâfi', yang menjadikan dia berkesadaran baik, dia pun berkemanusiaan tinggi.

Al-Ghazali rela meninggalkan kemegahan hidupnya sebagai cendekiawan dan ulama besar, dia 'uzlah bertahun-tahun, dan rela berguru kepada tukang sol sepatu, ini karena ilmunya nâfi', ilmu yang selalu memperbaiki dirinya, dan mendekatkannya pada Tuhannya.

Ilmu Nâfi dan Profit Ekonomi
Disebutkan di atas, seorang yang berilmu nâfi' hidupnya tertata karena kepribadiannya tertata. Ketika akhlak tertata, urusan hidupnya tertata, dan soal "penghasilan" adalah bagian urusan hidup. Jadi yang berilmu nàfi' otomatis ekonominya mapan. Penghasilannya mengikuti akhlaknya. Bukan dia yang menata, tapi alam semesta langsung yang menata penghasilannya. Min haitsu lâ yahtasib, dia tertata secara ekonomi. Tidak sedikit contoh ilmu yang membawa kemakmuran.

Sebab ini, satu ciri seorang yang tidak berilmu nàfi', hidupnya semakin kesini semakin berantakan dan semakin melarat.

Tidak etis bicara ilmu dikaitkan dengan duit, tapi mau bagaimana lagi, manusia sudah terlalu jauh mematerialkan ilmu. Kalau tidak dipahamkan, mereka semakin jauh tidak memercayai konsep ilmu nàfi'.

Namun bukan pedoman, seorang yang ilmunya nâfi menjadi harus mapan penghasilannya. Banyak sekali seorang yang dilimpahkan rizkinya karena kufurnya terhadap ilmu. Pembedanya, bila rizki melimpah karena ilmu nàfi', rizkinya menentramkan hati dan mendekatnya pada Allah. Bila rizkinya karena kufur pada ilmu, rizkinya mengguncangkan, meresahkan, dan menciptakan ketidaktenteraman, melahirkan konflik, serta menjauhkannya dari Allah.

Ilmu Dharar
Istilah ini saya buat sendiri sebagai lawan kata ilmu nâfi'. Seorang yang berilmu tetapi hanya memunculkan wawasan dan kepintaran pada dirinya, tanpa ada kebaikan akhlak padanya, dialah pencapai ilmu dharar.

Ilmu itu suatu kebaikan, ketika dipasang justru menimbulkan keburukan. Ilmu itu suatu manfaat, ketika dipasang justru menimbulkan kemudharatan. Ilmu itu suatu kemuliaan, ketika dipasang justru menimbulkan kerendahan martabat. Ilmu suatu pujian, ketika dipasang justru menimbulkan olokan dan ejekan. Ilmu itu suatu ketaatan, ketika dipasang justru menimbulkan maksiat. Inilah ilmu dharar.

Ada sekelompok masyarakat, sebelum kedatangan tokoh tersebut masyarakatnya damai, tenteram, tetapi setelah dia hadir berbagai fitnah justru timbul hanya karena rebutan imamah masjid, misalkan. Ini ilmu yang memunculkan keburukan.

Ada ilmu yang menimbulkan mudharat, misal sebuah sekolah, sebelum dia naik tahta sebagai kepala sekolah, suasana kantor sekolah kondusif, setelah dia naik tahta, kantor menjadi pasar pergunjingan karena si kepala sekolah terlalu egois dan sombong, merasa pintar sendiri.

Jadi ilmuwan itu hal mulia, tetapi setelah dia menjadi tokoh ilmu justru dia menjadi dibenci orang, banyak hal dari dirinya yang tidak disukai masyarakat. Ilmu menjadikan dia turun harga diri.

Ilmu itu pujian, setelah menjadi ahli ilmu justru dia menjadi sumber konflik, masyarakat terpecah-pecah, ilmu menjadikan dia sumber persaingan pengaruh. Rebutan jadi kepala dinas, rebutan jadi khatib masjid, rebutan madrasah diniyah, rebutan harta, rebutan ketua organisasi. Ilmu yang seharusnya terpuji menjadi sumber fitnah dan olokan.

Jadi ustadz di pesantren, pacarannya update terus dengan muridnya sendiri. Jadi pejabat, korupsinya juga on. Ini ilmu yang melahirkan maksiat.

Ilmu dharar adalah ilmu yang ketika digelar tidak menimbulkan manfaat tapi menimbulkan mudharat. Biasanya pemegang awards ilmu dharar ini, hidupnya semakin kesini semakin kacau. Pengagumnya semakin sedikit, pembencinya semakin meluas, rizkinya juga makin kocar-kacir, tak ayal dia makin melarat. Pengaruhnya melorot, jamaahnya bubar, kepercayaan orang kepadanya menurun, ucapannya menjadi fitnah--hanya pidato lima menit, gunjingan orang padanya, lima hari tidak selesai. Kerjaannya mengimami tahlil, mengimami istighatsah, memimpin doa, tapi soal mengolok-olok orang, soal bicara kekayaan, soal bicara kejelekan orang, dia jagonya. Naûdzu billâh.

#Pesantrenku Keren
Asas ilmu nàfì' hanya pesantrenlah yang giat menerapkan. Sebuah ajaran hakiki ilmu.

Ilmu nâfi' tidak harus ditimba di pesantren, tidak hanya pada ilmu agama, tidak hanya pada ilmu spiritual, namun semua ilmu yang Anda timba, semua bisa berefek ilmu nàfi' dan ilmu dharar.

Tapi, yang masih nguri-nguri konsep ilmu nàfi' hanyalah pesantren, kebanyakan bicara lowongan kerja. Keren bukan, pesantrenku?

Oleh: Muhammad Nurul Banan, Purbalingga
Categories: