Hukum Menghadiri Undangan Non Muslim

Posted by Nasyit Manaf on Thursday, December 11, 2014 with No comments

Tidak jarang seorang muslim mendapat undangan acara dari non muslim, baik acara resepsi pernikahan, ulang tahun, dan lainnya. Disisi lain hukum menghadiri suatu undangan hukumnya wajib. Apabila undangan tersebut berasal dari non muslim, maka hukum menghadirinya ditafsil, yaitu:
a. Boleh, apabila kedatangannya sebatas memenuhi undangan tanpa ada perasaan senang terhadap mereka atau agamanya atau munkarat-munkarat (kemaksiatan) yang lain.
b. Haram, bahkan bisa menjadi kufur apabila kedatangannya disertai perasaan seperti senang terhadap mereka atau agamanya atau munkarat-munkarat yang lain.


واعلم أن كون المؤمن موالياً للكافر يحتمل ثلاثة أوجه أحدها : أن يكون راضياً بكفره ويتولاه لأجله ، وهذا ممنوع منه لأن كل من فعل ذلك كان مصوباً له في ذلك الدين ، وتصويب الكفر كفر والرضا بالكفر كفر ، فيستحيل أن يبقى مؤمناً مع كونه بهذه الصفة . وثانيها : المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر ، وذلك غير ممنوع منه . والقسم الثالث : وهو كالمتوسط بين القسمين الأولين هو أن موالاة الكفار بمعنى الركون إليهم والمعونة ، والمظاهرة ، والنصرة إما بسبب القرابة ، أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه ، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه ، وذلك يخرجه عن الإسلام

“Ketahuilah bahwa orang mu'min menjalin sebuah ikatan dengan orang kafir berkisar pada tiga hal. Pertama, ia rela atas kekufurannya dan menjalin ikatan karena faktor tersebut. Hal ini dilarang karena kerelaan terhadap kekufuran merupakan bentuk kekufuran tersendiri. Kedua, interaksi sosial yang baik dalam kehidupan di dunia sebatas dlahirnya saja. Ketiga, tolong-menolong yang disebabkan jalinan kekerabatan atau karena kesenangan, disertai sebuah keyakinan bahwa agama kekafirannya adalah agama yang tidak benar. Hal tersebut tidak menjerumuskan seorang mukmin pada kekafiran, tetapi ia tidak diperbolehkan (menjalin ikatan di atas). Sebab jalinan yang semacam ini (nomer 3) terkadang memberi pengaruh untuk memuluskan jalan kekafiran dan kerelaan terhadapnya. Dan faktor inilah yang dapat mengeluarkannya dari Islam." (Tafsir Nawawi juz 1 hal 94 - Tafsir Razi juz 8 hal 10-11)



وَإِنَّمَا تَجِبُ الْإِجَابَةُ أَوْ تُسَنُّ ( بِشُرُوطٍ مِنْهَا إسْلَامُ دَاعٍ وَمَدْعُوٍّ ) فَيَنْتَفِي طَلَبُ الْإِجَابَةِ مَعَ الْكَافِرِ لِانْتِفَاءِ الْمَوَدَّةِ مَعَهُ نَعَمْ تُسَنُّ لِمُسْلِمٍ دَعَاهُ ذِمِّيٌّ لَكِنَّ سَنَّهَا لَهُ دُونَ سَنِّهَا لَهُ فِي دَعْوَةِ مُسْلِمٍ.... ( قَوْلُهُ مِنْهَا إسْلَامٌ دَاعٍ إلَخْ ) وَمِنْهَا أَنْ لَا يَكُونَ الدَّاعِي فَاسِقًا أَوْ شِرِّيرًا طَالِبًا لِلْمُبَاهَاةِ وَالْفَخْرِ.... ( قَوْلُهُ فَيَنْتَفِي طَلَبُ الْإِجَابَةِ ) أَيْ وُجُوبُ ذَلِكَ أَوْ نَدْبُهُ مَعَ الْكَافِرِ أَيْ دَاعِيًا كَانَ أَوْ مَدْعُوًّا لَكِنَّهُ إنْ كَانَ دَاعِيًا وَالْمَدْعُوُّ مُسْلِمًا كَانَ انْتِفَاءُالطَّلَبِ عَنْ الْمُسْلِمِ ظَاهِرًا ، وَإِنْ كَانَ بِالْعَكْسِ كَانَ انْتِفَاءُ الطَّلَبِ عَنْ الْكَافِرِ غَيْرَ ظَاهِرٍ بِنَاءً عَلَى أَنَّهُ مُخَاطَبٌ بِالْفُرُوعِ ..... ( قَوْلُهُ دَعَاهُ ذِمِّيٌّ ) أَيْ ، وَقَدْ رُجِيَ إسْلَامُهُ أَوْ كَانَ رَحِمًا أَوْ جَارًا وَإِلَّا لَمْ تُسَنَّ بَلْ تُكْرَهُ ا هـ ح ل .

“Dan diwajibkannya atau disunnahkannya menghadiri walimah (resepsi) dikarenakan beberapa syarat. Di antaranya adalah, Islamnya pihak pengundang dan yang diundang. Maka tidak ada tuntutan untuk menghadiri undangan dari orang kafir, karena ketiadaan rasa kasih sayang bersama mereka. (Tetapi) disunnhakan bagi orang Islam untuk mengundang kafir dzimmi (kafir yang berada di bawah kekuasaan Negara Islam), tetapi nilai kesunnahan mengundangnya berada satu tingkat di bawah kesunnahan mengundang orang Islam lainnya."

“(Ungkapan Pengarang “Islamnya pengundang”). Di antaranya pula, pihak pengundang bukan orang fasiq maupun orang buruk yang mencari jabatan dan pangkat”.

“(Ungkapan Pengarang “Tidak ada tuntutan”). Yakni, (tidak) wajib dan (tidak sunnah), baik orang kafir tersebut sebagai pengundang atau yang diundang, tetapi apabila ia sebagai pengundang dan orang Islam sebagai tamu yang diundang, maka ketiadaan tuntutan tersebut sudah jelas. Sebailknya, ketiadaan tuntutan menghadiri (undangan) dari orang kafir masih belum jelas”.

“(Ungkapan Pengarang “Mengundang kafir dzimmi”). Yakni, ada harapan agar dia masuk Islam atau karena dia sebagai kerabat atau tetangga. Jika tidak, maka tidak disunnahkan bahkan makruh (Syaikh Chalibi)." (Hasiyah Jamal juz 4 hal 272-273)
Categories: