Poligami dan Poliandri
Posted by
Unknown
on
Thursday, January 17, 2013
with
No comments
“Jika lelaki boleh beristri lebih dari satu, mengapa wanita tidak boleh bersuami lebih dari satu (poliandri)?”
Pertanyaan
ini kadang terbesit dibenak kita atau bahkan digembar-gemborkan oleh
sebagian aktifis feminis yang mengklaim sedang memperjuangkan kesetaraan
gender. Mari kita simak jawabannya.
1. Ketentuan Dari Allah
Aturan bahwa wanita tidak boleh memiliki beberapa suami dalam satu waktu adalah ketentuan Allah Ta’ala.
Tidak ada pilihan lain bagi seorang hamba yang beriman kepada Allah
kecuali menaati dan menerima dengan sepenuh hati setiap ketentuan-Nya.
Karena orang yang beriman kepada Allah-lah yang senantiasa taat dan
tunduk kepada hukum agama. Allah berfirman,
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ
وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak
menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum
diantara kalian, maka mereka berkata: Sami’na Wa Atha’na (Kami telah
mendengar hukum tersebut dan kami akan taati). Merekalah orang-orang
yang beruntung.” (QS. An Nuur : 51)
Tidaklah apa yang Allah tentukan untuk hamba-Nya melainkan pasti
memiliki hikmah yang besar bagi sang hamba. Namun sang hamba wajib
pasrah kepada ketentuan itu baik tahu akan hikmahnya, maupun tidak tahu
hikmahnya. Kaidah fiqhiyyah mengatakan:
الشَارِعُ لَا يَـأْمُرُ إِلاَّ ِبمَا مَصْلَحَتُهُ خَالِصَةً اَوْ
رَاجِحَةً وَلاَ يَنْهَى اِلاَّ عَمَّا مَفْسَدَتُهُ خَالِصَةً اَوْ
رَاجِحَةً
“Islam tidak memerintahkan sesuatu kecuali mengandung 100%
kebaikan, atau kebaikan-nya lebih dominan. Dan Islam tidak melarang
sesuatu kecuali mengandung 100% keburukan, atau keburukannya lebih
dominan.”
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي
الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan
berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS. An Nahl: 90)
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa setiap keadilan, kebaikan,
silaturahim pasti diperintahkan oleh syariat. Setiap kekejian dan
kemungkaran terhadap Allah, setiap gangguan terhadap manusia baik berupa
gangguan terhadap jiwa, harta, kehormatan, pasti dilarang oleh syariat.
Allah juga senantiasa mengingatkan hamba-Nya tentang kebaikan
perintah-perintah syariat, manfaatnya dan memerintahkan menjalankannya.
Allah juga senantiasa mengingatkan tentang keburukan hal-hal dilarang
agama, kejelekannya, bahayanya dan melarang mereka terhadapnya” (Qawaid Wal Ushul Al Jami’ah, hal.27).
Adapun dalil tentang terlarangnya poliandri, diantaranya firman Allah Ta’ala:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ
وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ
وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ
الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي
حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ
تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ
أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ
الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا
رَحِيمًا * وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاء إِلاَّ مَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللّهِ عَلَيْكُمْ
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang
perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu
yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak
perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan
dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu;
saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak
istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri,
tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu
ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu)
istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam
perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi
pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu.” (QS. An Nisaa: 23-24)
Dalam Tafsir Ibni Katsir dijelaskan makna وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاء maksudnya: ‘Diharamkan bagimu menikahi para wanita ajnabiyah yang muhshanat yaitu yang sudah menikah’. Ibnu Katsir juga membawakan riwayat yang menjelaskan sebab turunnya ayat ini:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: أَصَبْنَا نِسَاءً مِنْ سَبْيِ
أَوْطَاسَ، وَلَهُنَّ أَزْوَاجٌ، فَكَرِهْنَا أَنْ نَقَعَ عَلَيْهِنَّ
وَلَهُنَّ أَزْوَاجٌ، فَسَأَلْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَتْ هذه الآية: {وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ
النِّسَاءِ إِلا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ} [قَالَ] فَاسْتَحْلَلْنَا
فُرُوجَهُنَّ
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata: “Kami mendapat wanita dari suku
Authas yang ditawan, para wanita itu memiliki suami lebih dari satu.
Kami enggan bersetubuh dengan mereka karena mereka memiliki suami.
Kamipun bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam, lalu turunlah ayat (yang artinya) ‘Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki‘. Dengan itu kami pun mengganggap mereka halal dicampuri” (Tafsir Ibni Katsir, 2/256)
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أَنَّ النِّكَاحَ فِي الجَاهِلِيَّةِ كَانَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَنْحَاءٍ
…. وَنِكَاحٌ آخَرُ: يَجْتَمِعُ الرَّهْطُ مَا دُونَ العَشَرَةِ،
فَيَدْخُلُونَ عَلَى المَرْأَةِ، كُلُّهُمْ يُصِيبُهَا، فَإِذَا حَمَلَتْ
وَوَضَعَتْ، وَمَرَّ عَلَيْهَا لَيَالٍ بَعْدَ أَنْ تَضَعَ حَمْلَهَا،
أَرْسَلَتْ إِلَيْهِمْ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ رَجُلٌ مِنْهُمْ أَنْ
يَمْتَنِعَ، حَتَّى يَجْتَمِعُوا عِنْدَهَا، تَقُولُ لَهُمْ: قَدْ
عَرَفْتُمُ الَّذِي كَانَ مِنْ أَمْرِكُمْ وَقَدْ وَلَدْتُ، فَهُوَ ابْنُكَ
يَا فُلاَنُ، تُسَمِّي مَنْ أَحَبَّتْ بِاسْمِهِ فَيَلْحَقُ بِهِ
وَلَدُهَا، لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَمْتَنِعَ بِهِ الرَّجُلُ
Artinya: “Pernikahan di masa Jahiliyah ada empat cara …(beliau
lalu menyebutkannya)… jenis pernikahan yang lain (jenis ketiga) yaitu
sejumlah orang yang jumlahnya kurang dari 10 berkumpul lalu masuk
menemui seorang wanita. Setiap mereka menyetubuhinya. Setelah beberapa
waktu sejak malam pengantin itu, jika ternyata ia hamil, ia pun
memanggil semua suaminya. Tidak ada seorang pun dari suaminya yang dapat
menghalangi, hingga semua suaminya berkumpul. Wanita itu berkata:
‘Wahai suamiku, kalian sudah tahu apa yang kalian telah lakukan kepadaku
dan itu memang sudah hak kalian. Dan sekarang aku hamil. Dan anak ini
adalah anakmu wahai Fulan’. Wanita itu menyebut salah satu nama suaminya
sesuka dia, lalu menasabkan anaknya pada suaminya tersebut. Tidak ada
seorang pun dari suaminya yang dapat menghalangi” (HR. Bukhari no.5127)
Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam menyifati poliandri sebagai perilaku jahiliyah. Sebagaimana dijelaskan para ulama :
كل ما نسب إلى الجاهلية فهو مذموم
“Setiap perkara yang dinisbatkan pada Jahiliyyah adalah sesuatu yang tercela”
Jadi, mengapa poliandri tidak dibolehkan? Jawabannya, karena Allah Ta’ala
telah menentukan demikian. Satu jawaban ini sejatinya sudah cukup untuk
menjawab pertanyaan tersebut bagi orang yang beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya. Jika masih ada yang penasaran lalu bertanya lagi ‘kenapa sih koq bisa-bisanya Allah menentukan demikian?‘, jawablah dengan firman Allah Ta’ala :
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
“Allah tidak ditanyai oleh hamba, namun merekalah yang akan ditanyai oleh Allah” (QS. Al Anbiya: 23).
2. Lelaki adalah pemimpin keluarga
Islam juga mengatur bahwa lelaki adalah pemimpin rumah tangga. Allah Ta’ala berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ
بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,
oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas
sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah
menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang
saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya
tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)” (QS. An Nisaa: 34)
Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam juga bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ
رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ
وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ
زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
Artinya: “Setiap kalian adalah orang yang bertanggung jawab.
Setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang imam adalah
orang yang bertanggung jawab dan akan dimintai pertanggung-jawabannya.
Seorang lelaki bertanggung jawab terhadap keluarganya dan akan dimintai
pertanggung-jawabannya. Seorang wanita bertanggung jawab terhadap urusan
di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (HR. Bukhari 893, Muslim 1829)
Oleh karena itu, seorang istri wajib taat kepada suaminya selama bukan dalam perkara maksiat. Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ
فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ
أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
Artinya: “Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu,
berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, taat kepada suaminya akan
dikatakan padanya kelak: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja
yang engkau inginkan.’” (HR. Ahmad)
Nah, jika
seorang wanita memiliki lebih dari satu suami, apakah organisasi rumah
tangga akan berjalan dengan banyak pemimpin? Suami mana yang akan
ditaati? Bagaimana jika para suami berselisih dan memberi perintah
berlainan?
3. Cobaan terbesar bagi lelaki adalah wanita, namun tidak sebaliknya
Cobaan terbesar dan terdahsyat serta paling menjatuhkan seorang lelaki pada titik terendahnya adalah wanita. Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam sering kali mewanti-wanti hal ini. Beliau bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
Artinya: “Tidaklah aku tinggalkan cobaan yang paling berbahaya bagi kaum lelaki selain wanita.” (HR. Bukhari 5096, Muslim 2740) Beliau Shallallahu’alahi Wasallam juga bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ
فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا
النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي
النِّسَاءِ
Artinya: “Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan
sesungguhnya Allah menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian
Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Berhati-hatilah
dari fitnah dunia dan waspadalah terhadap wanita. Karena cobaan pertama
yang melanda Bani Israil adalah wanita” (HR. Muslim 2742) Tentang godaan setan, Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
Artinya: “Sesungguhnya tipu-daya setan itu lemah” (QS. An Nisaa: 76)
Namun tentang godaan wanita, Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ
Artinya: “Sesungguhnya godaan wanita itu sangat dahsyat” (QS. Yusuf: 28)
Oleh karena itulah Allah Al Hakim, Yang Maha Bijaksana,
mensyariatkan poligami (baca: poligini) bagi laki-laki sebagai salah
satu jalan untuk meringankan cobaan dari godaan wanita. Namun
sebaliknya, tidak kita dapati dalil yang menunjukkan bahwa cobaan
terbesar wanita adalah godaan pria. Ini adalah salah satu hikmah mengapa
poliandri tidak disyariatkan.
4. Menjaga kejelasan nasab
Dalam Islam, anak dinasabkan kepada ayahnya. Dan masalah nasab ini
sangat urgen dalam Islam. Sampai-sampai mencela nasab dan menasabkan
diri kepada selain ayah kandung dikategorikan oleh para ulama sebagai
perbuatan dosa besar. Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda:
مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ، وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ
Artinya: “Barangsiapa menasabkan diri kepada selain ayah kandungnya, padahal ia tahu ayah kandungnya, maka surga haram baginya” (HR. Bukhari 4326, Muslim 63) Sebagaimana juga hadits marfu’ dari Ibnu ‘Umar Radhiallahu’anhu:
خِلاَلٌ مِنْ خِلاَلِ الجَاهِلِيَّةِ الطَّعْنُ فِي الأَنْسَابِ وَالنِّيَاحَةُ
Artinya: “Diantara perbuatan orang Jahiliyyah adalah mencela nasab” (HR. Bukhari 3850)
Di antara sebabnya, nasab menentukan banyak urusan,
seperti dalam pernikahan, nafkah, pembagian harta warisan, dll. Jika
satu wanita disetubuhi oleh beberapa suami, maka tidak jelas anak yang
lahir dari rahimnya adalah hasil pembuahan dari suami yang mana,
sehingga tidak jelas akan dinasabkan kepada siapa.
Ibnu Qayyim berkata: “Pernyataan ‘laki-laki dibolehkan menikahi empat orang wanita, namun wanita tidak dibolehkan menikahi lebih dari satu lelaki‘, ini adalah salah satu bentuk kesempurnaan sifat hikmah dari Allah Ta’ala kepada
mereka. Juga bentuk ihsan dan perhatian yang tinggi terhadap
kemaslahatan makhluk-Nya. Allah Maha Tinggi dan Maha Suci dari kebalikan
sifat tesebut. Syariat Islam pun disucikan dari hal-hal yang berlawanan
dengan hal itu. Andai wanita dibolehkan menikahi dua orang lelaki atau
lebih, maka dunia akan hancur. Nasab pun jadi kacau. Para suami saling
bertikai satu dengan yang lain, kehebohan muncul, fitnah mendera, dan
bendera peperangan akan dipancangkan” (I’laamul Muwaqqi’in, 2/65)
Beberapa Syubhat
1. Jika yang menjadi
kekhawatiran adalah percampuran nasab, bukankah sekarang sudah ada tes DNA?
Syaikh Abdullah Al Faqih hafizhahullah
menjawab pertanyaan ini: ”Poliandri dapat menjadi sebab terjangkitnya berbagai
penyakit berbahaya seperti AIDS atau yang lainnya. Selain itu, tidak adanya
keteraturan dalam rumah tangga karena tidak adanya patokan nasab dan anak-anak
pun menjadi kacau. Adapun pemeriksaan medis yang sebutkan itu (cek DNA), tidak
bisa dipastikan 100%. Sehingga tidak bisa menjadi sandaran secara syar’i dalam
penetapan nasab atau dalam mengingkarinya”.
2. Kalau lelaki punya
keinginan kepada banyak wanita karena alasan syahwat, bukankah wanita juga
punya syahwat?
Ibnul Qayyim berkata, “Jika ada yang
berkata ‘Mengapa hanya memperhatikan dan mengangkat sisi kaum lelaki saja,
serta hanya memenuhi kebutuhan syahwat lelaki saja sehingga mereka bisa
berganti dari istri yang satu kepada istri yang lain sesuai kebutuhan
syahwatnya? Padahal wanita juga memiliki panggilan syahwat‘. Kita jawab,
wanita itu sebagaimana kebiasaan mereka wajahnya terlindungi oleh cadar dan
berada di rumah-rumah mereka, gejolak mereka pun lebih dingin dibanding
laki-laki, pergerakan lahir dan batin mereka lebih sedikit dibanding laki-laki,
oleh karena itulah lelaki yang diberi kekuatan dan gejolak panas yang merupakan
kunci penguasaan syahwat. Itu diberikan kepada laki-laki dalam jumlah yang
lebih besar. Bahkan kaum laki-laki pun mendapat cobaan karena hal itu, sedangkan
wanita tidak. Sehingga dimutlakkan bagi laki-laki berupa banyaknya jumlah
pernikahan yang bolehkan (dalam satu waktu) sedangkan wanita tidak. Ini adalah
hal yang dikhususkan dan dilebihkan oleh Allah untuk kaum laki-laki.
Sebagaimana juga Allah utamakan mereka dalam hal pengembanan risalah, kenabian,
khilafah, kerajaan, kepemimpinan hukum, jihad dan hal lainnya.
Allah juga menjadikan lelaki
pemimpin bagi wanita, yang berkewajiban menjaga maslahah istrinya dan menjalani
berbagai resiko dalam mencari penghidupan istrinya. Mereka menunggang kuda,
menjelajah gurun, menghadapi berbagai bencana dan ujian demi kemaslahatan sang
istri. Allah Ta’ala itu Syakuur (Sebaik-baik Pemberi Ganjaran) dan Haliim
(Maha Pemurah). Sehingga Allah memberi balasan kepada kaum lelaki berupa
kebolehan berpoligami, dan mengganti segala kesusahan mereka itu dengan
membolehkan hal-hal yang tidak dibolehkan bagi wanita. Dan anda yang berkata,
jika anda membandingkan antara cobaan bagi lelaki berupa lelah-letih, kerja
keras, kesusahan yang dialami kaum lelaki demi masalahat istrinya dengan cobaan
yang dialami kaum wanita yang berupa kecemburuan, anda akan dapatkan bahwa apa
yang dialami kaum lelaki itu jauh lebih besar kadarnya. Inilah salah satu
bentuk sempurnanya keadilan, kebijaksanaa dan kasih sayang Allah Ta’ala. Segala
puji bagi Allah sebab memang Dialah yang memiliki segala pujian” (I’laamul
Muwaqqi’in, 2/65-66)
3. Syahwat wanita lebih
besar dari syahwat lelaki
Karena syahwat wanita lebih besar
dari lelaki, maka bagi wanita tidak cukup hanya satu suami. Demikian bunyi
salah satu syubhat. Ibnul Qayyim membantah pernyataan ini: “Adapun perkataan
seseorang bahwa syahwat wanita lebih besar dari syahwat lelaki, ini tidak
benar. Syahwat itu sumbernya dari hawa panas. Hawa lelaki lebih panas dari
wanita. Namun wanita, jika ia sendiri, kesepian, dan ia tidak bisa menahan diri
dari hal-hal yang berhubungan dengan syahwat dan memuaskan dirinya, maka ia pun
dapat ditenggelamkan oleh syahwat sehingga syahwat menguasai dirinya. Ketika
tidak ada hal yang dapat menjadi pelampiasan, bahkan disertai perasaan
kesepian, maka bisa terjadi apa yang terjadi. Sehingga ketika itu disangkalah
bahwa syahwat wanita lebih besar dari laki-laki. Ini tidak benar. Telah
dibuktikan bahwa lelaki bisa mencampuri istrinya lalu mencampuri istrinya yang
lain dalam satu waktu.
كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –
يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ فِي اللَّيْلَةِ الْوَاحِدَةِ
"Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam
biasa menggilir istri-istrinya dalam satu malam."
Bahkan Nabi Yusuf menggilir 90 orang
istrinya dalam satu malam. Dan sudah kita ketahui bersama bahwa wanita biasanya
hanya memiliki satu kali klimaks. Jika seorang lelaki telah memuaskan seorang
wanita, hingga terpenuhi syahwatnya, dan hilang nafsunya, wanita tersebut tidak
akan meminta yang lain ketika itu. Maka, sifat demikian sesuai dengan hikmah
dari takdir Allah dan hikmah ketetapan syariat bagi hamba dan ummat” (I’laamul
Muwaqqi’in, 2/66) File Dokumen Fiqh Menjawab
Categories:
Syariah
0 komentar :
Post a Comment