Filosofi Kolak Ramadhan

Posted by Nasyit Manaf on Wednesday, June 24, 2015 with No comments

Kolak (kolek, Jawa) adalah makanan asal Indonesia dengan berbahan dasar pisang, ubi jalar (munthul), singkong (budin, boled), dan atau kolang-kaling (buah aren). Bahan-bahan ini direbus masak-masak dengan santan dan gula aren/gula kelapa (gula Jawa). Biasanya diberi satu dua lembar daun pandan untuk memperharum bau dan menambah selera makan. Di bulan puasa Ramadlan, kolak ini hampir menjadi menu khas berbuka puasa.
Adakalanya kolak dimakan pertama kali setelah “thong-bleng” bedug penanda maghrib berbunyi. Setelah itu, orang-orang bergegas mengambil air wudlu, lalu shalat maghrib, dan baru kemudian melanjutkan berbuka dengan makan nasi. Kadangkala sebaliknya, orang-orang begitu maghrib tiba, mereka langsung makan nasi - bahkan dengan porsi besar (sepiring mundhung, Jawa) - kemudian makan kolak, dan baru shalat maghrib.
Bahkan bagi perokok berat, shalat maghrib enaknya dilakukan setelah semuanya tuntas, termasuk merokok. Di era serbacepat “fast-food”, kolak banyak dijual di mana-mana di sore hari selepas asyar. Kolak dibungkus dengan plastik setengah kiloan dan dijual seribu-duaribu per bungkus. Isinya biasanya pisang, ketela, dan kolang-kaling. Adakalanya hanya potongan pisang tipis-tipis dan singkong. Praktis.
Banyak ibu-ibu sepulang kerja atau pasar, cukup mampir ke pedagang "emperan" di pinggir jalan, beli kolak 3-5 bungkus, lalu dibawa pulang untuk menu berbuka puasa. Puasa Romadlan segera tiba. Bayangan dan rasa kolak pun sudah mulai terasa menggoda. Ada semburat sarat makna dalam makanan khas kolak. Ada yang menyebutkan bahwa kolak berasal dari “kholaq” (Arab) - mencipta, ciptaan - yang dimaknai agar kita kembali pada hakikat diri kita sebagai makhluk ciptaan Allah Ta’ala.
Ada juga yang menyebut kolak berasal dari kata “kholiq” (Arab) - Sang Pencipta - yang dimaknai agar kita senantiasa ingat dan kembali kepada Sang Khalik Allah Ta’ala. Lepas dari pemaknaan-pemaknaan yang lestari dalam masyarakat, menu kolak sungguh menarik di tengah ragam makanan serba moderen. Kolak tetap saja menunjukkan kearifan masyarakat pendukungnya, yakni masyarakat yang masih menanam dan memelihara lingkungannya dengan pohon pisang, singkong, aren, pohon nyiur kelapa, ketela, dan lainnya. Selamat berbuka dengan kolak, semoga berkah selalu.
Categories: