Memalukan Malu
Posted by
Unknown
on
Saturday, March 01, 2014
with
No comments

Saat Syaikh Hatim menyaksikan hal itu, beliau berpura-pura tidak mendengarnya. Beliau berkata, "Keraskan suaramu, karena aku agak tuli." Mendengar hal itu, perempuan itu bahagia dan meyangka bahwa Syaikh benar-benar tuli dan tidak mendengar suara kentutnya. Demi menjaga martabat itu, Syaikh Hatim dalam beberapa tahun berlagak menjadi tuli sampai wanita itu meninggal sehingga beliau dijuluki Hatim al 'Ashom (tuli). [Qami'ut Thughyan]
Sungguh mulia akhlak Syaikh Hatim yang senada
dengan perintah Rasul, "Barangsiapa menutupi aib (kejelekan) seorang
muslim, maka Allah akan menutupi aibnya kelak di hari kiamat." [HR.
Muslim] Begitu juga perempuan tersebut, masih punya rasa malu yang menandakan
masih adanya iman. Sabda Nabi, "Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Dan
malu adalah salah satu cabang iman." [HR. Muslim]
Bukan hanya di dunia nyata. Tidak sedikit kita
jumpai di dunia maya atau media-media sosial, saudara-saudara kita dengan tanpa
rasa malu mempublikasikan gambar-gambar yang sebenarnya tidak pantas untuk
konsumsi umum. Aurat yang seharusnya ditutupi rapat, photo mesra tanpa status
yang sah bukan lagi menjadi malu diketahui orang lain, bahkan mungkin menjadi
suatu kebanggan baginya padahal sesuatu yang memalukan (ngisin-ngisinke: jawa).
Nasihat Rasul saw, "Jika engkau sudah tidak
punya rasa malu, berbuatlah sekehendakmu." [HR. Bukhari]
Categories:
Tausyiyah
0 komentar :
Post a Comment