Isyhad (Kesaksian Pada Jenazah)

Posted by Nasyit Manaf on Thursday, January 17, 2013 with No comments

Isyhad di kalangan kita mungkin sudah tidak asing lagi, dan memang tidak ada perbedaan pendapat tentang masalah ini. Hanya saja yang masih menjadi perbincangan hanyalah dalam penyampaiannya, terkadang ada sebagian orang yang menilai tentang teknis penyampaiannya dinilai agak memaksa. Seperti contoh, “Niki jenazah sahe nopo mboten?” serentak orang yang hadir menjawab dengan kata-kata “sae”.

Akan tetapi ada yang menyatakan Isyhad harus tahu persis dengan keadaan orang yang disaksikan ketika semasa hidupnya. Ketika semasa hidupnya orang yang disaksikan selalu berbuat tidak baik, akan tetapi dinyatakan bagus (sae, Jawa), berarti orang yang menyatakan bagus tersebut berbohong. Maka, untuk menyikapi hal yang demikian, ada baiknya bila dipilih redaksi yang bernada saran. Misalnya, “Hadirin, monggo sareng-sareng kito nekseni bilih jenazah puniko jenazah ingkang sahe.” Bisa juga contoh lainnya yang senada.

Adapun dalil tentang Isyhad adalah hadits Nabi saw berikut ini:

فَإِنْ رَأَىْ خَيْرًا سُنَّ ذِكْرُهُ لِيَكُوْنَ اَدْعَى لِكَثْرَةِ الْمُصَلِّيْنَ عَلَيْهِ وَالدُّعَاءُ لَهُ وَلِخَبَرِ إبْنِ حِبَّانَ وَالْحَكِيْمِ أُذْكُرُوْا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ وَكُفُّوْا عَنْ مَسَاوِيْهِمْ

Artinya: “Disunahkan menyebut kebaikan mayit apabila mengetahuinya, dengan tujuan untuk memintakan rohmat untuk mayit dan bedo’a untuknya”. Dan juga berdasarkan hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim, “Sebutlah kebaikan seorang yang meninggal dunia dan jangan sekali-kali membuka aibnya”. (Fathul Wahhab, juz I, hal 91)

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا مُسْلِمٌ شُهِدَ لَهُ أَرْبَعَةٌ بِخَيْرٍ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ فَقُلْنَا وَثَلاَثَةٌ ؟ قَالَ وَثَلاَثَةٌ فَقُلْنَا وَاثْنَانِ ؟ قَالَ وَاثْنَانِ ثُمَّ لَـمْ نَسْأَلُهُ عَنِ الْوَاحِدِ

Artinya:  Nabi saw bersabda, “Setiap muslim yang disaksikan sebagai orang baik oleh empat orang, maka Allah swt akan memasukannya ke dalam surga”. Lalu kami bertanya, “Bagaimana kalau tiga orang?” Nabi menjawab, “Walaupun tiga orang”. Lalu kami bertanya lagi, “Bagaimana kalau dua orang?” Nabi menjawab, “Walaupun dua orang”. Lalu kami tidak menanyakan bagaimana kalau satu orang yang menyaksikan kebaikan mayit”. (HR. Bukhori)

Jadi, dapat disimpulkan bahwa isyhad merupakan tuntunan yang telah diajarkan Rasulullah saw dan patut kita lestarikan.
Categories: