Sawang-Sinawang

Posted by Nasyit Manaf on Tuesday, February 03, 2015 with No comments
Urip iku mung sawang-sinawang, pepatah Jawa ini sebenarnya ingin menyatakan bahwa orang hidup di dunia ini hanyalah saling memandang. Artinya, saling menilai, menakar, menduga, dan mengimajinasikan. Bisa saja, pandangan atau cara melihat kita kepada orang tersebut itu pas dan bener sesuai realitanya, atau mungkin malah salah dan meleset. 

Melihat orang kaya dengan mobilnya kita akan berasumsi tentang nikmat dan senangnyanya kehidupan orang tersebut, tetapi belum tentu hidupnya bahagia seperti pandangan atau dugaan kita. Sebaliknya, melihat (maaf) para pengemis, gelandangan, akan menyangka iba dan kasihan pada takdir yang menimpa mereka, padahal keceriaan dan kebahagiaan hidup justru mereka rasakan.


Simpelnya kalo diucapkan, "Koyone sing ndelok kepenak, sing nglakoni durung mesti kepenak. Sing ndelok koyone rak kepenak, tapi sing nglakoni kepenak." Syukuri saja apa yang kita alami dan kita punyai, sing penting eling karo Sing Ngecet lombok abang.

Dulupun Aisyah ra. juga menyawang akan nikmatnya hidup Sang Suaminya tatkala beliau sedang mengerjakan sholat tahajud sampai membuat kaki Rasulullah bengkak yang disebabkan karena Nabi berdiri terlalu lama. ‘Aisyah melihat hal tersebut dan berkata kepada Nabi, "Wahai Rasul, mengapa engkau selalu melakukan ini di malam hari, sedangkan hal ini bukanlah suatu kewajiban? Dan juga, bukankah semua dosa-dosamu baik yang akan datang ataupun dosa yang telah lalu akan diampuni oleh Allah?" Rasulullah Nabi Muhammad Saw. pun tersenyum dan beliau berkata, "Apakah salah apabila aku ingin menjadi Hamba Allah yang bersyukur?"

Mari sawang sinawang, semua orang punya masalah dan cobaannya masing-masing, ibarat roda berputar, suatu saat berada di atas dan suatu saat lagi ada kalanya mecicipi rasanya di bawah. Tetap bersyukur dan do the best.
Categories: