Cinta Yang (Tidak) Diridlai

Posted by Nasyit Manaf on Sunday, February 01, 2015 with No comments
Tentang cinta, Al-Ghazali mengatakan bahwa sesunggunya kecintaan kepada Sang Khaliq, Allah Azza Wa Jalla adalah tujuan puncak dari seluruh maqam dan kedudukan yang paling tinggi. Karena, setelah diraihnya mahabbah, tidak ada lagi maqam lain kecuali buah dari mahabbah itu, seperti maqam syauq (kerinduan), uns (kemesraan), ridla, dan lain-lain. Artinya, tidak ada maqam sebelum mahabbah kecuali pengantar-pengantar kepada mahabbah itu, seperti taubat, sabar, zuhud, menjauhi dosa, dan meninggalkan kemaksiatan, serta lainnya.


Begitu halnya dengan kecintaan manusia terhadap manusia lain terutama kecintaan terhadap lawan jenis. Mahabbah terhadap lawan jenis bisa mencapai puncaknya, dengan disertai buah dari mahabbah itu berupa kerinduan dan kemesraan haruslah melewati tahapan-tahapan proses menuju ke arah itu. Kesabaran, pengorbanan, ikhtiar, tawakkal merupakan sebagian tahapan (maqam) berproses mendapatkan kecintaan terhadap pasangan kita kelak yang benar-benar diridlai-Nya, yaitu pernikahan.

Seandainya, manusia saat ini bisa merasakan mahabbah dengan kerinduan dan kemesraan terhadap pasangan lawan jenis, apalagi bukan yang berstatus "halal" tanpa melewati pengantar-pengantar kepada mahabbah itu, maka perlu dipertanyaakan; Apakah itu mahabbah yang diridlai Tuhan?
Categories: