19. Hatiku, Hatimu, dan Hati Kita

Posted by Nasyit Manaf on Saturday, March 08, 2014 with No comments
Hati (al-Qalb) adalah bagian dari manusia yang mampu memahami, mengerti, merasakan dan sebagainya. Menurut Al Ghazali, hati memiliki dua sisi. Satu sisi menghadap alam ghaib, sedang sisi satunya lagi menghadap alam nyata. Jika boleh diistilahkan maka sisi hati yang menghadap alam ghaib distilahkan dengan "Perasaan" dan sisi hati yang menghadap alam nyata (dunia) dengan istilah "Pikiran". Dengan begitu kita bisa mendefinisikan hati sebagai totalitas Perasaan dan Pikiran.

Hubungan Perasaan dan Pikiran itu laiknya seperti hubungan istri dan suami dalam kehidupan rumah tangga. Perasaan seperti seorang istri dan pikiran layaknya seorang suami yang saling terikat satu sama lain. Hubungan perasaan dan pikiran itu menciptakan dua buah fenomena hati dalam kehidupan.

Fenomena hati yang pertama, "Apa yang terasa di dalam hati maka itulah yang akan dipikirkan." Fenomena hati yang kedua, "Apa yang terpikirkan di dalam hati maka itulah yang akan dirasakan." Pikiran berfungsi menghadap dunia untuk memperoleh pengetahuan tentang berbagai hal dan peristiwa di dalamnya. Pengetahuan berbagai hal dan peristiwa di dunia itu oleh Pikiran akan "dinafkahkan" kepada Perasaan sebagai Istrinya.

Bila pengetahuan itu bermanfaat maka Perasaan itu menjadi bahagia, tentram, damai dan tenang. Bila Pengetahuan itu tidak bermanfaat maka Perasaan itu menjadi susah, sedih, gelisah dan resah. Bahagia, tentram, damai, tenang, susuah sedih, gelisah dan resah itu semua disebut "Suasana Hati".

Kita akan berbicara kepada Allah dengan Suasana Hati. Perhatikanlah Suasana Hati kita saat dihadapkan ke alam ghaib. Al-Ghazali menerangkan bahwa buah dari Pikiran itu: 1) Pengetahuan, 2) Suasana Hati dan, 3) Tindakan. Dalam pandangan Al-Ghazali, tindakan mengikuti suasana hati. Suasana hati mengikuti pengetahuan. Pengetahuan mengikuti pikiran. Jika begitu, pikiran itu itu adalah dasar dan pembuka semua kebaikan. Pengetahuan diri itu akan menentukan suasana hati. Sedangkan suasana hati itu akan menentukan tindakan di dunia.

Menurut Al-Ghazali lagi, keberhasilan dan kegagalan dari sebuah tindakan di dunia ini sangat ditentukan oleh suasana hati. Kualitas dari suasana hati ditentukan dari kualitas pengetahuan yang dimasukan oleh pikiran ke dalam perasaan. Hubungan harmonis suatu pikiran dan perasaan itu akan melahirkan tindakan luar biasa di Dunia, baik tindakan yang baik maupun buruk.

Sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadits, "Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula wajah kalian tapi Dia memandang pada Hati kalian." [HR. Muslim] Dalam setiap ibadah, sesungguhnya manusia menghadapkan sisi hatinya kepada Allah. Tentu saja orang bijak akan menghadapkan hatinya dengan suasana hati penuh dengan kebahagiaan, ketenangan dan keimanan. Pastinya Allah akan memberikan ketenangan dari sisi-Nya bila suasana hati itu penuh dengan kebahagiaan dan sebagainya.
Categories: