Cinta Itu Pilihan, Jodoh Itu Takdir

Posted by Nasyit Manaf on Tuesday, June 02, 2015 with 1 comment
Takdir itu adalah hubungan sebab akibat (sunatullah), takdir itu juga berarti sebuah pilihan dari banyak pilihan yang ada (berbagai macam pilihan yang sedang dihadapi manusia itu sendiri di suatu waktu). Takdir itu juga bukan hal yang benar-benar mutlak, sampai kebanyakan manusia berpikir bahwa ia tidak bisa memilih pilihan yang ada, contoh kasus : Saya menjadi pengemis atau pengamen atau pemulung, dan lain sebagainya dalam scope (ruang lingkup) kemiskinan, karena semua ini sudah menjadi takdir saya. Saya tidak bisa merubah takdir. Lalu, apa gunanya doa dan ikhtiar jika seandainya takdir itu tidak bisa dirubah sama sekali? Bukankah Allah sendiri yang menganjurkan kita untuk berdoa dan berikhtiar jika ingin mendapatkan sesuatu? Allah Swt. memang telah menentukan takdir (segala sesuatunya yang akan terjadi di dalam hidup seorang manusia), namun manusia itu sendiri tetap mempunyai kewajiban untuk berikhtiar (berusaha keras) dan berdoa untuk meminta jalan yang diridhoi-Nya. Nah.. ini letak letak kesalahan manusia, terlalu berpikir pendek dan tidak mau berpikir panjang, alasannya terlalu rumit, mungkin saja.

Takdir itu bisa dipilih karena pintunya banyak, banyak sekali. Pintu itu, ya pilihan-pilihan yang terjadi di hidupmu, itu lah yang dikatakan takdir sebenarnya. Kita yakin, Allah Swt. pun tidak akan memperlakukan kita (manusia) layaknya sebagai anak buah catur dengan takdir (yang tidak bisa dirubah), yang kamu (manusia A) harus kesini karena hal ini jauh dengan neraka, kamu (manusia B) harus kesana, karena ini dekat dengan neraka. Jika begitu adanya apalah arti dan peran yang kita lakoni di dalam hidup ini, yang sudah pasti akan ke neraka ataupun yang sudah pasti akan ke surga. Ke surga lebih baik, ke neraka siapa juga yang menginginkannya, bukan begitu ? Takdir memang mengandung unsur diberi (oleh Allah Swt. yang sudah diberi dari sejak mulai tumbuh janin bayi yang akan menjadi kita sekarang ini), juga dalam artian hal yang sudah harus diterima tanpa dapat ditawar lagi. Sedangkan pilihan mengandung unsur minimal 2 opsi, bahkan terkadang lebih. Meskipun begitu balik lagi ke persoalan neraka dan surga. Sebenarnya kita diharuskan untuk merubah takdir. Contoh kasusnya adalah: mau kaya, ya harus bekerja keras, karena tidak mungkin kita mengharapkan takdir untuk menjadi kaya dengan bermalas-malasan tanpa melakukan apapun, sama sekali. Atau contoh lainnya adalah, kita mau pintar dan naik kelas dengan mendapatkan nilai yang tinggi, ya kita harus belajar giat agar bisa mendapatkan kesemua hal itu, bukan malah menunggu takdir membuat kita bin ajaib langsung menjadi pintar tanpa didahului dengan belajar, tidak mungkin bukan ? Lalu ingin menemukan cinta sejati yang bisa mencintai apa adanya diri kita, ya kita harus berusaha untuk terbuka dengan banyak orang agar kita bisa mendekatkan diri kita dengan orang lain (seseorang yang akan membuat kita jatuh cinta), bukan malah menunggu takdir untuk mendatangkan seseorang yang kita idam-idamkan secara bin ajaib (cliiing… langsung ada seseorang itu di hadapan kita). Intinya, kita semestinya harus bergerak, harus berusaha, harus mencari, harus bekerja keras, harus belajar, bukan malah malas-malasan dengan hanya menunggu takdir. Allah Swt. pun berfirman;
إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS Ar Ra'du : 11) Bertemu dengan seseorang atau banyak orang itu takdir, dan bukan sesuatu yang bisa direncanakan (pilihan). Kita hanya mau bertemu dengan orang baik saja, atau kita hanya mau bertemu dengan orang kaya saja, atau kita hanya mau bertemu dengan orang cantik/tampan saja, ini contoh kasusnya. Namun saat manusia memilih untuk membuat keputusan penting dalam hidupnya, contoh lah karena tema postingan ini tentang cinta itu takdir atau pilihan ?, maka jawabannya seperti ini; Untuk menjalin atau menjalani sebuah hubungan atau bagaimana hubungan kedepannya akan dibawa, itu adalah sebuah pilihan, hanya mau berteman saja atau ingin lebih dari sekedar teman, melainkan menjadi pasangan hidup. Intinya kita tidak bisa menentukan pilihan orang yang akan datang di masa depan akan sebagai pasangan hidup kita, tetapi orang yang sudah datang di dalam hidup kita dan ingin menjadikannya seorang pasangan hidup, itu adalah pilihan kita, hasil dari sebuah komitmen dan tanggung jawab dari pilihan yang kita telah putuskan Meskipun begitu, untuk urusan cinta (jodoh) ini menjadi sesuatu yang amat rumit, karena ada beberapa hal yang terkadang tidak masuk akal dan logika manusia. Memang, ini sudah menjadi ketentuan Allah Swt. karena ada banyak hal yang tidak bisa dijangkau akal sehat manusia. Ada banyak orang yang telah melakukan ikhtiar (usaha keras) untuk meluluhkan seseorang yang dicintainya, ataupun untuk meluluhkan hati mertua kekasihnya yang tidak menyetujui hubungan mereka. Ia sudah melakukan berbagai macam hal, dari yang ringan sampai usaha yang besar, atau bisa jadi tindakan extreme (tidak masuk akal), misalkan mengancam untuk bunuh diri karena urusan cintanya tidak sesuai dengan keinginannya, atau malah bunuh diri benaran, ini lah yang disebut dengan kemaha tololan yang tinggi. Sesungguhnya campur tangan Allah Swt. untuk jodoh itu sangat besar bahkan mutlak, karena itu kita tidak akan bisa memaksa seseorang untuk menjadi pasangan hidup kita, meskipun kita telah melakukan usaha yang keras. Maka berpikirlah kalau ia bukanlah jodoh kita, atau Allah Swt. telah menentukan seseorang yang tepat di masa depanmu kelak. Karena ini adalah termasuk kuasa Allah Swt. dengan cara-Nya yang terkadang tidak bisa dimengerti. Tetapi seringkali kebanyakan orang-orang yang berikhtiar keras akan cenderung mendapatkan jodohnya (seseorang yang dicintainya). Kesimpulannya, kita harus yakin bahwa Allah Swt. telah menciptakan manusia dengan takdirnya. Dan kita juga harus meyakini bahwa manusia itu diberi pilihan untuk memilih takdir yang paling baik untuk dirinya di dalam kehidupannya sekarang dan juga kelak nantinya. Maka, keimanan pada sebuah takdir harus mendorong untuk selalu berdoa dan berikhtiar berusaha keras dan sebaik mungkin, sementara hasilnya diyakini merupakan takdir Allah. Dan yakinlah bahwa Allah Swt. tidak akan mendzalimi hambaNya. Intinya cinta itu adalah pilihan, tapi jodoh itu adalah takdir.
Categories: