Dzikir 2

Posted by Nasyit Manaf on Monday, January 28, 2013 with No comments

Dzikir Jahr (Keras) dan Khofi (Lirih)

Menanggapi perbedaan pendapat tentang dzikir dengan suara keras atau lirih bisa melihat dari hadits di bawah ini:

عَنِ ابْنِ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ بِصَوْتِهِ الْأَعْلَى لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Artinya: “Diriwayatkan oleh ibnu Azzubair ra bahwa Rosululloh saw setelah salam dari Sholat Beliau dengan suara tinggi (keras) membaca Laa ilaaha illallah.........”

عَنْ سَعِيْدِ ابْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِى
Artinya: Diriwayatkan oleh Sa’id bin Malik bahwa Rosululloh saw bersabda : “Dzikir yang paling utama adalah dengan suara pelan”.
Menanggapi pertentangan hadits di atas Imam Nawawi menjelaskan bahwa dzikir dengan suara pelan lebih utama jika memang dikuatirkan riya’ (pamer) atau mengganggu oarang yang sedang melakukan sholat atau tidur. Sedangkan bila tidak ada kekhawatiran, dzikir dengan suara keras lebih utama karena amal yang dilakukan lebih banyak dan faidahnya bisa sampai pada orang yang mendengarkan, bisa memusatkan pikirannya untuk menghayati kandungan dzikirnya (khusyu’). (Jalal-Addin As-Suyuti )

Lebih jelasnya simaklah hadits di bawah ini :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسٍ وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ
Artinya: Dari Abi Hurairoh Rosululloh saw bersabda :” Allah swt berfirman, Aku akan berbuat sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan selalu bersamanya selama ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia berdzikir pada-Ku dalam suatu perkumpulan (dengan suara keras), maka Aku akan mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari yang mereka lakukan”. (HR. Bukhori, no. 6857)

وَقَدْ وَرَدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يُجْهِرُ وَأَبُوْبَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يُسِرُّ فَسَأَلَهُمَا النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَجَابَ كُلٌّ بِنَحْوِ مَا ذَكَرْتُهُ فَأَقَرُّهُمَا
Artinya: Ada sebuah riwayat bahwa sahabat Umar ra kalau melakukan wirid dia membaca dengan suara keras, berbeda dengan sahabat Abu Bakar ra dengan suara  pelan, suatu ketika Rosululloh saw menghampiri mereka berdua dan bersabda : kalian telah membaca sesuai yang pernah aku sampaikan”. (Fatawa al-Hadisiyah li Ibni Hajar al-Haitami, hal 56)

Dalil-dalil berikut ini menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara berjama’ah setelah shalat secara khusus. Di antaranya hadits dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Abbas, bahwa ia berkata:

كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ بِالتَّكْبِيْرِ
Artinya:Aku mengetahui selesainya shalat Rasulullah saw dengan takbir (yang dibaca dengan suara keras)”. (HR. Bukhori Muslim)
Abdulloh ibnu ‘Abbas berkata,

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ

Artinya: “Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika orang-orang telah selesai shalat fardlu sudah terjadi pada zaman Rasulullah”. (HR. Bukhori Muslim)
Kesimpulan :
  1. Mengenai keutamaan antara dzikir jahr dan khofi, keduanya sama, tinggal melihat situasi dan kondisi ketika melakukan dzikir tersebut.
  2. Dzikir yang dilakuakan bersama-sama (wiridan bareng, mujahadah, istighosah, dll) atau dzikir sendirian sama-sama pernah diajarkan oleh Rosululloh saw.
Mengenai fadhilah dzikir disebutkan dalam sebuah hadits :

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْتَعَ فِى رِيَاضِ الْجَنَّةِ فَلْيُكْثِرْ ذِكْرَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya: Barang siapa menyukai kenikmatan di pertamanan surga maka hendaklah memperbanyak dzikir kepada Allah swt”.  (Ichya’ Ulumuddin, juz 1, hal 371)

وَسُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ ؟ فَقَالَ أَنْ تَمُوْتَ وَلِسَانُكَ رَطْبٌ بِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya: Rosululloh saw pernah ditanya, “Amal apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “ Hendaklah kamu mati, sedang lisanmu dalam keadaan basah karena dzikir kepada Allah swt.

Dalam suatu Atsar dijelaskan pula, Imam Fudlail berkata : telah sampai kepadaku bahwa Allah swt berfirman : “Wahai hambaKu! Ingatlah (dzikir) engkau padaKu setelah Subuh satu waktu dan setelah Ashar satu waktu, maka aku akan mencukupimu di antara kedua waktu tersebut”. (Ichya’ Ulumuddin juz 1 hal 372)

Categories: